Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Orang Kaya Sibuk Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Anisa Dewi Anggriaeni oleh Anisa Dewi Anggriaeni
5 Maret 2020
A A
Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Orang Kaya Sibuk Panic Buying, Orang Miskin Cuma Bisa Nontonin

Share on FacebookShare on Twitter

Di beberapa media dikabarkan orang-orang seperti esok mau kiamat, belanja habis-habisan. Wujud dari bentuk panik dan takut, sebutan yang lebih familiarnya panic buying. Siapa pembeli-pembeli itu? Orang-orang kaya lah. Orang-orang miskin tak sempat harus stok makanan dan memborong atau menimbun masker. Yang ada di pikirannya, bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Orang-orang miskin lebih santai menghadapi wabah ini, tetap bekerja sebagaimana mestinya, tidak buru-buru ke supermarket atau minimarket terdekat, mereka terbiasa dengan ritme hidup yang cukup keras, kematian dan kehidupan tidak lagi dihadapi dengan ketakutan. Karena jaraknya yang dekat dan tipis sekali. Bukan tidak khawatir, tapi kami sudah biasa ketar-ketir dan menjalani hidup seperti biasa.

Meski hari ini tanggal muda, tapi bagi saya yang tergolong sobat miskin, tidak memiliki pengaruh apa pun. Entah tanggal tua, tanggal muda sama saja. Boro-boro ikutan panic buying mending uangnya ditabung buat hal lain, itu pun kalau masih ada yang bisa ditabung. Hidup begitu getir dan hanya itu yang saya punya. Ketimpangan kelas hari ini sudah setinggi leher.

Bukan berarti tidak peduli dengan kesehatan, saya tetap menjaga agar tetap steril minimal cuci tangan pakai sabun sampai berbusa. Para tetangga saya juga cukup rileks menanggapi ini, mereka tetap ngobrol di lincak, anak-anak bermain lari-larian, pesawat-pesawatan, kucing-kucingan. Benar kata bapak saya, hidup di desa itu ngga kemrusuh, adem, ayem, tentram sambil tetap saling mengingatkan untuk jaga kesehatan.

Ingat corona, ingat masker. Selang beberapa hari setelah pengumuman WNI positif Corona, banyak orang mencari-cari masker. Tak lama kemudian kita mengalami kelangkaan barang ini, disusul hand sanitizer. Tapi ada hal yang bikin saya serasa jantungan; harga jual masker melonjak.

Di beberapa situs belanja online Sensi masker di bandrol 379 ribu, sensi mask duckbill 650 ribu, masker Headloop wanita 399 ribu. Tak ketinggalan, harga masker wajah yang bikin glowing mencapai 73 ribu padahal biasanya hanya berkisar 20 ribu.

Bisa apa sobat miskin yang tak sanggup membeli masker karena harganya yang tidak manusiawi. Lebih mahal dari beras yang satu kilonya hanya kisaran 10-13 ribu di warung-warung dekat rumah. Bisa sih, ibu saya penjahit, bikin masker dari sisa-sisa bahan atau kain perca. Gratis.

Belum lagi mereka yang menimbun. Penimbunan ditemukan di beberapa tempat, sejauh yang saya tahu di Tangerang, Semarang dan Jakarta Barat. Bukan tak mungkin, di kota-kota lain juga banyak.

Baca Juga:

5 Alasan Orang Kaya Ingin Terlihat Miskin, Menghindari Pajak Bukan Satu-satunya!

6 Alasan Orang Kaya Bayar Pakai Kartu Kredit padahal Bergelimang Duit

Penimbunan dilakukan tentu saja dengan berbagai motif. Ada yang sengaja menimbun untuk kemudian dijual dengan harga yang melambung, ada yang akan memasok ke luar negeri karena cuannya lebih tinggi. Di tengah krisis semacam ini ada saja yang mencari-cari kesempatan dalam celah yang sudah sangat sempit, alias menimbun untung. Dasar oportunis akut!

Ada yang lebih membutuhkan masker dari kita-kita yang sehat, mereka yang sakit, mereka yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi, mereka yang pekerjaannya menyusuri jalan, ah sumpah yah persetan dengan yang menimbun dan menaikkan harga! Rasa-rasanya pantas dikirim ke neraka jahanam.

Pernyataan WHO yang barangkali sanggup meredam kepanikan publik yang menyatakan bahwa penggunaan masker tidak menjamin pengehentian infeksi. Karena masker saja tidak cukup harus dikombinasikan dengan kebersihan tangan, pernapasan dan jaga jarak satu meter dengan pasien. Singkatnya, pola hidup steril juga sangat berpengaruh terhadap sistem imun tubuh.

Kembali lagi soal panic buying, berdasarkan beberapa laporan gerai dan ritel pembelian sembako, makanan dan obat-obatan meningkat dalam waktu singkat. Bukan hanya di Indonesia, Panic buying atau panik belanja ini terjadi di beberapa negara lain seperti Italia, Jeman. Austria, China, Hongkong, Korea Selatan dan berbagai negara lainnya.

Mereka yang terjangkit panic buying kehilangan kontrol atas diri mereka, lalu melakukan apa yang perlu mereka lakukan. Sederhananya begini mereka membeli sembako dan obat-obatan tidak akan membantu mereka dalam posisi lebih aman tapi memberi rasa tenang dan memegang kontrol. Kelakuan orang-orang berduit.

Selain itu ketika merasa terancam, amygdala atau bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi menjadi kelewat aktif. Apa yang terjadinya selanjutnya? Matinya kerasionalan.

Panic buying dilakukan sebagai bentuk antisipasi bila virus corona semakin meluas dan mendapati diri di karantina atau ditutupnya fasilitas publik. Padahal pemerintah sendiri sudah menyatakan stok pangan cukup, jadi tidak perlu lah belanja berlebihan karena panik. Akibat  kepanikan yang menjalar ini memunculkan peluang kenaikan harga yang semakin tinggi atau terjadinya inflasi. Yap, kita dicekik saudara sendiri.

BACA JUGA Apa Kemanusian Kita Sebegitu Rendahnya Sampai Musibah Virus Corona Dibisnisin Juga? atau tulisan Anisa Dewi Anggriaeni lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2020 oleh

Tags: ketimpanganorang kayaOrang Miskinpanic buyingvirus corona
Anisa Dewi Anggriaeni

Anisa Dewi Anggriaeni

Makan bubur tanpa diaduk, makan soto dengan nasi terpisah.

ArtikelTerkait

luar rumah

Rasanya Jadi Anak yang Orang Tuanya Harus Tetap Bekerja di Luar Rumah

10 April 2020
Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

Pengalaman Saya Sidang Proposal Online karena Harus Sosial Distance

19 Maret 2020
Lebih Sedih Ditolak Kampung Halaman Ketimbang Ditolak Gebetan

Lebih Sedih Ditolak Kampung Halaman Ketimbang Ditolak Gebetan

25 Maret 2020
Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

Balada Hidup di Jogja: Hidup Susah, Mati Lebih Susah

29 Juli 2022
irasional wabah covid-19 Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

21 Maret 2020
rakyat kecil, kemiskinan, acara tv

Bodo Amat Soal Kebijakan, Rakyat Kecil Maunya Cuma Bisa Makan

7 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Selempang Cum Laude untuk Wisuda: Penting, tapi Tidak Sepenting Itu biaya wisuda, malang, kampus di malang

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

8 Juni 2026
Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian  Mojok.co

Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian 

6 Juni 2026
Lampung Bukan Tempat Merantau untuk Orang Lemah

Lampung Itu Nama Provinsi, Bukan Nama Kota. Pas SD Pernah Belajar IPS Nggak sih?

8 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
Panduan Mengenali Bakso Malang yang Asli dari Kera Ngalam, biar Kalian Nggak Kena Tipu

Susahnya Jadi Arek Malang di Jakarta: Berniat Mengobati Homesick Lewat Bakso Malang, eh yang Jual Malah Orang Tasik

4 Juni 2026
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.