Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Seandainya Pohon dan Hewan Bisa Komentar Soal Banjir Jakarta dan Virus Corona

Erwin Setia oleh Erwin Setia
30 Januari 2020
A A
Seandainya Pohon dan Hewan Bisa Komentar Soal Banjir Jakarta dan Virus Corona
Share on FacebookShare on Twitter

Awal tahun 2020 barangkali adalah salah satu awal tahun termuram yang pernah ada dalam sejarah. Sejak malam pergantian tahun, berita buruk seakan tak henti-henti menghampiri kita. Banjir di sejumlah tempat di Indonesia, kebakaran hutan gigantik di Australia, isu perang dunia ketiga, hingga mewabahnya virus corona di China.

Lantas, apa yang harus kita—selaku umat manusia—lakukan menyikapi segala musibah ini? Hal pertama yang semestinya kita lakukan adalah membuka mata dan becermin. Boleh jadi pelbagai musibah yang silih berdatangan itu muasalnya dari kita. Kebiasaan buruk kita yang tak peduli pada lingkungan, sesuatu yang sering kali kita anggap sepele, pada kemudian hari bisa membawa kita kepada nasib buruk yang tak pernah kita duga.

ADVERTISEMENT

Lalu, apa lagi yang harus dilakukan setelah membuka mata? Tentu saja membuka telinga. Menyediakan telinga untuk mendengarkan suara-suara alam yang jarang kita acuhkan.

Berhubung kita sudah sering mendengar pernyataan para ahli terkait bencana dan wabah, maka sekali-kali perlulah kita mendengar suara dari pihak lain, yaitu pohon dan hewan. Dua makhluk yang jasanya sepanjang masa. Kalau guru kita sebut “pahlawan tanpa tanda jasa”, hewan dan pohon bolehlah kita sebut “pahlawan yang tanda jasanya ada di mana-mana”.

Bagaimana tidak? Kita bernapas, makan, minum, berpakaian, bikin rumah, dan lain sebagainya itu berkat eksistensi pohon dan hewan. Coba kalau tidak ada pohon, memang kita mau bikin pakaian dari apa? Dari angin dan pemandangan senja, gitu? Lalu, kalau kita tidak ada hewan, dengan apa kita mencukupi kebutuhan protein? Yakali makan tanah dan batu. Alih-alih sehat, yang ada keselek dan tubuh kita lama-lama jadi arca.

Demi fakta itulah, saya menyusun wawancara imajinatif bersama pohon-pohon dan hewan-hewan. Spesifiknya pohon-pohon di kawasan Monas yang habis ditebang dan hewan-hewan liar yang hidup di Wuhan, China dan ditengarai sebagai musabab awal munculnya virus corona. Karena jumlahnya mereka banyak banget, saya hanya mewawancarai perwakilan mereka.

Berikut hasil wawancara saya bersama pohon dan hewan yang saya lakukan di tempat rahasia dan tak diliput media mana pun:

Saudara Pohon, apa tanggapan Anda setelah ditebang dari kawasan Monas?

Baca Juga:

Ironi Pembangunan Kota Malang: Sukses Meniru Jakarta dalam Transportasi, tapi Gagal Menghindari Banjir

Jangan Naik Transjakarta Saat Hujan Lebat kalau Nggak Mau Terjebak Selamanya

Pohon: Tentu saya kecewa. Bagaimanapun saya dan kawan-kawan telah hidup di sana selama bertahun-tahun. Kami juga tidak pernah mengganggu siapa-siapa. Kami tidak pernah korupsi, tidur ketika rapat, atau punya nafsu untuk memiliki jabatan tertentu. Lah, namanya saja pohon ya, Mas. Yang penting buat kami sih bisa hidup bebas dan berbahagia. Lagipula keberadaan kami ini juga untuk kebaikan umat manusia dan alam semesta. Jadi, mengutip ungkapan Pak SBY, kami prihatin dengan ditebangnya kami. FYI aja nih, Mas, sama kayak manusia tidak ada suka yang rumahnya digusur, kami juga tidak suka kalau kami ditebang. Sakit, Mas, sakit.

Omong-omong, tak lama setelah Anda dan kawan-kawan, area sekitar Monas tiba-tiba menjadi banjir. Ada yang bilang ini akibat Pemprov DKI sembarangan menebang Anda sekalian. Apa Anda sudah punya firasat tertentu?

Pohon: Sebetulnya kami sebagai pohon tidak pernah punya itikad buruk. Kami tidak diciptakan untuk itu. Kami diciptakan untuk menaungi dan memberi keteduhan. Perkara setelah kami ditebang lalu ada banjir, ya itu sih, mengutip Pak Anies, sudah sunnatullah, Mas. Lagian pakai nebang-nebang kami. Apa nggak ada kerjaan lain gitu yang lebih berfaedah? Menebang anggaran bermasalah dan birokrat korup, misalnya.

Lho, kok Anda tau soal anggaran dan birokrat korup?

Pohon: Biar gimana-gimana, kami ini udah tinggal lama di Jakarta. Jadi ane udah pahamlah sifat ente-ente sekalian.

(Saya mengucapkan terima kasih kepada Pohon dan beralih mewawancarai sosok lain yang telah menunggu di seberang, seekor kelelawar atawa kampret yang tidak bisa mengendarai motor keren karena ia bukan Batman dan tidak fanatik terhadap capres tertentu karena ia bukan “kampret” yang itu.)

Apa kabar, Saudara Kampret, gimana perjalanan Anda dari Wuhan, lancar?

Kampret: Ucap Gong Xi Fat Cai dulu dong, Mas. Kan masih momen Imlek.

Gong Xi Fat Cai, Saudara Kampret.

Kampret: Nah, gitu. Tadi Anda nanya apa?

(Saya curiga perjalanan ribuan kilometer dari Wuhan bikin kampret satu itu memiliki gangguan ingatan, tapi biarlah, saya langsung nanya ke intinya saja)

Ah, tidak perlu. Langsung saja. Bagaimana tanggapan Saudara Kampret soal virus corona yang lagi menggemparkan dunia?

Kampret: Ah, Anda ini sama saja seperti yang lain, ya. Semuanya ngomongin soal virus corona. Soal keberlangsungan hidup umat manusia. Tapi nggak ada tuh yang nanyain gimana kabar saya dan kawan-kawan. Padahal kami ini sudah lama terzalimi. Diburu, dijadiin makanan, eh pas udah mati dan masuk lambung pemakan kami, masih pula kami dijadikan sebagai biang kerok virus baru. Aduh, begini amat ya hidup jadi kampret.

Duh, maafkan saya Saudara Kampret. Kalau begitu, coba ungkapkan uneg-uneg Anda menyoal virus corona ini?

 Kampret: Begini, Mas. Saya mewakili teman-teman saya dari kalangan sesama kampret, ular, tikus, musang, luwak, kura-kura, luwak, dan lain-lain. Saya ingin ngasih tahu kepada umat manusia bahwa tidak semua hewan itu boleh dan cocok untuk dimakan. Kami ini hewan liar. Sudah banyak juga yang memperingatkan bahwa keberadaan kami bukan untuk dimakan. Jadi, kalau kemudian ada wabah yang konon disebabkan oleh kami, jangan nyalah-nyalahin kami, dong. Salahin tuh pemerintah yang kurang giat mengingatkan warganya. Namun, sebagai kampret yang masih menjunjung tinggi peri kekampretan, tentu kami tidak mau tertawa di atas penderitaan makhluk lain. Kami berdukacita atas terjadinya wabah corona ini. Kami berharap umat manusia yang konon pintar itu segera mendapatkan cara mujarab untuk mengatasinya. Udah sih gitu aja.

Apa ada hal lain yang ingin disampaikan, Saudara Kampret?

Kampret: Nggak ada, sih. Tapi tadi saya ketemu orang di jalan, dia nanyain saya soal politik. Lha saya tabrak aja tuh mukanya. Lagian, kampret kok diajakin ngomongin politik. Kalau diajak diskusi supaya bisa jadi kampret yang keren dan rupawan kayak Batman, mungkin saya bersedia.

(Saya mengucapkan terima kasih kepada pohon dan kampret. Lalu, saya mengajak foto mereka berdua. Kemudian saya bilang: “Saudara Pohon dan Saudara Kampret, nanti kalau setelah wawancara ini kalian jadi viral, gimana?” Serentak mereka menjawab, “Viral itu apa sih, Mas?” Saya tidak menanggapinya lagi. Saya langsung pulang dan berharap semua pohon dan hewan—khususnya kampret—di dunia ini berbahagia).

BACA JUGA Kehebohan Virus Corona dan Virus Kebencian untuk China yang Berlabelkan Agama atau tulisan Erwin Setia lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2022 oleh

Tags: banjir jakartakelelawarpohonvirus corona
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

ArtikelTerkait

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

Dear Pemda Karawang, Karawang Butuh Pohon yang Banyak, Bukan Tanaman Hias Unyu Nirfaedah!

12 Agustus 2023
Apa Kemanusian Kita Sebegitu Rendahnya Sampai Musibah Virus Corona Dibisnisin Juga?

Apa Kemanusian Kita Sebegitu Rendahnya Sampai Musibah Virus Corona Dibisnisin Juga?

5 Maret 2020
Emang Paling Benar Masalah Banjir Tuh Menyalahkan Orang, Yok Saling Nyalahin Yok

Emang Paling Benar Masalah Banjir Tuh Menyalahkan Orang, Yok Saling Nyalahin Yok

3 Januari 2020
social distancing

Paradoks Social Distancing buat Pelaku UMKM yang Terpaksa Mecat Pekerjanya

26 Maret 2020
Bung Jokowi, Saya Sangat Meragukan Komitmen Situ Tentang Demokrasi, berdamai dengan corona

Menebak Maksud Presiden Jokowi yang Nyuruh Kita “Berdamai dengan Corona”

10 Mei 2020
irasional wabah covid-19 Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

21 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja Mojok.co

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja

29 Juni 2026
Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau Mojok.co

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

24 Juni 2026
Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya Mojok.co

Stereotipe FEB Unila Lampung yang Sebaiknya Jangan Dipercaya, Cuma Bikin Beban Mahasiswanya

30 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.