Saya rasa kuliner Semarang mesti masuk daftar kalau ada kompetisi kota dengan nama makanan paling unik. Soalnya, beberapa kuliner kota ini punya nama yang terdengar aneh, membingungkan, bahkan kadang membuat orang-orang berasumsi yang tidak-tidak.
Sebagai orang yang tidak lahir dan besar di Semarang, saya pernah beberapa kali terkecoh. Belum mencicipi makanannya saja, imajinasi saya sudah berkelana ke mana-mana gara-gara namanya. Ada yang saya kira berbahan tertentu, ada yang saya sangka nama hewan. Bahkan, ada yang terdengar seperti istilah yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan makanan.
Setelah tinggal di Jawa Tengah dan cukup sering berkunjung ke Semarang, saya baru sadar bahwa masalahnya bukan pada makanannya, melainkan pada saya yang terlalu cepat berasumsi.
Berikut 5 kuliner Semarang yang sering membuat orang luar kota salah kaprah hanya karena namanya.
#1 Wingko babat, kuliner Semarang yang sering dikira berisi babat sapi
Ini salah paham paling legendaris. Saat pertama kali mendengar nama wingko babat, saya langsung berpikir bahwa kuliner ini ada hubungannya dengan babat sapi. Mungkin semacam camilan gurih berbahan jeroan atau makanan tradisional yang menggunakan babat sebagai bahan utama.
Ternyata saya salah total.
Wingko babat justru merupakan kue tradisional berbahan kelapa parut, tepung ketan, dan gula. Rasanya manis, teksturnya legit, dan sama sekali tidak ada unsur babat sapi di dalamnya.
Kata “babat” pada wingko babat sebenarnya merujuk pada nama daerah di Kabupaten Lamongan yang menjadi tempat berkembangnya kuliner tersebut. Namun, karena wingko sangat identik dengan Semarang, banyak orang menganggapnya sebagai salah satu oleh-oleh khas kota ini.
Bayangkan saja betapa bingungnya orang yang belum pernah mencobanya. Sudah membayangkan aroma jeroan, yang datang malah kue manis untuk teman minum teh.
Baca juga Kuliner Semarang Timur yang Wajib Dikunjungi agar Makin Mengenal Semarang secara Lengkap.
#2 Tahu gimbal yang dikira ada hubungannya dengan rambut
Kalau pertama kali mendengar nama tahu gimbal, saya yakin banyak orang akan membayangkan tahu yang dijual oleh seseorang berambut gimbal. Bahkan, lebih ekstrem, ada yang mengira makanan ini diberi nama karena bentuk tahunya menyerupai rambut gimbal.
Faktanya, “gimbal” dalam tahu gimbal merujuk pada bakwan udang yang menjadi salah satu komponen utama hidangan tersebut. Bentuk bakwan udang yang tidak beraturan dianggap mirip rambut gimbal sehingga akhirnya disebut gimbal.
Tahu gimbal sendiri terdiri dari tahu goreng, lontong, kol, tauge, telur, bakwan udang, lalu disiram saus kacang yang khas.
Masalahnya, penjelasan ini baru diketahui setelah mencobanya. Sebelum itu, nama “tahu gimbal” memang terdengar seperti nama makanan yang diciptakan secara spontan tanpa rapat terlebih dahulu.
#3 Soto Bangkong yang bikin orang mengira isinya katak
Sebagai orang luar kota, saya pernah benar-benar mengira soto Bangkong adalah soto yang berbahan dasar katak.
Jangan tertawa. Saya yakin saya tidak sendirian.
Soalnya dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia sehari-hari, bangkong memang sering digunakan untuk menyebut katak berukuran besar. Jadi ketika mendengar ada menu bernama soto bangkong, pikiran langsung menuju ke sana.
Padahal kenyataannya tidak demikian. Soto Bangkong adalah nama sebuah soto legendaris di Semarang yang mengambil nama dari kawasan Bangkong, salah satu wilayah yang cukup terkenal di kota tersebut.
Isi sotonya ya soto pada umumnya, menggunakan daging ayam dengan kuah bening yang gurih. Tidak ada katak, kodok, ataupun hewan amfibi lain yang ikut terlibat dalam proses memasaknya.
Meski begitu, nama ini tetap sukses membuat banyak pendatang bertanya-tanya sebelum akhirnya mendapatkan penjelasan.
Baca juga Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang, Kota Ini Super Keras!
#4 Babat gongso, kuliner Semarang yang dikira nama hewan langka
Kalau wingko babat membuat orang salah paham soal babat, babat gongso justru membuat orang bingung pada kata “gongso”.
Banyak orang luar Jawa tidak familiar dengan istilah tersebut. Akibatnya, ada yang mengira gongso adalah nama hewan, jenis bumbu, atau bahkan nama daerah tertentu.
Padahal, “gongso” dalam bahasa Jawa berarti menumis atau memasak dengan sedikit kuah hingga bumbunya meresap. Jadi babat gongso secara sederhana bisa diartikan sebagai babat yang dimasak dengan teknik gongso.
Bagi masyarakat Jawa Tengah, istilah ini mungkin terdengar biasa saja. Namun bagi pendatang, kata “gongso” sering kali terdengar misterius.
Apalagi kalau menu itu tertulis begitu saja tanpa penjelasan. Orang yang baru pertama kali melihatnya bisa saja memesan dengan modal nekat sambil berharap tidak sedang mencoba sesuatu yang terlalu ekstrem.
#5 Mie Kopyok yang Dikira Harus Dikocok Sebelum Dimakan
Nama terakhir yang cukup sering membuat orang salah paham adalah mie kopyok. Kata “kopyok” bagi sebagian orang terdengar seperti aktivitas mengocok atau mengguncang sesuatu. Karena itu, tidak sedikit yang mengira mie ini harus dikocok dulu sebelum disantap.
Memang ada benarnya sedikit. Istilah kopyok berasal dari proses mengaduk atau mengocok bahan-bahan tertentu dalam pembuatannya. Namun, bukan berarti pembeli akan menerima mangkuk mie lalu diminta menggoyangkannya seperti sedang membuat kopi dalgona.
Mie kopyok adalah salah satu kuliner Semarang yang berisi mie, tahu, lontong, tauge, kerupuk gendar, dan kuah bawang putih yang ringan namun khas. Namanya mungkin terdengar unik, tetapi rasanya justru sangat membumi dan mudah diterima oleh lidah siapa saja.
Dipikir-pikir, salah kaprah soal nama kuliner ini justru menjadi salah satu daya tarik kuliner Semarang. Di tengah banyaknya makanan yang namanya sudah sangat deskriptif, kuliner Semarang masih menyimpan unsur kejutan.
Orang datang dengan ekspektasi tertentu, lalu pulang dengan kenyataan yang berbeda. Kadang lebih baik, kadang lebih lucu.
Bagi warga Semarang, nama-nama tersebut mungkin sudah terdengar biasa sejak kecil. Namun, bagi pendatang, setiap nama makanan seperti teka-teki yang harus dipecahkan terlebih dahulu sebelum disantap.
Dan, mungkin di situ letak keseruannya. Sebab, perjalanan kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal cerita. Termasuk cerita tentang betapa mudahnya kita tertipu oleh sebuah nama.
Jadi kalau suatu hari berkunjung ke Semarang dan menemukan menu yang terdengar aneh, jangan buru-buru berasumsi. Bisa jadi makanan itu tidak seseram yang dibayangkan. Pengalaman saya membuktikan, justru yang namanya paling membingungkan sering kali menjadi yang paling enak untuk diceritakan kembali.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













