Belakangan banyak kabar miring soal Jogja sebagai tempat kuliah. Salah satu penulis Terminal Mojok sampai membahasnya dalam Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya. Namun, sebagai perantau yang sudah merasakan asam garam hidup di Jogja, tempat ini masih lebih baik daripada daerah-daerah lain.
Saya amati, bagi masyarakat yang hidup di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, muncul 3 kota besar yang menjadi kandidat kuat yakni Surabaya, Semarang, dan Jogja
Maaf-maaf sebelumnya buat arek-arek Suroboyo dan warga Semarang. Berbicara tentang paket lengkap sebagai tempat kuliah, saya rasa Jogja masih unggul. Tulisan ini akan memberikan beberapa alasan kenapa Jogja adalah pilihan terbaik dibandingkan 2 kota lainnya tadi.
Banyak perguruan tinggi berkualitas berlokasi di Jogja
Mari bicara fakta di atas kertas. Surabaya punya UNAIR dan ITS yang gagah, Semarang punya UNDIP dan UNNES yang disegani. Tapi Jogja? Jogja punya “Avengers” di semua kategori. Jogja memiliki UGM sebagai standar emas PTN nasional. Butuh kampus Islam negeri terbaik? Ada UIN Sunan Kalijaga yang memegang takhta top PTKIN.
Mau jalur swasta? Ada UII sebagai salah satu PTS tertua dan UMY yang memuncaki klasemen kampus Muhammadiyah se-Indonesia. Bahkan untuk jiwa seni, Jogja punya ISI (kategori yang jarang ditemukan di kota lain di Indonesia)
Mau negeri, swasta, umum, agama, sampai seni, semua pemegang sabuk juaranya kumpul di sini. Saking padatnya, ibarat kata hampir di setiap sudut kota ini kamu bisa nemu kampus. Kamu melipir sedikit ke utara ada kampus, geser ke selatan ketemu kampus lagi, bahkan di dalam gang pun kadang ada plang sekolah tinggi.
Memilih Jogja berarti kamu sedang memasukkan dirimu ke dalam ekosistem pendidikan yang paling lengkap. Di sini, kamu nggak cuma kuliah di satu kampus, tapi kamu bertetangga dengan keunggulan dari berbagai disiplin ilmu.
Suasana yang mendukung untuk mengembangkan diri
Di Surabaya atau Semarang, kalau kamu ingin mencari diskusi berat pilihannya terbatas di kawasan sekitar kampus. Di sana, mahasiswa cenderung “terkurung” di menara gading masing-masing karena jarak antar kampus yang berjauhan.
Akan tetapi, di Jogja? Berkat jarak kampus yang saling berdekatan, ide-ide itu berpindah lebih cepat daripada gosip artis. Pemandangan mahasiswa Fisipol UGM yang sedang serius membahas problem birokrasi negara, lalu tiba-tiba argumennya dipatahkan oleh mahasiswa Siyasah Syar’iyyah UIN Sunan Kalijaga lewat perspektif tata negara Islam adalah hal lumrah di sini.
Hanya di Jogja ada anomali di mana orang-orang berbondong-bondong ke masjid bukan cuma buat salat, tapi buat dengerin pembahasan Socrates sampai Nietzsche. Ya, kalian tidak salah dengar, Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz adalah sebuah anomali intelektual yang hanya bisa dirasakan di Jogja.
Selain itu, ada banyak event yang mendukung gairah belajar. Jogja itu sarang festival literasi dan pemikiran. Bazar buku di sini bukan sekadar agenda tahunan, tapi sudah seperti siklus menstruasi yang datang hampir setiap bulan. Mulai dari bazar buku skala nasional hingga acara seperti festival mojok selalu berhasil mengumpulkan massa untuk sekadar mendengarkan obrolan berisi. Bahkan, budaya “belajar” ini merambah sampai ke bisnis komersial.
Biaya hidup Jogja memang mulai merangkak naik, tapi masih mending
Saya pernah makan di pinggir jalan daerah Kenjeran, Surabaya. Bukannya santai, saya justru merasa seperti “anomali” yang terpinggirkan oleh kemewahan gedung tinggi dan mal di sekitarnya.
Berbeda dengan Jogja, di mana ekosistem murah merata di setiap jengkal kota. Mau di Malioboro atau pelosok gang, uang Rp10.000-Rp15.000 sudah cukup untuk nasi ayam geprek dan es teh. Jogja tidak membuatmu merasa “miskin” karena makan di pinggir jalan adalah standar hidup yang dirayakan.
Di Jogja, selain angkringan, kamu masih bisa menemukan tempat ngopi yang merakyat. Dengan kocek Rp15.000 kamu sudah bisa mendapatkan fasilitas minuman, meja kursi ergonomis lengkap dengan wi-fi. Bahkan, jika kamu mau menambah sampai Rp20.000 kamu sudah bisa minum kopi espresso based dengan kursi sofa dan ruangan ber-AC yang ready 24 jam.
Opsi healing dari pucuk gunung hingga pesisir
Bagi Gen Z yang sering healing,Jogja adalah tempat yang tepat. Mari objektif, Surabaya dan Semarang memang punya tempat pelarian, tapi mari bandingkan kualitasnya. Di Surabaya, kamu punya mal-mal megah yang berjejer, taman kota yang rapi, hingga Jembatan Suramadu. Semarang punya Lawang Sewu, deretan museum bersejarah, hingga Pantai Marina. Namun, semua itu masih kalah dengan Jogja.
Di Surabaya, kamu ke mal tapi sering kali malah stres melihat harga barang. Pantai Kenjeran pun sering gagal memenuhi ekspektasi estetika karena air yang keruh, aroma polusi industri, dan hawa pengap dari padatnya pemukiman. Begitu juga Pantai Marina di Semarang yang didominasi beton reklamasi kaku tanpa pasir putih yang bisa dipijak. Jika ingin udara dingin, mahasiswa Surabaya harus menempuh perjalanan besar ke Batu dan mahasiswa Semarang ke Bandungan yang memakan waktu dan bensin.
Semantara di Jogja, saat otak lelah karena tugas, kamu cukup memacu motor ke utara menuju Kaliurang dan lereng Merapi untuk mencari suasana dingin. Kalian bisa juga gas ke selatan untuk menikmati ombak. Sepanjang pantai selatan Bantul hingga pasir putih Gunungkidul kamu bisa menikmati pantai dengan ornamen tebing yang cantik sebagai tempat rehabilitasi mental. Mau jalan-jalan di mal pun ada.
Pada akhirnya, memilih kota untuk berkuliah bukan hanya soal membandingkan akreditasi kampus atau fasilitas laboratorium. Lebih dari itu, ini adalah soal memilih ekosistem di mana kamu akan menghabiskan masa krusial. Surabaya dan Semarang mungkin menawarkan gemerlap metropolitan dan gaji yang menggiurkan. Namun, Jogja menawarkan banyak hal yang susah kamu peroleh di tempat lain.
Penulis: Nur Khabib Fitriansyah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















