• 603
    Shares

MOJOK.COSaking banyaknya baliho Cak Imin Cawapres Zaman Now, yang intensitasnya di wilayah Jogja-Magelang hanya bisa ditandingi baliho “Restoran Pringsewu 3 km Lagi” dan “Anton Photo”, sampai muncul guyonan seorang turis asing bertanya, “Who is Muhaimin?” dan dijawab, Muhaimin is kandar.

Dari sebuah radio swasta di Yogyakarta, diberitakan cuaca hari itu cerah. Namun, begitu keluar rumah, cuaca tiba-tiba tampak seperti mendung. Apa yang terjadi? Rupanya banyaknya baliho Cak Imin menutupi jalanan. Jadi teduh.

Muhaimin Iskandar kini menjadi wakil ketua MPR RI. Saking populernya Cak Imin sebagai cawapres (setidaknya versi baliho), sampai orang yang bertugas memimpin doa terpeleset. Peristiwa menarik terjadi saat pelantikan tiga wakil ketua MPR, Senin, 26 Maret 2018. Ketua Fraksi PKB di MPR Jazilul Fawaid yang bertugas membacakan doa, salah ucap. Entah disengaja atau tidak, Jazilul mengatakan ketua umumnya, yakni Muhaimin Iskandar, telah dilantik sebagai wakil presiden.

“Semoga diberi kesehatan dan berkah kepada tiga pimpinan baru, Ahmad Basarah, Ahmad Muzani, dan terakhir Muhaimin Iskandar yang baru saja dilantik sebagai wakil presiden, eh, wakil ketua MPR,” kata Jazilul yang langsung meralatnya. Peristiwa tersebut kemudian disambut tawa dan sorak-sorai dari peserta dan pengunjung sidang.

Selain banyaknya baliho, Cak Imin juga berziarah ke makam Taufiq Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Tentang hal ini, Denny Siregar, selebritas medsos menulis: Setelah berlalu sekitar 10 menit, Cak Imin bangun dari duduknya, kemudian tangan kanannya menepuk batu nisan makam Taufiq. “Pak Taufiq, saya izin jadi cawapresnya Pak Jokowi, ujar Cak Imin. Lha, gimana kalau Pak Taufiq jawab, “Boleh….” Apa nggak lari tunggang-langgang tuh, Cak Imin?

Banyak yang menertawakan Cak Imin soal merebaknya baliho di mana-mana. Bagi Cak Imin, perbedaan yang ada (termasuk yang tak suka baliho Cak Imin) jangan dijadikan sebuah masalah, tetapi lebih dijadikan sebagai guyon menyenangkan yang bisa dinikmati bersama. “Menertawakan diri kita bersama, rileks saja memandang perbedaan dan jadikan humor sehat,” katanya.

Baca juga:  Skenario Ganti Nama Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi, Benarkah?

Cak Imin sendiri telah mendeklarasikan dirinya sebagai calon wakil presiden 2019 di Restoran Bunga Rampai, Menteng, Jakarta Pusat, 14 Maret 2018. “Hari ini pertama kalinya saya akan mengaku sebagai cawapres karena sebelumnya saya nggak pernah mengaku karena pada dasarnya saya tidak suka pamer,” candanya.

Awalnya, pria kelahiran Jombang, 24 September 1966 itu mengaku tidak percaya diri dengan pencalonan dirinya tersebut. Terlebih lagi sudah banyak sekali dukungan terhadap dirinya melalui reklame-reklame yang bermunculan mengatasnamakan dirinya. “Saya sendiri awalnya tidak percaya diri, billboard yang muncul, Muhaimin Iskandar. Who is Muhaimin? Muhaimin is kandar. Itu cukup populer dan menambah elektabilitas saya, hahaha,” katanya saat deklarasi. Saking merasa percaya diri, pada akhir deklarasi itu ia bergurau, “Siapa pun calon presiden yang nggak angkat kita (Cak Imin) jadi wapres, insyaaallah akan nyesel dan kalah. Hehehe~”

Kembali ke laptop. Menghitung berapa biaya baliho Cak Imin bisa kita mulai dengan sampel di Jogja. Menurut seorang pengusaha media luar ruang di Jogja, sewa sebulan billboard berkisar antara Rp5 juta sampai Rp12 juta. Tentu harganya tergantung baliho dipasang di jalan mana. Semakin dekat pusat kota, semakin mahal. Meski demikian, Jalan Mangkubumi dan Malioboro tertutup untuk baliho.

Ini memang bukan rubrik Nafkah, tapi tidak masalah. Mari berhitung.

Sewa sebuah baliho sebulan rata-rata Rp10 juta atau setahun Rp100 juta. Jika di Kota Jogja dan sekitarnya ada 20 baliho, maka ketemu angka Rp2 miliar untuk setahun pemasangan baliho.

Jika semua ibu kota provinsi yang berjumlah 33 kota (Jakarta tak dihitung) dipasangi jumlah baliho yang sama, rata-rata 20, maka 33 kali Rp2 miliar yaitu Rp66 miliar. Angka di Jakarta (Jabotabek) tentu berbeda, lebih mahal dan lebih banyak. Katakanlah sewa setahun Rp120 juta dan baliho yang dipasang 100 buah, duit yang dikeluarkan untuk memamerkan gambar Cak Imin nyengir di Jabotabek mencapai Rp12 miliar.

Di media massa, kita membaca bahwa baliho juga terlihat di kota-kota kecil seperti Pinrang, Cirebon, Cilegon, dan kota-kota kecil lain. Katakanlah baliho-baliho itu juga dipasang di kota-kota kabupaten termasuk Jombang, kota kelahiran Cak Imin, dan 49 kota lainnya. Sewa di kota kecil tentu lebih murah. Rp5 juta sebulan atau Rp50 juta setahun. Jika ada 5 baliho di 50 kota kecil, akan terlihat berapa biaya pemasangan baliho. Lima kali 50 kota kali Rp50 juta, didapat Rp12,5 miliar.

Baca juga:  Akal Sehat Quick Count yang Justru Nggak Common Sense

Jadi berapa biaya baliho “Cawapres Zaman Now” untuk seluruh Indonesia? Rp66 miliar ditambah Rp12 miliar ditambah Rp12,5 miliar. Total, Rp90,5 miliar.

Bertebarannya baliho Cak Imin di seantero Indonesia mengingatkan kita pada pesan, “If there is a will, there is a way.” Baliho mungkin bisa mengubah citra figur. Ia mungkin bisa mengubah kucing menjadi macan. Namun, sekian pemilu setelah era Soeharto telah mengubah masyarakat menjadi lebih cerdas.

Jika mengandalkan baliho dan meninggalkan komunikasi politik lain, berapa pun bajet untuk baliho tak akan mampu mengubah persepsi publik terhadap figur yang royal pasang baliho tanpa down to earth itu. Antara yang dicitrakan di baliho dan realitas di lapangan harus sinkron. Jika hal itu tak ada, ya itu namanya kebohongan publik. Hukum demokrasi akan berjalan. Rakyat tak akan memilih figur pembohong.

If there is a whale, there is a wave. Di mana ada ikan paus, di situ ada gelombang. Semoga gelombang baliho Cak Imin tak menggulung citranya.

Koreksi redaksi: ada kesalahan pencantuman hitungan di awal, yakni:

1. pada kalimat “Jika di Kota Jogja dan sekitarnya ada 20 baliho, maka ketemu angka Rp20 miliar untuk setahun pemasangan baliho,” 20 miliar harusnya ditulis 2 miliar;

2. pada kalimat “Jika semua ibu kota provinsi yang berjumlah 33 kota (Jakarta tak dihitung) dipasangi jumlah baliho yang sama, rata-rata 20, maka 33 kali Rp20 miliar yaitu Rp66 miliar,” Rp20 miliar harusnya ditulis Rp2 miliar.

Terima kasih kepada para pembaca yang sudah mengoreksi. Nyatalah bahwa urusan hitung-menghitung uang, memang rubrik Nafkah jagonya.