Arus balik Lebaran adalah etalase paling nyata melihat laju urbanisasi di Indonesia. Banyak anak muda meninggalkan desa karena terbujuk oleh teman atau saudara tentang cerita sukses bekerja di kota. Tak sedikit yang datang tanpa bekal keahlian, hanya modal nekat.
Lebaran seringkali jadi ajang para perantau untuk menceritakan kisah suksesnya bekerja di kota. Cerita dari teman atau keluarga tersebut seringkali membius anak-anak muda untuk mengadu nasibnya dengan pergi ke kota untuk bekerja. Tanpa tahu bahwa cerita itu mungkin penuh polesan dan ilusi.
Mereka mungkin akan bercerita, di kota uang mudah didapatkan. Asal ulet dan mau kerja keras nggak sulit dapat uang di kota. Tidak sepenuhnya salah, tetapi itu bisa jadi cara yang mereka lakukan untuk menunjukkan ke lingkungan pergaulan mereka di desa agar tidak dianggap gagal
Liputan Mojok banyak mengulas bagaimana kisah semu dari apa yang disebut kesuksesan para perantau. Gaji Rp4 juta di kota besar mungkin terlihat menggiurkan. Tetapi, nggak ada gunanya jika nggak tersisa karena biaya hidup yang sangat tinggi.
Gemerlap gaya hidup di kota seringkali juga jadi daya tarik bagi anak muda untuk keluar dari desanya. Namun, mereka harus membayarnya dengan mahal. Bisa fisik yang hancur-hancuran, atau mental yang remuk.
Mereka yang datang ke kota bisa jadi juga tergiur narasi sukses teman atau kerabat yang lebih dulu bekerja di kota. Namun, ada sisi-sisi gelap yang tidak mereka ceritakan. Gaji di kota mungkin besar, tapi biaya hidup di kota juga sangat besar. Menabung bisa jadi hal yang sangat sulit bagi perantau. Pendapatan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Saat pulang kampung, perantau mungkin tampil dengan fesyen kekinian atau memakai gawai mahal, tanpa menceritakan pekerjaan yang mereka jalani sebenarnya. Bahkan tak sedikit yang menyewa gawai atau kendaraan agar ketika pulang, dianggap sukses.
Kenyataannya, tidak sedikit dari mereka yang bekerja serabutan dengan upah minim, atau terpaksa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Modal jika ingin bekerja di kota
Tidak ada larangan untuk pergi ke kota dan mencari nafkah di sana. Namun, harus dipahami bahwa pekerjaan impian, pasti membutuhkan keahlian. Bukan sekadar nekat atau menyerahkan diri pada nasib.
Pemerintah juga seharusnya punya peran dengan melihat desa bukan sekadar penyangga kota. Desa juga punya kedaulatan ekonominya. Warga desa seringkali kesulitan untuk memetakan sumber daya yang mereka miliki. Potensi itu lagi-lagi kemudian hanya dinikmati oleh orang-orang kota.
Revitalisasi desa seharusnya fokus dalam hal pemberdayaan manusia. Pemerintah perlu memberikan akses permodalan yang mudah, pelatihan literasi digital, dan jaringan pasar yang luas. Jika seorang anak muda di desa bisa menjual potensi desanya maka bisa mengurangi laju urbanisasi.
Beberapa kali Mojok mengangkat anak-anak muda yang memilih untuk tetap tinggal di desa. Menggerakan ekonomi desanya tanpa merantau. Mereka orang-orang yang percaya bahwa tidak selalu harus ke kota untuk sejahtera. Kisah, Narko, seorang petani kopi dari Desa Rahtawu, Kabupaten Kudus, bisa jadi contohnya. Ia bersama anak-anak muda di desanya menggeliatkan ekonomi desa lewat kopi.
Tentu, ada banyak cerita selain Mas Narko. Ada banyak anak-anak muda yang membuka lapangan kerja di desanya. Karena mereka, desa tidak ditinggalkan anak-anak mudanya. Mereka juga yang menggerakan ekonomi desa.
Tidak ada larangan merantau atau bekerja di kota. Namun, kota akan menjadi tempat yang ramah bagi mereka yang datang dengan bekal keterampilan yang cukup dan pemahaman akan realitas di dalamnya. Tanpa bekal dan hanya modal nekat, kota hanyalah labirin yang akan menghisap tenaga dan harapan orang-orang yang datang sekadar untuk adu nasib.
Redaksi














