MOJOK.COSaya sebenarnya girang betul saat mendengar kisah Kristen Gray yang happy saat tinggal di Bali, tapi saya juga agak iri.

Sebagai anak Facebook, saya memang agak telat dalam mengikuti isu terkait Kristen Gray, sosok warga negara Amerika yang beberapa hari yang lewat sempat ramai diberitakan karena mengajak para WNA lain untuk “hijrah” ke Bali.

Belakangan, ia dideportasi karena dinyatakan bersalah telah menyebarkan informasi yang dianggap meresahkan masyarakat terkait kemudahan akses masuk bagi warga negara asing ke Indonesia di masa pandemi. Gray juga dianggap bersalah karena menggunakan visa kunjungan untuk keperluan bisnis.

Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Kristen Gray adalah hal yang biasa saja. Agak naif dan sedikit ceroboh memang. Responsnya saja yang memang berlebihan.

Saya tentu saja tak mau mempersoalkan apa yang sudah ia lakukan. Saya justru tertarik pada hal lain. Ada satu cuitan mbak Kristen yang menyebut bahwa dirinya hanyalah sebatang kere di negaranya. Dan keputusannya pindah ke Bali benar-benar mengubah hidupnya. Di Bali, Kristen mengaku bisa hidup mewah dengan ongkos yang lebih murah. Dia menemukan kedamaian di sana. Ia menemukan ketenangan hati, yang mana merupakan hasil dari ketenangan finansial.

Kalau boleh jujur, perasaan saya terbelah. Di satu sisi, saya ikut senang. Bukan soal ditangkapnya, tapi soal bagaimana dia menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Bukankah salah satu pencapaian penting dalam hidup itu adalah kebahagiaan? Maka ketika mendengar Mbak Kristen ini telah merengkuh prestasi pokok dalam masa hidupnya di usia dua puluhan, saya tentu saja turut bahagia. Apalagi, hal tersebut diperoleh ‘hanya’ dengan pindah negara. Nggak perlu susah-susah membangun karier, atau bikin perusahaan, atau menjalani laku batin dan tirakat seperti puasa dan ngrowot berkepanjangan.

Di sisi lain, saya juga gemes, atau lebih tepatnya iri. Kristen pindah dari Amerika ke Indonesia dan mendadak jadi kaya. Sedangkan saya, orang yang juga hidup di negeri orang, ternyata tidak merasakan apa yang Kristen rasakan. Justru sebaliknya.

Lha gimana, begitu pindah ke Australia, saya malah langsung menjadi penghuni strata ekonomi terbawah. Miskin betul. Melarat struktural. Di Australia ini lah, saya, secara ekonomi, masuk ke dalam golongan-golongan yang berhak menerima infak dan sedekah.

Saya tak bercanda. Dalam beberapa bulan setelah wabah Covid-19 menggerayangi Australia Barat, saya dan banyak teman mahasiswa Indonesia lainnya berkali-kali menerima paket sembako dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia.

Kami juga menerima bantuan dari berbagai komunitas orang Indonesia yang sudah lama tinggal dan bekerja di sini, yang tentu saja memiliki kemampuan finansial yang jauh lebih mantap.

Isi paketan bantuan dari mereka ini sungguh menegaskan betapa miskinnya saya: beras, minyak goreng, roti, vitamin, sarden kaleng, dan tentu saja mie instan dibungkus dalam tas plastik belanja. Terbayang, bukan, bagaimana perasaan saya? Andai saja isi paket bantuannya ada minyak angin, koyo cabai, dan promag, niscaya sempurna sudah kemiskinan saya.

Sebelum pindah ke Australia untuk lanjut kuliah S2, hidup saya sebenarnya sudah lumayan mapan. Saya punya pekerjaan yang menyenangkan dan pendapatan yang cukup untuk membuat saya berstatus sentosa. Saya juga punya tabungan yang bisa diandalkan.

Kelak, dari tabungan itulah saya bisa membayar SPP saat saya menempuh pendidikan di Australia. Dan sialnya, ternyata SPP itu pula yang ikut mendorong kemiskinan saya di Australia.

Label menentukan harga. Itu prinsipnya. Apa pun yang internasional selalu lebih mahal harganya. Sekolah lokal vs sekolah internasional. Kopi merek lokal vs kopi merek internasional. Tahu bulat vs circle tofu. Bebek Goreng H. Slamet vs Fried Duck H. Congratulation. Tahu bedanya, kan?

Nah, di poin inilah, saya ternyata dilabeli mahasiswa internasional. Konsekuensinya, saya dikenai SPP tiga kali lebih mahal daripada mahasiswa lokal. Kalau mau tahu besarannya, silakan gugel sendiri. Jangan dikira saya mau riya’. Enggak, ini murni curhat.

Bayangkan kamu sudah capek-capek mewadahi air tetesan dari kran ke ember, eh ternyata air itu cuman dipake buat nyiram tanaman di pot milik tetangga. Habis dalam sekejap. Nyesek.

Nasib kurang menguntungkan karena label internasional ini tak berhenti di situ. Setiap mahasiswa internasional diwajibkan memiliki asuransi kesehatan untuk bisa mendapatkan visa dan tinggal selama masa studinya. Tentu tidak murah untuk ukuran saya. Lebih dari seribu dolar Ostrali untuk masa studi tiga semester.

Kalau begitu, pemeriksaan dan perawatan kesehatan ditanggung semua sama asuransi, dong? Hiks. Sayangnya tidak begitu, Rudolfo, eh, Rumadi.

Sekacau-kacaunya BPJS kesehatan, nyaris semua pembiayaan ditanggung. Sejauh pengalaman saya, dengan asuransi yang saya punya, yang gratis sepenuhnya itu cuma periksa ke General Practitioner alias dokter umum. Di luar itu, biasanya ditanggung cuma sebagian atau tidak ditanggung sama sekali. Sebagai contoh, saya harus menjalani MRI karena ada masalah punggung bawah. Yang ditanggung oleh asuransi hanya 30% dari ongkos setara gaji tujuh hari kerja dengan standard upah minimum. Ungkapan orang miskin dilarang sakit itu benar adanya, apalagi kalau jadi mahasiswa asing di Australia. Sudah sakit, miskin, masih harus bayar mahal pula.

Biarpun mahal, prosesnya cepat toh mas? Heuheuheu. Asuransi yang saya punya itu, yang katanya comprehensive itu, adalah asuransi kelas terbawah di sini. Jadi, saya harus menunggu beberapa hari untuk dapat giliran MRI.

Kenalan saya, anak S1 dari Surabaya, lebih parah lagi. Beberapa bulan lalu ligamennya putus setelah jatuh saat berolahraga. Oleh dokter umum dia disarankan untuk MRI. Tahu berapa lama dia menunggu? Tiga minggu, Bos. Kan ya, bajingfay sekali. Bukan hanya putus ligamen, tapi juga putus asa karena lama menunggu. Masih mending nggak ditambah putus cinta.

Sungguh, miskin di negeri orang itu nggak ada enak-enaknya. Kadang saya jadi bertanya-tanya, kenapa juga saya dengan sukarela meninggalkan good and easy life yang sudah saya rengkuh hanya untuk dimiskinkan dan bersusah-susah begini.

Makanya, kalau ada orang miskin kayak Mbak Kristen Gray menemukan kemewahan di negeri orang, sekali lagi, saya turut berbahagia.

Tapi ya tentu, iri juga. Jingan.

BACA JUGA Nasib Punya Bapak Nggak Kreatif, Kasih Nama Anak Cuma Satu Kata dan Njawani dan tulisan Sugiyanto Lainnya.