• 437
    Shares

MOJOK.CO – Desain hijab syar’i untuk generasi milineal itu lama-lama sangat membosankan. Oleh karenanya, perlu dibikin hijab untuk muslimah berjiwa cyborg.

Harus kita akui, sebagai milennial akhir usia 20-an, kita akan melihat bahwa beberapa tahun terakhir penggunaan hijab syar’i jadi semakin populer.

Bahkan pakar antropologi visual pernah kasih kesimpulan bahwa puncak kepopuleran hijab syar’i sebagai simbol agama Islam sebenarnya dimulai pada tahun 2000-an. Periode ketika islamophobia justru sedang meningkat karena kasus teror di Indonesia dan peristiwa 9/11 di Amerika. Anehnya, hal tersebut malah memicu banyak kalangan mau mempelajari islam.

Hijab syar’i semakin menjadi populer setelah sejumlah desainer menciptakan fashion tren hijab dan dibawa ke media populer lewat iklan media cetak, layar kaca, atau media sosial. Penjualan produk penunjang hijab syar’i pun turut populer seperti make up, shampoo, dan lotion yang dikasih label halal.

Halal? Maksudnya gimana neh? Apa maksudnya yang lain haram begitu?

Dagang sesuatu dengan kandungan yang haram buat dipasarkan luas tanpa diberi label peringatan “tidak mengandung babi” di Indonesia sama saja dengan bunuh diri. Ingat kasus Ajinomoto kan?

Eh, tapi kok yang haram cuma babi aja contohnya? Iya, babi doang. Soalnya yang lain itu seolah-olah haram nomor ke sekian. Babi itu seakan berada di puncak piramida makanan haram.

Orang-orang bisa korupsi, minum alkohol, ditato, dan pacaran di atas masjid tapi nggak akan dilabeli haram. Iya sih, mereka dapat hukuman sosial tapi nggak akan ditunjuk sebagai orang yang melakukan hal yang haram.

Akan tetapi kalau sampai ketahuan makan babi… naudzubillah! Nggak banget! Jangan sampai!

Apalagi kalau kamu makan babi yang minum alkohol. Wah, haram kuadrat! Apalagi kalau babinya mabuk alkohol dan bertato. Wuih, haram pangkat tiga! Apalagi kalau babinya mabuk, bertato, dan dibeli pakai uang korupsi. Astagfirullah, itu haram pangkat empat! Gila, gila, gila.

Padahal kan haram itu nggak ada pangkatnya. Kalau haram ya haram. Nggak ada tuh haram nomor satu, nomor dua, dan sebagainya. Tapi ya dasar manusia apa-apa pengennya diberi peringkat walau nggak ada dasarnya.

Nah, balik lagi ke desain hijab syar’i. Banyak yang menganggap bahwa hijab jaman now itu kebanyakan nggak syar’i karena masih mempertunjukkan tonjolan dadanya. Omaigat. Ini dada mau ditutup pake hijab yang menjulur kayak lidah ular juga bakal keliatan tonjolannya karena ya… memang menonjol.

Tetangga saya yang sehari-harinya mengenakan baju koko pagi-siang-sore malam meski kerjanya lebih banyak nyambit rumput buat sapi, merupakan salah satu pihak yang memprotes hijab modern yang dianggap nggak syar’i. Padahal kan, kita-kita ladies jaman now udah usaha syar’i lho.

Baca juga:  Buat Apa, sih, Menghakimi Muslimah yang Nyerah dan Ingin Menikah Aja?

Adapun contoh baju yang diprotes oleh tetangga saya itu seperti ini:

Lalu diprotes: “Maaf Ukhti, ini pun masih belum ‘hijab’ karena etimologi hijab adalah ‘penutup’, sedangkan yang begini masih memperlihatkan tonjolan dada.”

Adapun dua sumber terkait yang dijadikan rujukan, yaitu surat An-Nur ayat 31. Meski ada banyak tafsir dari para ulama akan ayat ini.

Kayak tafsir Quraish Shihab misalnya, yang berpendapat bahwa pakaian yang biasa dipakai putra-putri Indonesia yang tidak mengenakan jilbab tidak dapat dianggap telah melanggar aturan agama selama masih memakai pakaian terhormat.

Tapi kan itu Quraish Shihab ya kan? Kalau kita-kita ukhti syar’i mana boleh punya pandangan kayak begitu. Bisa bahaya. Bisa dicap haram.

Lalu ayat berikutnya yang juga jadi rujukan bisa melalui surat Al-Ahzab ayat 59. Di mana isinya berupa seruan untuk menegur perempuan agar mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Ya hal ini penting, karena biar si perempuan nggak diganggu.

Perlu diketahui sebelumnya kalau latar belakang turunnya ayat ini adalah saat zaman perbudakan dan diperlukan adanya pembeda antara mereka dan wanita-wanita merdeka, serta menghindarkan perempuan dari gangguan lelaki usil.

Nah masalahnya, jaman sekarang ayat ini dipakai untuk menyerang korban pelecehan. “Kamu sih pakaiannya mengundang nafsu, kan di Al-Quran juga ada tuh bla-bla-bla.”

Padahal kalau mau dibalikin, ada juga ayat yang menjelaskan tentang ketentuan lelaki muslim untuk menundukkan pandangan. Ini kenapa cuma yang kena tembak selalu perempuannya aja sih?

Ditegaskan juga dalam forum pengajian ibuk-ibuk di masjid dekat rumah saya kalau hijab itu bukan kerudung, hijab itu ya penutup. Artinya pakaian penutup secara keseluruhan. Bukan cuma untuk kepala doang.

Berbekal pengetahuan yang sedikit, tidak ada seorang pun (termasuk saya) yang berani membantah ujaran tetangga saya ini yang sebenarnya juga punya kerjaan part-time sebagai ustaz.

Nah, dari sikap kritis tetangga saya ini, saya kok mendadak jadi punya ide.

Kalau kerudung yang dijulurkan pun masih kurang sip karena masih memperlihatkan tonjolan (kalau alasannya untuk melindungi diri dari pandangan lelaki yang tidak kuat iman, saya sangat menyayangkan iman para lelaki jaman now) maka saya membuat sebuah desain hijab syar’i puuol to the max.

Bahkan saking mantul dan uniknya, desain ini pun bisa dibuat sendiri pakai alat-alat rumah tangga sehari-hari.

Berikut desainnya:

Gimana? Sangat simpel bukan? Udah gitu terkesan modern, futuristik, dan sangat berjiwa cyborg sekali.

Baca juga:  Klaim Berguru ke Nabi Muhammad itu Berat, Biarkan Ustaz Evie Effendi Aja yang Kuat

Inilah hijab syar’i yang benar-benar menutupi tonjolan indah dada dan bokong yang menggoyahkan iman para lelaki.

Cara membuatnya pun simpel. Mungkin cuma kardus kulkas dua pintu aja yang agak susah nyarinya. Tapi yakinlah, selama ada kemauan, pasti ada jalan kok. Coba aja mulung di pengepul-pengepul kardus. Pasti ada.

Kalau udah ketemu kardusnya, lalu lubangi di bagian kepala dan lengan. Untuk bagian bawah cukup buang penutupnya.

Kalau kamu pikir desain ini terlalu sederhana, wah kamu belum lihat bagian dalamnya yang jauh lebih modern dari kelihatannya. Ini dia:

Soal bagian interior ini memang saya desain agak spesial supaya tetap nyaman dikenakan di mana saja. Oleh karena itu saya merasa perlu menyertakan sebuah kipas angin bertenaga baterai di pojokan agar setiap saat bisa terasa adem. Jadi hati pun bisa selalu tenang nggak emosian.

Lalu tidak lupa saya juga menyediakan botol minum gepeng berukuran isi 600 mili di sebelah kipas plus gratis selang yang tersambung ke bagian lubang kepala untuk minum setiap saat sehingga dapat terhindar dari dehidrasi. Futuristik dan cyborg banget dah.

Sebuah buku How To Debate juga disematkan sebagai pegangan bacaan agar bisa berargumentasi dengan baik sehingga tidak akan kalah saat harus berdebat dengan orang-orang yang pikirannya melulu duniawi.

Bagian belakang juga bisa dibuka-tutup agar tidak kerepotan melepas pakaian syar’i ini saat harus ke kamar kecil.

Sangat pratis, ergonomis, dan ekonomis. Tak lupa kantung HP dan power bank juga disediakan agar bisa selalu update tentang aktivitas umat dan bisa share secepat mungkin semua info yang didapat dengan nyaris tanpa saringan terlebih dahulu.

Cermin juga disediakan untuk bercermin saat menggunakan make up sebelum selfie cantik di depan monumen nasional. Tak lupa tisu dan kursi lipat penunjang aktivitas luar ruangan.

Kalau banyak yang memesan, pemesan tercepat akan mendapat manset tangan anti UVA dan UVB dengan SPF 100 agar terhindar dari terik panas matahari yang membuat kulit coklat dan tidak indah. Sebuah kerudung cantik juga disediakan (tersedia juga dengan varian kerudung fullface berventilasi di bagian mata).

Bagaimana desai hijab syar’i dan banyak fasilitasnya yang saya bikin itu? Menarik kan?

Sayangnya sih ide ini masih sebatas desain dan belum sempat saya bikin prototypenya. Namun, apabila peminatnya cukup banyak maka saya siap menjualnya untuk kalian semua. Tentu akan dijual dengan gratis. Soalnya saya tak mengharap harta dunia, kalian cukup bayar pakai pahala.