Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya

Shellya Febriana A. oleh Shellya Febriana A.
15 Maret 2015
A A
Ucapkan Jancuk dengan Fasih Sesuai Tajwid Surabaya
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta”. Sedari kecil saya sudah biasa mendengar pernyataan tersebut dari guru, orang tua, atau orang-orang sekitar. Tapi sebenarnya, menurut saya, Surabaya itu seharusnya menjadi kota terbesar pertama di Indonesia. Lho, kok bisa? Ya bisa. Jakarta bukan kota, tapi provinsi Daerah Khusus Ibukota. Dan Jakarta sendiri dipimpin oleh Gubernur, bukan Walikota. Tidak bisa lantas disebut sebagai kota terbesar di Indonesia, dong.

Tapi pantaskah Surabaya disebut sebagai salah satu kota terbesar, atau bahkan metropolitan? Jika dilihat dari berbagai kesibukannya, sebagai pusat Ibu Kota Provinsi Jawa Timur dan padatnya perdagangan di Tanjung Perak yang luar biasa sedari jaman Belanda, Surabaya tentunya memenuhi persyaratan sebagai kota metropolitan. Bagaimana dengan penduduk Surabaya?

Orang-orang metropolis biasanya adalah mereka yang haus akan kekinian, paling up-to-date, memuja hedonisme, dan rela menjadi hamba sahaya mie instan di indekos buluk demi segelas cocktail atau sebotol alkohol di sebuah klub malam ternama setiap akhir pekan. Namun lucunya, orang Surabaya jauh dari stereotype itu. Orang Surabaya lebih pas disebut sebagai orang kampung yang apa adanya.

Berikut beberapa ciri orang Surabaya yang nggak metropolitan banget.

Romantisme Cakcuk

Sudah bukan rahasia lagi kalau Surabaya diidentikan dengan orang-orangnya yang kasar. Dari tinjauan budaya, karakter orang Surabaya yang keras dan kasar disinyalir karena lokasinya yang terlalu jauh dari kekeratonan dan didukung dengan kerasnya kehidupan di pelabuhan.

Panggilan atau umpatan “Cuk” sehari-hari terdengar di sana. Cuk, yang merupakan kependekan dari “ngencuk” atau bersetubuh, semakin memperkuat kesan kasar di mata orang non-Surabaya. Kasar dan tidak sopan! Padahal, sebenarnya, ada romantisme antara dua insan yang saling bercakcuk-ria—tidak ada amarah yang tersulut sama sekali. Bagi orang Surabaya, cakcuk itu tidak kurang dari hinaan “Ndut” atau “Jelek” yang merupakan panggilan sayang anak-anak kekinian. Cuk adalah sebuah ekspresi yang menjadi bukti keakraban antar orang Surabaya.

Lidah selera pedas

Sego sambel Wonokromo dan sego sambel Se-Ho, dua makanan pinggir jalan yang nyaris tidak pernah sepi pelanggan. Padahal yang disajikan sekadar nasi panas berhiaskan asap mengepul diatasnya, telor dadar selebar piring, dan sambel yang disiram diatas nasi panas tadi. Yang dicari oleh pengunjungnya ya sensasi pedasnya saja.

Mungkin karena kecintaan terhadap makanan pedas dan terutama sambal terasi itulah, omongan orang Surabaya juga terkenal pedas dan menohok! Sering sekali, mereka yang mencoba berpartner dengan orang Surabaya jadi jiper.

Tidak suka bertele-tele tapi suka memanjang-manjangkan

Selain omongannya cenderung pedas, orang Surabaya juga terkenal tidak suka ngomong ngalor-ngidul slinthat-slinthut tidak jelas ujung pangkalnya. Semua maksud dan tujuan disampaikan dengan lugas. Tapi, sering juga penyampaiannya terlalu dipanjang-panjangkan.

Lho? Kok?

Contohnya, jika orang Surabaya harus mendefinisikan betapa cantiknya Chelsea Islan, maka sekadar “sangat ayu” saja tidak akan cukup, melainkan harus dengan “Uuuaaaaaayuuuuuuuuuuuuuuu soroooooooooo!”.

Pahlawan Surabaya

Kota metropolitan sering diidentikan dengan keadaan Jakarta yang ruwet, macet, dan penuh tindak kriminal. Sekali lagi perlu ditekankan, Surabaya tidak begitu.

Perlu diingat kembali, Surabaya juga dikenal sebagai kota Pahlawan. Jadi, sementara di kota lain penduduknya masih dag-dig-dug-ser disatroni begal kalau misal harus berhenti di jalanan sepi, di Surabaya masih ada pahlawan yang mau membantu mendorong motor kita yang mendadak ngambek karena pemiliknya khilaf tidak mengisi bensin. Masih ada pahlawan yang mau mengantarkan mencari alamat sampai antah-berantah. Dan masih ada pahlawan yang rela menolong saya yang sedang berlari-lari di tengah kemacetan menuju stasiun demi mengejar kereta yang 5 menit lagi berangkat.

Bukan cuma itu, selain menjadi suporter Persebaya, Bonek yang dulunya terkenal tukang rusuh sekarang membantu kampanye Safety Riding di Surabaya.

Iklan

Orang kampung (macak) kere

Punya uang seiprit lagak selangit, itu hal umum yang banyak terjadi di luar sana. Lain daerah, lain cerita, lain pula di Surabaya.

Orang surabaya justru lebih banyak yang macak kere alias pura-pura miskin. Pergi kemana-mana dengan gaya rumahan, kaos oblong plus celana pendek dan sandal jepit. Nyetirnya pun motor bebek atau matik dengan helm berlogo SNI seadanya supaya tidak ditilang pak polisi. Tapi jangan coba-coba nganggep mereka gembel beneran, salah-salah kamu bisa ditampar pake duit!

Alkisah, seseorang berdandan seadanya seperti di atas sedang berjalan masuk Tunjungan Plaza—mall paling mentereng di Surabaya. Belum sampai masuk, satpam sudah menghadang dan mengusir dengan alasan kerapian. Tapi bukan orang Surabaya kalau tidak berkeras. Singkat cerita, saat keluar dari mall, dengan kerepotan membawa belanjaan yang banyak, dia kembali bertemu dengan satpam yang tadi menghadangnya. Lalu dengan jumawa dia membalas, “Lapo, Pak? Njaluk a?” (Kenapa, Pak? Mau minta?)

Pedagang ajaib

Sejak zaman Majapahit, Surabaya sudah menjadi tempat bertemunya manusia dalam berdagang. Tradisi itu kian menjamur sampai sekarang, dengan barang-barang jualan yang semakin banyak dan.. ajaib.

Tersebutlah salah satu pasar bernama Pasar Gembong, pasar loak yang menyediakan berbagai barang-barang unik dengan harga cukup murah. Pasar ini juga diisukan sebagai pasar maling, tempat dimana barang-barang hasil curian dijual kembali. Bukan itu saja, apapun yang kita cari pasti akan bisa kita dapatkan di pasar ini asal kita menyebutkannya pada penjual.

“Bemper depan Avanza ada?”
“Kosong, Mas. Tapi sik ya.”

Meski penjual berkata dia sedang tidak sedia, jangan khawatir. Karena tidak lama kemudian, akan datang orang yang mengantarkan pesanan kita. Selanjutnya kita cukup bayar dan bisa kembali ke parkiran. Tapi, jangan kaget kalau mendadak bemper belakang atau spion mobilmu raib.

Orang kampung yang menuntut eksklusivitas

Menjadi beda, atau eksklusif, penting bagi beberapa kalangan di Surabaya. Mulai dari dandanan hingga pilihan bahasa, mereka memilih untuk beda.

“Ntik rumahku kasiono produke Davinci ya. Ambilno sing dari Singapur,” ujar seorang istri saudagar kepada seorang desainer interior. Si saudagar ini, jumlah depositonya bisa untuk berenang di kolam uang ala paman Gober.

Pada masa itu, Davinci masih belum membuka cabang di kota Surabaya. Tak jarang untuk menuruti kemauan klien, produk-produk itu harus dipesan di Jakarta atau bahkan Singapura. Mereka tidak sungkan mengeluarkan uang segambreng demi membangun rumah gedong yang akhirnya hannya dihuni pembantu dan satpam.

Karena tingginya demand akan pengiriman produk Davinci, untuk memfasilitasi konsumen, tentunya pihak Davinci berpikir untuk membuka cabang di Surabaya. Tapi siapa sangka, bagi orang Surabaya, ternyata itu artinya menghilangkan nilai eksklusif produk Davinci.

“Jadi untuk interior rumah anak Ibu nanti, kita ambilkan dari Davinci lagi seperti rumah Ibu dulu..”

“Eh, jangan. Ntik samaan ama rumahe Yen Yen. Ambilno merk lain ae sing belum dijual ndek sini.”

Masih banyak keunikan orang Surabaya yang mungkin belum saya ungkapkan disini. Tapi percayalah, yang terungkap diatas tidak akan lekang oleh zaman. Karena uniknya, orang Surabaya tidak banyak yang sok kekinian, dan lebih bangga dengan kemedhokan Suroboyoannya. Para pendatang pun dipaksa bersuroboyoan, dilatih untuk fasih mengucapkan “Jancuk” sesuai tajwid Suroboyo.

Terakhir diperbarui pada 11 April 2020 oleh

Tags: #PekanMenulisKotaJancukSurabayaSuroboyoan
Shellya Febriana A.

Shellya Febriana A.

Artikel Terkait

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Orang Surabaya hina Malang. MOJOK.CO
Urban

Malang Dihina “Desa”, padahal Tempat Pelarian Terbaik bagi Orang Kota Surabaya yang Stres meski Punya Mal Mewah

5 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.