MOJOK.CO Setelah pemerintah mengonfirmasi adanya kasus corona virus di Indonesia, kepanikan menyebar seakan kiamat terjadi besok. Kepanikan ini akan membunuh orang jauh lebih banyak dibandingkan virus itu sendiri.

Waktu kelas 3 SMP, saya terkena gejala demam berdarah. Baru gejala saja, saya rasanya ingin mati karena panas dan ngilu di sekujur tubuh benar-benar menyiksa badan kecil saya. Ketika tahu mulai ada tanda-tanda demam berdarah di tubuh, Bapak dan kakak saya langsung ambil tindakan dengan membawa saya ke rumah sakit untuk mengkonfimasi gejala dan minta surat dokter untuk ijin.

Tentu saya saya nggak diopname saat itu, nggak seperti kebanyakan orang. Kata Bapak dan kakak saya yang bekerja sebagai perawat, meski DB itu gawat tapi pengobatannya mudah. Saya hanya diminta untuk sering minum dan makan serta istirahat di rumah. Kakak saya berpesan, memang lagi ngetren sakit apa pun, nggak usah panik, karena kalau badan emang dasarnya sehat, nggak perlu khawatir.

Saya pikir, hal tersebut masih tetap relevan jika diterapkan untuk wabah corona kali ini.

Tanpa mengurangi kewaspadaan, corona virus tidak semestinya direspon seakan dunia besok kiamat. Tingkat kematian yang begitu rendah ditambah dengan jaminan pemerintah yang menanggung biaya perawatan pasien yang positif corona harusnya lebih diperhatikan ketimbang hoaks yang beredar. Rumah sakit yang harusnya bersiaga untuk menangani pasien malah jadi sibuk mengklarifikasi hoaks yang beredar.

Baca juga:  Driver Grab dan Gojek Berat Mengaspal, Istri “Dibuat Kerja” Bikin Masker

Tidak tepat kalau kalian langsung memborong dan menghabiskan stok masker berdasarkan kepanikan dan tidak ingin tertular. Logika yang benar, yang sakit dan yang menangani pasien lah yang harusnya memakai masker, bukan kalian yang sehat tapi parno.

Sial benar para petugas medis di waktu-waktu seperti ini. Mereka harus menangani banyak pasien dengan sakit beragam, tapi kekurangan masker karena kepanikan masal. Padahal mereka harus menghadapi penyakit macam TBC yang mengharuskan para petugas yang menanganinya menggunakan masker. Kalau sudah begini, mau menyalahkan dan mengeluh pada siapa?

Saya tahu kalau ketakutan ini disumbang oleh wagunya pemerintah dalam merespon isu corona dan juga media yang memberitakan corona virus secara berlebihan. Insentif kepada influencer, komentar menteri yang wagu, juga polah para kepala daerah yang absurd membuat kita tidak tahu harus percaya kepada siapa.

Corona virus bisa disembuhkan, dan kita bisa mencegah diri sendiri untuk tidak terkena penyakit tersebut. Berangkat ke gym, kurangi begadang, makan makanan yang sehat, mandi yang bersih, mulai bersih-bersih kamar, rajin mencuci tangan, adalah cara ampuh yang bisa menangkal kita tidak hanya dari corona, tapi juga dari penyakit apa pun.

Kita tidak harus menyerbu supermarket dengan menghabiskan stok makanan, tidak harus menimbun masker, kita tidak harus melakukan hal bodoh yang muncul dari pikiran buruk kita. Yakinkan diri kita dengan hidup lebih sehat agar kita terhindar dari sakit apa pun.

Baca juga:  Gamis Habib Umar dan Stereotip Nggak Guna yang Juga Dikenakan ke Cadar

Hentikan semua kepanikan ini mulai dari kita sendiri. Karena tidak akan mengagetkan jika justru ada korban yang jatuh bukan karena corona virus, tapi kepanikan kita yang menjadikan kita jadi saling membunuh agar bisa bertahan hidup. Kalau memang kita takut mati, harusnya kita bahu membahu agar semua punya peluang hidup yang sama.

BACA JUGA Applause Buat Orang yang Selalu Ambil Kesempatan Dalam Kesempitan dan juga artikel menarik lainnya di POJOKAN.