Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kok Masalah Klitih di Jogja Tidak Selesai-selesai?

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
10 Januari 2020
A A
klitih jogja polisi icj patroli razia pelaku ciri-ciri mojok.co

klitih jogja polisi icj patroli razia pelaku ciri-ciri mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Teror klitih di Jogja belum berakhir, setidaknya dalam waktu dekat. Sementara, di grup Facebook Info Cegatan Jogja, seorang polisi malah “baru” mengajak warga untuk mengidentifikasi pelaku klitih.

“Instansi jenengan udah komplit dan lebih tau kok malah nanya ke tukang ngarit seperti saya to pak?” demikian bunyi satu komentar di postingan Info Cegatan Jogja yang dibuat seorang polisi di Yogyakarta. Postingan si polisi yang berisi pertanyaan tentang klitih itu terasa aneh. Korban sudah berjatuhan sejak bertahun-tahun dan sekarang malah mengajak masyarakat sekadar mengidentifikasi apa itu klitih.

Minggu kemarin saja, ada dua kasus klitih di Jogja yang terjadi dalam waktu berdekatan. Satu kasus terjadi di Jalan Moses Gatotkaca, yang satu terjadi di wilayah Condongcatur. Dalam dua kejadian tersebut, ada korban yang harus dibawa ke rumah sakit karena kepalanya terkena sabetan pedang dan dibacok.

Itu baru minggu lalu, belum kasus-kasus yang memakan korban nyawa di masa lalu.

[Breaking News] barusan ada klitih gaes di Condong Catur Jogja pelaku segerombolan orang -/+ 10 motor dan berboncengan untuk korban yg di concat sudah dibawa ke rs terdekat krn kepalanya ada yg robek, sementara korban lain luka ringan dan syok pic.twitter.com/xL0fLNwG3V |@alxhabib

— Merapi News (@merapi_news) January 4, 2020

Jika polisi baru mengajak masyarakat mengidentifikasi klitih dan jenis hukuman yang bisa dipakai untuk pelaku, itu sama saja menggarami lautan. Ha ya ngapain kita penduduk sipil disuruh mumet mikir undang-undang dan keamanan? Bukan masalah nggak mau, tapi kan itu kewenangan polisi.

Partisipasi masyarakat memang diperlukan, tapi itu ketika pihak yang berwenang sudah melakukan pencegahan dan penanganan yang dibutuhkan. Coba jujur, sejauh ini apakah polisi sudah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menangani klitih?

Kalau sudah, mestinya tidak ada lagi orang yang melaporkan ancaman klitih. Memang ada yang tertangkap, tapi setelah itu ya kasus tetap terjadi. Kalau satu dua kasus selesai, namun belasan kejadian sama terulang, ya sama aja.

Akhirnya, kita cuma punya opsi untuk makin waspada atau, kalau kepepet, ya harus membela diri. Tapi tunggu dulu, membela diri dari klitih pun bisa berujung bencana. Ada kejadian di tahun 2018, sopir Colt yang membela diri karena diancam dibunuh oleh pelaku klitih malah dilaporkan oleh orang tua pelaku. Ya nasib sopir tersebut sejauh ini hanya wajib lapor sih. Tapi kalau dirinya ditetapkan tersangka, kan ya tetap wagu.

Sebagai warga negara saya berhak meminta polisi sebagai pihak berwenang untuk memberi rasa aman pada warganya. Kalau kita cuma diberi imbauan untuk mengurangi kegiatan di malam hari, ha yo prek. Nasib orang yang kerja sif malam gimana coba? Bagaimana pula nasib usaha-usaha yang beroperasi di malam hari dan menggerakkan roda ekonomi? Apa mereka harus hidup dengan rasa khawatir, waswas akan bertemu gerombolan pengendara motor yang membawa senjata tajam?

Tahun 2020 baru mengajak mengidentifikasi pelaku klitih jelas telat banget, boskuw. Sekarang sudah waktunya operasi besar-besaran untuk menghadapi teror ini. Masyarakat sudah sering melapor bagaimana ciri pelaku beroperasi. Sejumlah pelaku juga ada yang tertangkap. Mestinya makin mudah untuk polisi mengidentifikasi mana bocah kurang gawean dan mana yang klitih.

Pengalaman saya berurusan dengan polisi tidak memberi saya kesan baik tentasng pelayanan polisi dalam menyikapi kasus, dan saya yakin, banyak orang yang memberi stigma negatif ke polisi. Penanganan klitih adalah momen bagi polisi untuk memberi tahu masyarakat bahwa mereka bekerja sebaik-baiknya dengan benar-benar bergerak.

Yang ditakutkan, ketika masyarakat sudah terlalu muak lalu ambil tindakan sendiri. Bisa jadi malah ada pertumpahan darah sia-sia. Karena tingkat kepercayaan yang rendah pada polisi, akhirnya suasana malah makin mencekam.

Iklan

Sebagai pendatang di Jogja, saya sebenarnya malu menuliskan ini seakan tidak punya rasa pekewuh. Namun, saya yakin, warga Jogja merasakan kegelisahan yang. Wis ndang, Pak Polisi, segera lakukan tindakan nyata agar para korban meninggal itu tidak meninggal sia-sia.

BACA JUGA Mengintip Omzet Jualan Thai tea dan Tips Biar Dagangan Tetap Laku dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2020 oleh

Tags: ICJJogjaklitihPolisi
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO
Sosial

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.