Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Masalah yang Muncul dari Budaya Spill Pelaku Pelecehan Seksual

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
27 April 2020
A A
spill the tea, pelecehan seksual, consent, catcalling, UU ITE mojok.co

spill the tea, pelecehan seksual, consent, catcalling, UU ITE mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Budaya spill pelaku pelecehan seksual sedang marak terjadi. Namun banyak masalah muncul dari niat baik tersebut.

Ibarat map di PUBG, Twitter itu sama dengan Sanhok. Keributan bisa ditemukan di mana saja, mau di tempat paling rame atau paling sepi sekali pun. Gairah bertarungmu meluap-luap? Nggak perlu disalurkan di ring, salurkan saja di Twitter.

Belakangan ini, keributan yang marak ditemukan di Twitter adalah tentang spill identitas pelaku pelecehan seksual. Membocorkan identitas pelaku kekerasan seksual di Twitter punya tujuan untuk memberi hukuman sosial kepada pelaku. Mereka pantas dipermalukan atas segala kebejatan yang mereka lakukan.

Ada beberapa masalah yang muncul dalam membocorkan identitas pelaku pelecehan seksual di media sosial.

Pertama, membocorkan identitas pelaku pelecehan seksual melanggar asas praduga tak bersalah. Seseorang tidak bersalah hingga pengadilan membuktikan dia bersalah. Asas ini penting, karena tidak jarang juga keributan di medsos berasal dari ruang kosong, alias tipu-tipu.

Jika ternyata tuduhan yang ditujukan itu palsu, orang yang dituduh pelaku bisa jadi “kehilangan” hidupnya. Ya gimana nggak, identitas udah kesebar, udah dihujat banyak orang, ternyata tuduhannya palsu.

Kedua, pembocoran identitas pelaku pelecehan seksual ini justru rentan dilaporin balik. Pelaku, entah bersalah atau tidak, bisa menggunakan UU ITE untuk melaporkan balik dengan alasan pencemaran nama baik.

Ketiga, dan yang paling penting, yaitu tindakan ini bisa membuat trauma yang dialami korban jadi lebih dalam. Niat awal memberi hukuman pada pelaku, yang terjadi malah korban ikutan dihakimi oleh para netijen.

Orang Indonesia masih belum melek masalah pelecehan seksual. Catcalling dianggap normal, wanita disamakan dengan ikan asin, korban perkosaan dihakimi masalah pakaian, pria diperkosa dianggap “beruntung”, adalah contoh bahwa jalan kita masih begitu panjang dalam pemberantasan pelecehan seksual.

Pengetahuan dasar tentang kegiatan yang termasuk pelecehan saja masih susah dimengerti, apalagi memberantas.

Yang harus diperhatikan dalam penanganan pelecehan seksual adalah fokus kepada korbannya. Pastikan korban pelecehan harus mendapat support system yang bagus, mendapat akses untuk pemulihan dan perlindungan.

Kita harus tau apa yang korban mau lakukan, itu hal paling penting yang harus diketahui. Kalau korban memang belum siap, membuat utas panjang untuk spill identitas pelaku malah membuat korban menjadi rentan akan perisakan.

Penanganan pada korban harus jadi prioritas, bukan spill-nya. Jika memang korban siap dan identitas pelaku harus diketahui publik dengan tujuan agar orang lain tidak menjadi korban, menyebarkan identitas pelaku menjadi hal yang wajib. Tapi lagi-lagi ingat, itu harus seizin korban.

Nggak lucu juga kan kita mau melawan pelecehan seksual tapi bertindak di luar consent?

Iklan

Saran saya, kalau memang tidak tahu dan kemungkinan cangkemmu tidak bisa dikondisikan, nggak usah urun rembug. Kita nggak harus ikut ribut untuk hal yang tidak kita mengerti. Jadilah obor yang menerangi, bukan jadi obor yang bakar-bakari.

BACA JUGA One Piece Mungkin Ceritanya Bermasalah, tapi Naruto Jelas-jelas Sampah dan artikel menarik lainnya dari Rizky Prasetya.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2020 oleh

Tags: catcallingconsentpelecehan seksualspill the teaUU ITE
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Dosen UNIMA diduga lakukan kekerasan seksual ke mahasiswi FIPP hingga trauma dan bunuh diri MOJOK.CO
Aktual

Trauma Serius Mahasiswi UNIMA akibat Ulah Menjijikkan Oknum Dosen, Tertekan hingga Gantung Diri

2 Januari 2026
Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Kelam & Bikin Malu MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Mulai dari Pelecehan Seksual Sesama Jenis, Senioritas, Kekerasan, Hingga Senior Memaksa Junior Jadi Kriminal

9 September 2025
Ironi Gedangan Sidoarjo yang bikin orang Surabaya resah. MOJOK.CO
Ragam

Ironi Gedangan Sidoarjo: Jalan yang Tak Ramah bagi Perempuan karena Perilaku “Bejat” Warganya

21 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.