MOJOK.CO Liverpool ini klub yang nggak tahu diri. Fans sudah menunggu puluhan tahun untuk jadi juara Liga Inggris, mereka malah nerusin tradisi mereka yang terjadi tiap tahun: terpeleset.

Tim paling menyebalkan untuk musim ini jatuh kepada Liverpool. Maunya apa coba, dipuji karena konsistensi, sistem klub yang bagus, sekarang malah kalah tiga kali berturut-turut. Bukannya instropeksi, malah jumawa. Kalah lawan Atletico Madrid, mereka malah sesumbar datang dulu ke Anfield baru bicara. Kalah lawan Watford, masih jumawa. Lawan Chelsea, tim yang lawan Manchester United aja dibantai, mereka kalah juga. Padahal Manchester United itu kalau lawan Persiwi Wonogiri itu di bursa taruhan pol pentok ngepur 1.

Liverpool kalah di tengah musim itu bukan anomali, sudah biasa terjadi. Kemungkinan Liverpool terpeleset di tengah dan akhir itu sama besarnya dengan peluang Fadjroel atau Denny Siregar bikin twit blunder.

Kayak gini mau juara back-to-back Liga Champion? Ngimpi.

Menjagokan Liverpool juara Liga Inggris itu gampang. Chelsea dan Manchester United yang membuatmu kerap mengucap istighfar ketika main, Arsenal just being Arsenal, dan City yang melempem membuat Liverpool jadi satu-satunya pilihan untuk dijagokan. Tapi kalau satu liga yang berisi tim yang nggak paham mau ngapain aja dia udah kalah, wajar kita diterpa keraguan.

Argumen Liga Inggris adalah liga paling kompetitif itu nggak salah, tapi nggak tepat di waktu yang bersamaan. Kalau tim kecil bisa mengalahkan tim besar adalah indikator kompetitif, liga mana pun ya ada kejadian kek gitu. Kejadian paling baru ya Real Madrid kalah lawan Levante. Kalau indikatornya adalah semua tim bisa saling mengalahkan satu sama lain, mana ada tim yang berangkat dengan niat kalah?

Baca juga:  Menghitung Penghasilan Pep Guardiola, Pelatih dengan Gaji Tertinggi di Liga Inggris

Kans Liverpool di Liga Champion juga terancam. Meski mereka akan melakoni laga kandang, Atletico Madrid bukan tim kacangan di Liga Champion. Modal kemenangan di kandang membuat moral mereka naik. Diego Simeone dan anak buahnya tahu kalau mereka tidak mungkin mengejar Real Madrid dan Barcelona di La Liga, maka mereka akan jor-joran di Liga Champion.

Berlebihan ketika bilang Liverpool akan gagal juara Liga Inggris mengingat mereka cuma butuh 12 poin dari laga yang tersisa. Tapi ketika mereka gagal menang di 3 pertandingan terakhir, ini pertanda bahwa Liverpool nggak benar-benar bisa lepas dari kebiasaan buruknya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi cuma gagal juara liga di akhir-akhir, orang sudah pernah.

Padahal ini kesempatan Liverpool membuktikan bahwa mereka mendominasi Eropa musim lalu itu bukan kebetulan. Meski lawan Barcelona mereka membalikkan keadaan, itu bukan contoh bagus tentang dominasi mereka. Barcelona musim lalu dan musim ini sama saja, mereka payah. Apalagi melihat laga final, duh. Tottenham itu tempatnya di jamban, bukan di final sekelas Liga Champion.

Ini saat yang tepat untuk meragukan van Dijk dan kawan-kawannya untuk melibas semua gelar. Gelar FA sudah lepas dari tangan setelah dilibas Chelsea. Mereka masih punya kans untuk mengambil gelar Liga Champion dan juga gelar Liga Inggris. Kalau performa tak berubah, dua piala tersebut bakal lepas di depan mata seperti yang sudah sudah.

Baca juga:  Chelsea dan Cara Mereka Mempermalukan Diri Sendiri

Kalau kejadian lagi sih, nggak kaget sebenernya.

BACA JUGA Jurgen Klopp Tak Mau Jawab Soal Virus Corona Adalah Sikap yang Tak Boleh Ditiru dan artikel menarik lainnya di BALBALAN.