Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Makan yang Sopan dan Tidak Sopan

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
30 September 2014
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagaimana cara makan yang (dianggap) baik dan sopan? Apakah makan dengan bersuara berkecap dianggap tidak sopan dan tidak baik? Dan darimanakah asal-usulnya, makan yang dikunyah dengan bibir tertutup kemudian dianggap sopan dan baik? Siapa yang mengukur sopan atau tidak, dan apa pentingnya?

Suatu hari saya menanyakan hal itu kepada Remy Sylado di dalam mobil, sepulang kami dari rumahnya di Darmaga, Bogor. Saya bercerita tentang seorang teman yang punya kebiasaan makan sembari mulutnya berbunyi “cap, cap…” Kadang malah berdahak. Saya tidak menyebut teman itu tidak sopan kecuali saya hanya merasa terganggu. Seperti mendengar sesuatu yang meruntuhkan selera makan.

Saya memang punya pengalaman pahit dengan makan berkecap. Dulu sekali, saya pernah disiram air minum oleh bapak hanya karena saya makan berkecap. Saya kaget. Mungkin juga menangis. Acara makan menjadi tegang. Malam itu, bapak bilang: “Makan sambil berkecap itu tidak sopan. Seperti anjing.”

Bapak memang keras mengajarkan adab. Saya, kakak dan adik saya selalu diajar oleh bapak untuk makan dengan tidak mengeluarkan suara dari mulut setiap kali makan bersama di meja makan sehabis maghrib. Kami juga diajar agar tidak meletakkan siku di atas meja makan dan hanya mengambil makanan yang terdekat dari tempat duduk kami. Kalau hendak mengambil makanan yang tidak terjangkau, bapak mengajarkan untuk menunggu orang yang dekat dengan makanan itu selesai mengambilnya, dan setelah itu baru meminta tolong untuk mendekatkannya ke kita.

Ketika saya punya anak, saya mengajarkan apa yang diajarkan oleh bapak saya kepada anak saya, setiap kali kami makan bersama. Tapi tak pernah saya menyiram air ke muka anak saya. Setiap kali makan, saya hanya bilang, “Bila kamu makan sama papa dan mama, kamu boleh makan dengan cara sesukamu. Tapi kalau makan bersama teman-temanmu dan di tempat umum, tolong katupkan mulutmu agar tidak bersuara, karena bisa mengganggu orang lain.”

Lalu Remy bercerita, dalam konteks Indonesia, makan dengan mengatupkan dua bibir adalah ajaran Belanda. Belanda mengajarkan hal ini kepada kalangan keraton lengkap dengan tata cara makan di meja makan seperti tidak boleh meletakkan dua siku di atas meja makan. Begitulah adab makan yang bescheiden. Itu sebabnya, keraton kemudian menganggap diri mereka adalah kalangan yang menjunjung etiket dan kesopanan, dan di luar mereka adalah golongan yang orang-orang yang tidak beretiket.

Ketika Jepang datang, mereka melakukan sebaliknya: makan dengan berkecap. Orang-orang Jepang makan seperti itu terutama untuk menghormati orang. Hendak memberitahu: makanan yang dimakan sungguhlah enak. Cara itu, tentu saja berkebalikan dengan ajaran Belanda yang menganggap makan sambil berkecap adalah cara makan orang-orang bar-bar. Dianggap tidak met goede manieren.

Dalam perkembangannya, ajaran Belanda itulah yang lebih banyak digunakan sebagai standar cara makan yang baik dan sopan. Masyarakat internasional pun (termasuk Jepang), menyepakati: makan yang tidak mengecap itulah cara makan yang baik dan sopan.

Kesopanan memang relatif. Sopan di suatu tempat, bisa sangat tidak sopan di tempat lain.

Orang Belanda menganggap bersendawa di tempat umum sangat tidak sopan. Di Indonesia, berkentut di tempat umum bisa ditertawakan dan dianggap tidak sopan. Banyak orang menganggap meludah sembarangan sangat tidak sopan, tapi di Cina, orang-orang biasa meludah di warung makan. Di Rusia, tersenyum pada orang yang tidak dikenal bisa dianggap tertarik secara seksual. Tabu melambaikan tangan di Korea Selatan kecuali hendak memanggil anjing. Melangkahi kaki orang yang berselonjor dianggap perilaku sangat buruk di Nepal.

Maka silakan makan dengan cara yang disukai.Silakan berkecap bila itu dianggap tidak menjadi masalah. Silakan makan dengan mengatupkan dua bibir, bila cara itu dianggap yang paling sopan.

Pengalaman saya sebagai wartawan dan sering diundang untuk acara jamuan makan menunjukkan, kesopanan memang tergantung pengalaman masing-masing orang.

Saya sering melihat wajah-wajah orang yang mengundang makan seperti terpengarah sewaktu mereka melihat cara makan beberapa wartawan. Bukan hanya berkecap, tapi para wartawan itu juga menumpuk banyak makanan di piring mereka. Mi goreng digabung dengan nasi. Dicampur capcay, telor rebus dan telor goreng, daging, sup jagung dan sebagainya.

Sebaliknya, saya melihat wajah para wartawan itu seperti biasa-biasa saja. Mereka mungkin menganggap perilaku makan mereka tidak melanggar kesopanan. Lagi pula, siapa yang tahu, kalau mereka sebetulnya benar-benar kelaparan atau tidak pernah memakan makanan yang diperjamukan; meskipun yang sering saya temui kemudian, makanan mereka tidak habis dimakan. Teronggok di piring dan kemudian dibuang begitu saja oleh palayan, ke tempat sampah.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2018 oleh

Tags: makanpengalamansopan
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Rasanya 30 Tahun Tinggal di Jogja | Semenjana Eps. 7
Video

Rasanya 30 Tahun Tinggal di Jogja | Semenjana Eps. 7

10 Maret 2025
Pengalaman Mahasiswa Magang di DPR RI, Ternyata Tidak (Selalu) Seburuk Omongan Orang
Kampus

Pengalaman Mahasiswa Magang di DPR RI, Ternyata Tidak (Selalu) Seburuk Omongan Orang

13 Mei 2024
Pengakuan Pelanggan Kopi Klotok yang Tidak Bayar, Pakai Kode "Nenek" dan "Pengajian" MOJOK.CO
Kuliner

Pengakuan Pelanggan Kopi Klotok yang Tidak Bayar, Pakai Kode “Nenek” dan “Pengajian”

3 Agustus 2023
Penjual Mie Ayam yang Memberikan Resep Rahasianya
Liputan

Penjual Mie Ayam yang Memberikan Resep Rahasianya 

3 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.