Seorang Ateis dari Keluarga Religius, Ingin Bersenang-senang dan Mati Muda

Ia justru menjadi semakin ateis di bulan ketika orang berlomba-lomba menjadi semakin religius dan meningkatkan imannya. Bulan yang seharusnya untuk berbuat banyak kebaikan dan bertobat.

Mojok.co berbincang dengan salah seorang ateis dan menceritakan seperti apa kehidupannya. Berikut adalah penuturannya, seperti yang dia katakan kepada kontributor Susul Mojok, Riyanto, pada Selasa 20 April 2021.

***

Aku mengenal Riyanto sudah sejak kuliah, pun sudah ratusan kali dia mendengar cerita tentang kenapa aku bisa begitu benci dengan agama, terutama agama Islam. Dari kebencian itu akhirnya aku menjadi ateis. Makanya, ketika Riyanto mengajak aku ngopi berdua dan ingin membahas seputar ke-ateis-anku, aku menyanggupinya begitu saja.

Kami bertemu pada 20 April 2021 malam di sebuah kedai kopi, dan kepadanya aku menceritakan semuanya dari awal. Hal-hal yang sudah dia ketahui, pun beberapa detil yang belum dia ketahui.

Keluarga yang sangat religius

Semuanya berawal dari sebuah rumah kecil berlantai dua di Jalan Monumen Jogja Kembali (Monjali) Yogyakarta, tempat aku dilahirkan di sebuah keluarga yang mengklaim paling beriman daripada yang lain. Sepuluh bersaudara, dan kami semua dilarang untuk meninggalkan rumah untuk merantau maupun bekerja.

Kami bersepuluh, ditambah ayah dan ibu, menghabiskan tahun demi tahun di sebuah rumah yang sangat tidak layak untuk dihuni sebegitu banyak orang. Jalanan di luar bising, sementara bengkel las di lantai satu selalu saja berisik. Tidak pernah ada yang namanya ketenangan di rumah itu.

Pun kamarnya tidak mencukupi. Aku berkali-kali berebut kamar dengan kakak-kakakku. Kalau berhasil, aku bisa tidur di kamar dengan kasur yang biasa saja. Kalau gagal, aku tidur di sembarang tempat di rumah yang bisa kujadikan tempat tidur. Bagaimana dengan makanan? Kadang mencukupi, kadang aku bahkan menyimpan satu potong ayam goreng untuk beberapa hari. Itu juga kalau tidak ketahuan anggota keluarga lain dan dimakan mereka.

Lantai pun menjadi ajang rebutan untuk tidur lainnya, apalagi ketika kakak-kakakku sudah berkeluarga dan memiliki anak. Ya, sekalipun sudah berkeluarga, mereka tidak diizinkan meninggalkan rumah.

Menurut ayah dan ibuku, kami sekeluarga adalah penganut Islam yang paling suci, sehingga membaur dengan masyarakat yang tidak sealiran dengan kami akan menambah dosa. Atas alasan itu pula tidak ada satu anggota keluarga yang boleh pergi dari rumah.

Kami sungguh taat beribadah, pun saya ketika kecil. sebagai muslim, saya cukup pandai mengaji sewaktu kecil, dan itu adalah sesuatu yang kubanggakan. Aku tidak populer di sekolah dan cenderung menutup diri, pun tidak ada yang mau berteman denganku. Hebatnya, karena aku sekeluarga sangat religius, aku memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan hal lain.

Dalam aliran yang dianut keluargaku, kami haruslah optimis dan merasa paling hebat. Tidak apa-apa tidak populer di sekolah, toh mereka yang populer adalah ahli neraka. Premis seperti itu yang membuat kadar megalomaniak di diriku menjadi-jadi.

Aku memang cupu dan tidak memiliki teman, tetapi aku pandai mengaji. Itu sudah cukup membuatku percaya diri bahwa aku diakui di lingkungan seiman, dan itu adalah segalanya. Biarlah aku tidak memiliki teman, pun biarlah aku hidup berdesak-desakan dengan keluargaku di rumah kecil itu, yang penting kami sekeluarga sangat beriman.

Biarlah keluarga kami dikucilkan oleh semua warga desa, toh apa untungnya bersosialisasi dengan para ahli neraka? Bagi aku dan keluarga, pun bagi aliran agama kami, hanya ada tiga hal yang penting. Tuhan, Nabi, dan Pemimpin Aliran—yang perintahnya mutlak harus dituruti. Konsep Trinitas paling paripurna dan harus dijunjung tinggi.

Membenci keluarga, membenci agama

Aku tumbuh menjadi anak yang religius, sampai ketika aku SMP, aku mulai merasa ada yang aneh dengan keimananku, pun keimanan keluargaku. Level megalomaniak kami menjadi tampak berbahaya, terlebih ketika sering terjadi kecelakaan lalu lintas di depan rumah kami.

Photo by Matthew T Rader on Unsplash

Photo by Matthew T Rader on Unsplash

Ayah selalu menolak membantu korban kecelakaan itu dengan dalih bukan bagian aliran kami. Awalnya aku menerima konsep itu, tetapi semakin dewasa, aku semakin merasa ada yang tidak beres. Bagaimana mungkin kami yang merasa paling beriman, justru enggan membantu orang lain yang sedang dalam masalah?

Dari peristiwa demi peristiwa kecelakaan itu, aku mulai muak dengan konsep agama yang keluargaku anut. Kami adalah yang paling suci, dan ketika melihat orang lain sukses karena bisnis atau apa pun, kami tinggal bilang bahwa mereka pasti masuk neraka. Benar, kami menolak kagum dengan apa pun dengan dalih bahwa yang harusnya dikagumi itu adalah ahli neraka.

Semuanya mulai terasa tidak masuk akal, sekalipun banyak orang akan mengatakan bahwa tidak ada yang masuk akal saat berurusan dengan agama. Persetan, setidak masuk akalnya konsep agama, tetap tidak ada yang benar dengan mengahli-nerakakan semua orang yang tidak sealiran, terlebih menganggap najis mereka semua. Jika agama memang harus tidak masuk akal, maka konsep aliran agama keluargaku jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Ketidak masuk-akalan lainnya adalah adanya konsep penebusan dosa. Aku lupa pastinya setiap momen apa, tetapi ada kurun waktu di mana kami harus melakukan penebusan dosa di masjid agar kami kembali suci. Itu adalah kewajiban, dan kami harus membayar untuk melakukan penebusan dosa. Konsep itu sungguh tidak masuk akal, dan lebih dekat dengan bisnis alih-alih keagamaan.

Yang membuatku lebih muak adalah bahwa aliran agama yang keluargaku anut sangat berpotensi menjadi kendaraan politik. Suara pemimpin aliran adalah kewajiban untuk dilakukan, dan siapa pun tokoh politik yang didukung oleh pemimpin aliran, maka seluruh penganut aliran kami di Indonesia, sudah pasti memilih tokoh itu.

Baca juga:  Forum Muslim Bogor Ngawur Kaitkan Tahun Baru Imlek dengan Agama Konghucu

Pada pemilihan presiden tahun 2014 lalu, keluargaku adalah pecinta Jokowi garis keras. Setiap ada pemberitaan tentang Jokowi, ayah tidak pernah absen mengikutinya. Pokoknya seratus persen suara keluarga kami untuk Jokowi, sampai akhirnya pemimpin aliran memerintahkan agar seluruh umatnya memilih Prabowo.

Jadilah keluarga kami, sekalipun suara awalnya untuk Jokowi, pada akhirnya memilih Prabowo. Kecuali aku, yang memutuskan untuk tidak memilih siapa pun karena persetan dengan urusan politik. Aku datang ke TPS, mencoblos asal-asalan, lantas ketika ditanya siapa yang kupilih, kusebut saja Prabowo.

Itulah, pada akhirnya aku menganggap bahwa agama adalah kendaraan politik. Di baliknya, ada bisnis untuk mengurusi organisasi besar dari aliran kami. Konesp keimanan? Halah, nyatanya keluargaku malah lebih hobi menajiskan orang lain dan menyucikan diri sendiri daripada berbuat baik yang konon adalah tujuan utama agama.

Lantas bagaimana keadaan keimanan sepuluh bersaudara di rumahku? Mereka semua sama seperti ayahku, yang taat dan merasa paling suci. Sayangnya, konsep agama yang mereka anut—dan mulai aku tinggalkan—tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Bagaimana bisa bahagia jika tinggal di rumah sempit dengan banyak kepala di dalamnya, terlebih banyak yang sudah berkeluarga?

Hampir setiap hari ada pertengkaran. Hampir setiap hari terjadi perebutan kamar. Berisik. Bising. Riuh. Berantakan. Ketika banyak orang menganggap rumah adalah tempat mencari ketenangan, bagiku rumah adalah neraka.

Ditambah, aku tidak memiliki tempat untuk berkeluh-kesah tentang kehidupanku. Semuanya kupendam seorang diri. Berkeluh-kesah dengan ibuku adalah masalah tersendiri, karena setiap kali aku pulang dengan kepala pusing akan banyak hal, yang pertama diucapkan ibuku adalah, “Sudah sholat belum?”

Di situ aku muak. Aku tidak mau ditanya sudah salat apa belum. Aku tidak butuh ibuku peduli dengan keimananku. Aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin jika aku pulang ke rumah dengan perasaan kacau, ibuku bertanya bagaimana keadaanku, bagaimana hari-hariku, atau yang paling sederhana, apakah aku sudah makan apa belum. Dan itu semua tidak kudapatkan.

Seiring berjalannya waktu, keluargaku semakin menyebalkan. Mereka yang mengklaim suci, nyatanya bangsat juga. Kakak perempuanku pernah kepergok tidur dengan suami kakak perempuanku yang lain. Yang memergoki tidak tanggung-tanggung, adalah anak dari kakak perempuanku yang lainnya itu. Setelah itu anak kakak perempuanku mengalami depresi habis-habisan yang justru disalahartikan keluargaku sebagai kesurupan. Dia sering teriak-teriak dan mendadak menangis sendiri. Atas dasar itu pula dia dikeluarkan dari sekolahnya.

Bagaimana keluargaku menanggapinya? Didatangkanlah ‘orang pintar’ untuk mengusir setan yang dianggap menempeli keponakan saya itu. Keponakan saya diminta meminum air putih yang sudah diludahi orang pintar itu. Bangsat. Keponakan saya itu butuh psikolog, tetapi keluargaku justru mempercayakan masalah itu kepada orang pintar.

Berawal dari semua itu, dari kemuakanku dengan keluarga dan konsep agama yang keluargaku anut, aku akhirnya membenci agama. Dari membenci, akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli, pun membuang jauh-jauh konsep agama di hidupku.

Puncaknya adalah ketika kuliah semester empat. Aku memberontak. Terang-terangan memberontak dan keluargaku mulai membenciku. Persetan, toh aku sudah muak dengan mereka terlebih dulu. Jadilah aku memutuskan keluar dari rumah, membuang semua konsep agama, dan hidup mandiri di Yogya sebagai seorang ateis.

Tak memiliki prinsip, tak memiliki tujuan hidup

Kuliahku berantakan. Aku muak dengan konsep pembelajaran omong kosong yang minim praktik. Nilai-nilaiku jelek, tetapi jangan tanya perihal keahlianku di bidang jurusan kuliah. Kemampuanku di bidang progamming jauh di atas rata-rata, dan aku mendapatkan banyak uang dari kemampuanku. Lucu, banyak teman kuliahku yang nilainya bagus, tetapi kemampuan programming mereka kalau boleh kubilang sangatlah sampah. Mereka mengejar nilai, aku mengejar keahlian. Dan seperti biasa, aku tidak memiliki teman di kampus.

Photo by Noah Silliman on Unsplash

Kalau kemudian ditanya apakah aku kesepian atau tidak, jujur aku sangat kesepian. Tetapi aku tidak tahu caranya bersosialisasi dengan orang. Mereka akan menganggapku aneh. Si cupu maniak teknologi dan tidak beragama. Sampai pada akhirnya aku bertemu Riyanto, yang katanya tidak peduli konsep agama. Dia yang pernah menjadi asisten dosen praktikum dan lumayan populer di kalangan mahasiswa jurusan kami, meski kalau boleh kubilang kemampuan programming-nya sungguh pas-pasan.

Dia berteman denganku, diawali karena ketertarikan kami tentang film-film sains. Kami berteman setelah itu, dan dia membawaku ke lingkungannya. Pada akhirnya aku memiliki teman. Aku selalu ikut kelas praktikum Riyanto, dan dia selalu mendewakanku di hadapan mahasiswa-mahasiswa lain. Aku mendadak populer, dan banyak yang mau berteman denganku karena aku jago membuat aplikasi. Pun saat itu, start-up yang kubangun di bidang aplikasi tenaga medis telah mendapat investor dan aku lumayan punya banyak uang.

Untuk pertama kalinya aku mendapatkan popularitas. Banyak orang memujaku. Tetapi di sisi lain, mereka semua hanya memanfaatkanku. Aku hanya menjadi tempat bagi mereka untuk membantu mengerjakan tugas kuliah. Tetapi sekalipun dimanfaatkan, aku menikmati peran itu. Mereka mau-mau saja mendengar ceritaku tentang ateisme, karena jika tidak mendengar, aku tidak akan membantu mereka. Mereka pura-pura menerimaku, dan aku paham betul tentang itu.

Baca juga:  Mempertanyakan Kepantasan Ustaż Kiwil

Aku menikmati bersosialisasi, sekalipun entah yang bersosialisasi denganku menikmatinya atau tidak. Aku memiliki banyak uang, dan siapa saja yang dekat denganku, pasti kubelikan ini itu. Membeli teman, barangkali itu adalah ungkapan yang paling tepat.

Ternyata memiliki teman—meski kebanyakan hanya pura-pura—sungguh menyenangkan. Aku tidak pernah merasa membutuhkan banyak orang di sekitarku, tetapi ternyata aku menikmatinya. Mengucapkan omong kosong kepada mereka, membual banyak hal, atau membahas film-film dan berteori dengan Riyanto ternyata begitu membuatku lega. Aku tidak memikirkan beban-beban hidupku. Aku tidak memikirkan keluargaku yang paling suci itu. Aku hanya memikirkan diriku dan kesenangan-kesenangan yang kulakukan.

Sayangnya, semuanya kembali berantakan saat start-up yang kurintis bangkrut. Aku kehilangan semuanya. Aku menjauh dari siapa saja. Pun kuliahku semakin berantakan. Segalanya hancur, pun aku tahu keluargaku pasti menertawakanku jika mengetahui kegagalanku ini. Aku selalu terbentur akan banyak hal dan tidak memiliki gambaran tentang apa yang harus kulakukan.

Menurut Riyanto, aku tidak memiliki sosok panutan untuk kuteladani, sehingga berakhir aku tidak memiliki prinsip, pun tidak memiliki tujuan hidup. Dia benar. Bagaimana bisa aku memiliki sosok panutan jika aku lahir dan besar di lingkungan seperti keluargaku? Orang-orang pasti meminta aku untuk menjadikan Nabi sebagai panutan, tetapi itu justru lebih tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku menjadikan orang yang tidak kukenal sebagai panutan?

Di sisi lain, Riyanto mengatakan bahwa agama bisa saja memberi jawaban atas permasalahanku. Agama bisa menjadi jalan pulang. Sekali lagi dia benar, tetapi tidak untuk agama yang dianut oleh keluargaku. Adalah kebodohan bagiku, jika aku kembali berkelindan di agama yang konon paling suci itu.

Atas dasar itu, Riyanto mengklaim bahwa aku adalah ateis yang lahir karena kebencian terhadap keluarga, dan aku setuju seratus persen dengannya. Aku menjadi ateis bukan karena memikirkan apakah Tuhan sungguh ada atau tidak. Aku juga bukan orang yang memuja sains seratus persen dan menganggap bahwa hal-hal mistis itu tidak ada, karena pada kenyataannya aku tetap takut dengan hantu. Pun aku tidak menjadi ateis karena malas beribadah. Aku menjadi ateis karena membenci keluargaku yang terlalu konservatif dengan agama, sehingga aku berakhir membenci agama, sehingga aku merasa agama bukanlah jalan pulang.

Kalau boleh kubilang, aku menjadi ateis justru karena keluargaku terlalu memuja agama. Ironis, memang, dan entah apakah orang sepertiku ada di tempat lain atau tidak.

Susahnya berpura-pura memiliki iman

Aku merasa menjadi bebas sebebas-bebasnya begitu membuang konsep agama. Aku melakukan banyak hal yang aku suka yang dulu terhalang oleh agama. Aku menorehkan tato di tubuhku, yang tentu saja bakal membuat keluargaku muak setengah mati. Aku tidur dengan banyak perempuan, baik yang kubayar maupun tidak. Aku bersenang-senang. Batasan itu tak lagi ada di hidupku, sampai akhirnya ketika bulan puasa tiba, aku merasa kembali terkekang.

Ketika memutuskan untuk membuang semua konsep agama di hidupku, aku merasa menjadi alien yang harus menyamar menjadi manusia. Mayoritas orang di negara ini beriman, dan kadar religius mereka semakin menjadi-jadi jika bulan puasa tiba. Bagi mereka yang beriman, bulan puasa adalah romantisme tersendiri, sementara bagiku adalah petaka lainnya. Aku jadi susah mencari makanan di siang hari, pun harus bersembunyi dari teman-temanku—maksudku orang di sekitarku—yang beriman.

Apalagi di pagi hari ketika banyak orang menabuh bunyi-bunyian keliling kampung untuk membangunkan sahur. Itu adalah suara bising paling menyebalkan yang pernah kudengar. Itu adalah jam-jam di mana aku bekerja menyelesaikan proyek-proyekku, dan di saat aku harus fokus, suara membangunkan sahur itu justru mengusik ketenanganku.

Aku semakin merasa asing di bulan puasa karena banyak hal yang di bulan-bulan sebelumnya bisa kulakukan, justru menjadi terkendala di bulan puasa. Aku lumayan sering menggunakan jasa pelacur—salah satu pelarianku. Dan itu susah kulakukan di bulan puasa. Aku bisa saja tetap melakukannya, tetapi entah bagaimana aku merasa harus menghormati bulan yang konon suci itu.

Iya, aku menghormati bulan suci, pun menghormati mereka yang meromantisasi bulan itu, tetapi di sisi lain jika mereka mengetahui seperti apa diriku, yang tidak bertuhan dan membenci agama, sudah pasti tidak akan menghormatiku.

Aku membatasi kebebasanku ketika bulan puasa tiba. Pun aku tidak pernah memiliki kenangan manis di masa kecil saat puasa. Aku dulu tidak bisa bermain petasan dan curi-curi bolos tarawih karena keluargaku kalau tarawih ya harus di masjid yang sealiran dengan mereka dan tidak ada anak-anak yang bermain petasan di masjid itu.

Lebaran juga masalah tersendiri. Aku sungguh malas berkumpul dengan keluarga besar karena mereka akan membahas omong kosong lainnya tentang seperti apa kebahagiaan keluarga masing-masing. Persetan, keluargaku sama sekali tidak bahagia. Makanya, daripada ikut berkumpul bersama keluarga, aku lebih memilih menyewa kamar hotel dan bercinta dengan siapa saja.

Aku bebas melakukan apa saja. Akan tetapi di sisi lain, ternyata kebebasan itu membuatku tidak mendatangkan ketenangan yang selama ini kucari.

Tak pernah lari dari ke Tuhan

Mereka merasa memiliki pelindung yang senantiasa siap membantu mereka kapan pun masalah tiba. Sialan, mana ada konsep seperti itu di hidupku? Gagal ujian, tinggal berserah diri kepada Tuhan. Gagal dapat pekerjaan, kembali berserah diri. Dipecat, kembali berserah diri. Segala hal bisa diselesaikan dengan berserah diri. Urusan apakah masalah selesai atau tidak, tak jadi soal. Mereka merasa lebih tenang setiap kali berserah diri. Urusan mereka hanya kembali ke Tuhan ketika ada masalah, aku semakin tak peduli.

Baca juga:  Mitos Hantu di UGM dan Mereka yang Pernah Mengalaminya

Bagaimana denganku? Aku tidak mengenal konsep cengeng seperti itu. Aku tidak pernah punya siapa pun untuk mengadu. Orang tua? Mereka hanya akan memintaku salat dan salat setiap kali aku berkeluh kesah. Kakak-kakakku? Mereka sama saja dengan orang tuaku yang begitu cinta dengan agama.

Tuhan? Konsep apa itu? Aku tidak pernah lari ke Tuhan setiap kali terkena masalah. Bagiku, Tuhan tidak akan membantu apa-apa sekalipun aku berserah diri. Aku membutuhkan solusi nyata dari semua masalahku, pun aku terbiasa menyelesaikan semua masalahku tanpa membawa-bawa konsep ‘Bantuan Tuhan’ yang selalu diagung-agungkan banyak orang.

Atas dasar itu pula aku malas bercerita dengan siapa pun terkait masalahku. Mereka selalu memberi jawaban klise seperti, “Coba mendekat ke Tuhan,” dan premis seperti itu. Bukannya memberi solusi atas masalah yang kumiliki, mereka malah menyarankan mendekat ke Tuhan. Alasan itulah yang membuatku menutup diri dan enggan bercerita kepada siapa pun.

Aku tidak mencari Tuhan ketika tidak memiliki teman. Aku tidak mencari Tuhan saat start-up yang kurintis bangkrut. Aku tidak mencari Tuhan ketika teman-teman di sekelilingku pergi begitu aku kehabisan uang. Aku menanggungnya sendiri.

Photo by Dan Gribbin on Unsplash

Aku hanya bercerita sesekali ke Riyanto, jika memang sudah terlalu berat rasanya kupendam sendiri, dan untungnya dia tidak pernah membawa-bawa konsep Tuhan saat merespon ceritaku. Dia juga yang mengatakan, saat kubahas perihal betapa cemen mereka yang beragama karena selalu mendekat ke Tuhan saat ada masalah, bahwa itu adalah keuntungan bagi mereka yang beragama. Salah satu keuntungan mereka yang beragama adalah merasa memiliki pelindung, sehingga perasaan itulah yang akan menyelamatkan saat ada masalah dalam hal apa pun.

Persetan dengan konsep itu. Bagiku agama hanya omong kosong. Seharusnya konsep agama dihapuskan saja, dan biarkan manusia saling berbuat baik tanpa ada agama di baliknya. Ketika mendengar kalimatku, Riyanto mengatakan bahwa justru di situlah peran agama. Bahwa berbuat baik adalah keharusan, akan tetapi tidak semua orang tahu bagaimana caranya, dan agama hadir untuk membantu manusia berbuat baik. Lucu juga bagaimana kalimat itu diucapkan seseorang yang juga kutahu tidak religius sama sekali seperti Riyanto.

Kadang aku berpikir, jangan-jangan aku tidak memiliki ketenangan dalam hidup karena memang tidak memiliki tempat bersandar. Aku tidak mengenal konsep transenden, dan itu membuatku selalu resah. Aku sempat ingin memeluk agama, semata-mata penasaran apakah aku bisa bahagia atau tidak, tetapi di sisi lain ketika membahas agama, yang terlintas adalah keluargaku yang sungguh kolot itu.

Aku bertanya kepada Riyanto, kenapa kebanyakan orang yang beragama itu justru tampak bahagia dan memiliki hidup tenang, dan dengan santai Riyanto menjawab, karena ‘mereka’ tidak mempertanyakan banyak hal. Bagi Riyanto, istilah ‘iman’ yang artinya ‘percaya’ adalah kunci dari segalanya. Semuanya akan baik-baik saja jika sudah menggunakan diksi ‘iman’ itu. Pun menurut Riyanto, itulah yang tidak dimiliki orang sepertiku.

Aku selalu mempertanyakan banyak hal. Ya bagaimana tidak mempertanyakan banyak hal, ketika ayahku bilang tidak perlu membantu orang yang kecelakaan karena mereka najis? Bagaimana bisa aku menormalisasi hal itu hanya dengan diksi ‘iman’?

Mencoba berdamai, tetapi semakin membenci

Bedebahnya, aku adalah pendendam yang ulung. Aku mencoba membuktikan kepada keluargaku bahwa sekalipun aku memberontak dan tidak beragama, pun tidak bertuhan, aku bisa melakukan hal-hal hebat. Benar, caraku membalas dendam adalah mencoba membuat keluargaku terkesan, dan itu adalah kebodohanku yang paling paripurna.

Seperti yang kubilang sebelumnya, keluargaku—terlebih semua penganut aliran mereka—adalah sekumpulan entitas yang mustahil dibuat kagum. Hebat sekali bagaimana aliran agama bisa mendoktrin ribuan orang untuk melakukan hal seperti itu.

Ketika start-up yang kubangun berjaya, tidak ada kekaguman sama sekali. Ketika akhirnya aku menderita kebangkrutan, mereka menertawakanku. Aku muak dan semakin membenci mereka. Akan tetapi, pada akhirnya aku memutuskan untuk mencoba kembali ke keluargaku. Aku berpikir, dengan segala kegagalan yang kuderita, aku akan menemukan ketenangan jika kembali ke keluargaku. Kupikir mereka sudah tidak sekolot dulu.

Akan tetapi ternyata tidak ada yang berubah. Keluargaku tetap kolot, dan ketenangan yang kucari tidak juga kutemukan. Saat akhirnya aku mulai bangkit dan karierku mulai bagus, sekali lagi aku mencoba membuat keluargaku terkesan. Barangkali kebodohanku yang lain.

Aku membeli mobil dengan jerih payahku sendiri. Berharap ayah dan ibuku akan kagum dan membanggakanku kepada siapa pun, tetapi nyatanya tidak. Ketika kubawa ayahku berkeliling dengan mobil, dia berkata bahwa apa pun yang berhasil kudapatkan, aku akan tetap dianggap bukan siapa-siapa jika tidak menganut kembali aliran agama keluargaku.

Semenjak saat itu, aku semakin membenci keluargaku. Semakin ateis. Membenci agama yang dianut keluargaku. Muak. Pun aku berhenti mencoba membuat mereka kagum. Aku tidak memiliki target apa-apa lagi. Aku hanya ingin bekerja, mendapatkan banyak uang, foya-foya, dan mati muda.

“Aku ingin bersenang-senang, melakukan semua yang aku suka, membeli segala yang kuinginkan, dan mati di umur 30 tahun,” tegasku kepada Riyanto ketika dia bertanya apa lagi yang kuinginkan dalam hidup.

BACA JUGA  Pendapatannya Jadi Muncikari Ayam Kampus Puluhan Juta Rupiah dan Dia Memilih Tobat dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.