Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kritik atas Model Keberagamaan Agama Semitik Saat Ini

Ulil Abshar Abdalla oleh Ulil Abshar Abdalla
15 Mei 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Agama-agama semintik menjadikan manusia sebagai pusat perhatian. Bahkan sampai pada tahap mengabaikan lingkungan sekitar.

Salah satu kritik terhadap cara pandang ketuhanan yang diperkenalkan oleh agama-agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam) adalah terlalu dominannya pandangan yang serba-manusia (antroposentris).

Manusia menjadi pusat perhatian, sehingga mengabaikan hal-hal lain dalam sistem kehidupan dan alam raya yang kompleks. Aspek lingkungan, misalnya, kurang mendapatkan perhatian yang memadai dalam modus berteologi dan beragama kita.

Teologi yang serba-Tuhan-dan-manusia (teo-antroposentris) ini, demikian kritik itu, secara tak langsung menyediakan dasar-dasar teologis yang membenarkan eksploitasi alam. Akibatnya, muncul dampak-dampak lingkungan yang berbahaya. Dalam skala global, dampak ini bahkan mengancam bumi dan atsmosfer secara keseluruhan (ingat ancaman perubahan iklim dan pemanasan global!).

Kritik ini mula-mula muncul di Barat sebagai bagian dari gelombang kesadaran baru mengenai pentingnya isu lingkungan. Ketimbang merupakan kritik secara umum terhadap agama-agama semitik (terutama Kristen), kritik ini lebih tepat disebut sebagai kritik yang secara spesifik terarah kepada modus peradaban kapitalis di Barat yang begitu “rakus” dan abai terhadap lingkungan.

Eksploitasi terhadap alam (hutan, tanah, air, dan sumber-sumber alam yang lain) terjadi pada skala yang massif dalam peradaban kapitalis yang umurnya baru sekitar dua abad (sejak revolusi industri pertama di Inggris pada Abad ke-18).

Sejumlah sarjana kajian agama (religious studies) mengemukakan bahwa justifikasi teologis atas ekslpoitasi alam ini secara tak langsung disediakan oleh teologi Yudeo-Kristianisme, dan dengan demikian juga Islam (sebab Islam, dari sudut dasar-dasar teologinya, juga memiliki kesamaan dengan dua agama sebelumnya: Yahudi dan Kristen).

Pandangan yang serba Tuhan-dan-manusia dalam tradisi agama-agama semitik inilah yang dianggap telah memuluskan jalan bagi peradaban kapitalistik (baca beberapa buku Peter L. Berger mengenai tema ini).

Alam dan seluruh isinya, dalam pandangan agama-agama semitik, dipandang sebagai “obyek” bagi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang nyaris tanpa batas oleh manusia, sebab alam dipandang sebagai “barang mati” yang tidak memiliki otonomi wujudiah-nya sendiri. Manusia adalah pusat, sementara bumi dengan keragaman hayatinya adalah “pinggiran,” dan sasaran bagi kegiatan suvival manusia.

Merespons kritik seperti ini, sekarang muncul upaya-upaya baru untuk merumuskan teologi dan pandangan keagamaan yang hendak menggeser manusia dari “pusat” seluruh kegiatan berteologi, dan memberikan perhatian yang lebih seimbang kepada alam, binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan kosmos secara lebih luas.

Menurut saya, usaha-usaha semacam ini sangat positif dan patut disambut dengan gembira. Saya memandangnya sebagai perkembangan baru dalam kesadaran manusia yang mulai berubah: dari kesadaran yang serba-manusia kepada kesadaran baru yang lebih kosmik (alam secara keseluruhan).

Selain kritik di atas, sebetulnya ada sejumlah kritik lain yang perlu kita dengar terhadap kegiatan berteologi dan beragama dalam agama-agama semitik, termasuk dalam Islam:

Pertama, fokus yang terlalu berlebihan pada “kebenaran doktrin/ritual” – apa yang sering disebut sebagai ortodoksi.

Dampaknya sangat kurang baik: “labelisasi” terhadap mereka yang memiliki tafsir atau praktek berbeda sebagai: sesat, bid‘ah, murtad, menyimpang, bahkan kafir. Meskipun akidah dan ibadah sangat penting dalam kegiatan beragama, tetapi obsesi yang berlebihan dengan “akidah-yang-paling-benar” berdampak kurang baik dalam hubungan-hubungan sosial antar-kelompok yang berbeda.

Iklan

Kedua: fokus berteologi yang lebih diarahkan kepada “agama sendiri”, “umat sendiri”; terlalu “self-centred,” berpusat pada diri-sendiri.

Akibatnya: mengabaikan keberadaan kelompok lain, menganggap golongan lain seolah-olah “non-existent” (tak ada); kurang bersedia untuk belajar dari pihak lain (karena “kebenaran mutlak” dipandang sudah ada pada diri sendiri). Dalam situasi tertentu, ini juga bisa menimbulkan kebencian kepada “al-akhar” (yang lain).

Dan terakhir, ketiga: kegiatan berteologi dan beragama selama ini lebih banyak dipandang dari sudut mata laki-laki, male-centred. Bagaimana Kitab Suci ditafsir, ajaran dan doktrin dirumuskan, ritual dan ibadah diselenggarakan, ruang sosial diatur dan disekat-sekat, sumber-sumber sosial-ekonomi dalam praktek beragama dibagikan dan disebarkan—seluruhnya diselenggarakan oleh aktor-aktor yang mayoritas laki-laki, sehingga “suara” perempuan kurang (dalam beberapa kasus malahan sama sekali tidak) mendapatkan tempat.

Kritik-kritik ini, menurut saya, perlu didengar oleh umat Islam (juga oleh umat agama-agama lain dalam lingkungan agama semitik), terutama oleh elit-elitnya. Ketimbang bersikap defensif, lebih baik kritik-kritik ini dijadikan sebagai masukan untuk melakukan “re-evaluasi” terhadap kegiatan berteologi dan berakidah selama ini.

Zaman sudah berubah dan karena itu konteks berteologi, berakidah serta menyelenggarakan agama juga harus berubah—tentu tanpa meninggalkan “pokok tradisi” yang merupakan fondasi beragama.

Tanpa kesediaan untuk berubah, saya khawatir agama akan kehilangan relevansi dalam kehidupan saat ini. Atau, kalaupun relevan, hanya dalam batas-batas komunitas tradisionalnya sendiri, tanpa memiliki hubungan dengan konteks yang lebih luas.


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2020 oleh

Tags: AgamaWisata AkidahYahudi
Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

Cendikiawan muslim.

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal

26 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.