MOJOK.COAgama-agama semintik menjadikan manusia sebagai pusat perhatian. Bahkan sampai pada tahap mengabaikan lingkungan sekitar.

Salah satu kritik terhadap cara pandang ketuhanan yang diperkenalkan oleh agama-agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam) adalah terlalu dominannya pandangan yang serba-manusia (antroposentris).

Manusia menjadi pusat perhatian, sehingga mengabaikan hal-hal lain dalam sistem kehidupan dan alam raya yang kompleks. Aspek lingkungan, misalnya, kurang mendapatkan perhatian yang memadai dalam modus berteologi dan beragama kita.

Teologi yang serba-Tuhan-dan-manusia (teo-antroposentris) ini, demikian kritik itu, secara tak langsung menyediakan dasar-dasar teologis yang membenarkan eksploitasi alam. Akibatnya, muncul dampak-dampak lingkungan yang berbahaya. Dalam skala global, dampak ini bahkan mengancam bumi dan atsmosfer secara keseluruhan (ingat ancaman perubahan iklim dan pemanasan global!).

Kritik ini mula-mula muncul di Barat sebagai bagian dari gelombang kesadaran baru mengenai pentingnya isu lingkungan. Ketimbang merupakan kritik secara umum terhadap agama-agama semitik (terutama Kristen), kritik ini lebih tepat disebut sebagai kritik yang secara spesifik terarah kepada modus peradaban kapitalis di Barat yang begitu “rakus” dan abai terhadap lingkungan.

Eksploitasi terhadap alam (hutan, tanah, air, dan sumber-sumber alam yang lain) terjadi pada skala yang massif dalam peradaban kapitalis yang umurnya baru sekitar dua abad (sejak revolusi industri pertama di Inggris pada Abad ke-18).

Sejumlah sarjana kajian agama (religious studies) mengemukakan bahwa justifikasi teologis atas ekslpoitasi alam ini secara tak langsung disediakan oleh teologi Yudeo-Kristianisme, dan dengan demikian juga Islam (sebab Islam, dari sudut dasar-dasar teologinya, juga memiliki kesamaan dengan dua agama sebelumnya: Yahudi dan Kristen).

Baca juga:  Hanya Manusia Saja yang Berbicara

Pandangan yang serba Tuhan-dan-manusia dalam tradisi agama-agama semitik inilah yang dianggap telah memuluskan jalan bagi peradaban kapitalistik (baca beberapa buku Peter L. Berger mengenai tema ini).

Alam dan seluruh isinya, dalam pandangan agama-agama semitik, dipandang sebagai “obyek” bagi kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang nyaris tanpa batas oleh manusia, sebab alam dipandang sebagai “barang mati” yang tidak memiliki otonomi wujudiah-nya sendiri. Manusia adalah pusat, sementara bumi dengan keragaman hayatinya adalah “pinggiran,” dan sasaran bagi kegiatan suvival manusia.

Merespons kritik seperti ini, sekarang muncul upaya-upaya baru untuk merumuskan teologi dan pandangan keagamaan yang hendak menggeser manusia dari “pusat” seluruh kegiatan berteologi, dan memberikan perhatian yang lebih seimbang kepada alam, binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan kosmos secara lebih luas.

Menurut saya, usaha-usaha semacam ini sangat positif dan patut disambut dengan gembira. Saya memandangnya sebagai perkembangan baru dalam kesadaran manusia yang mulai berubah: dari kesadaran yang serba-manusia kepada kesadaran baru yang lebih kosmik (alam secara keseluruhan).

Selain kritik di atas, sebetulnya ada sejumlah kritik lain yang perlu kita dengar terhadap kegiatan berteologi dan beragama dalam agama-agama semitik, termasuk dalam Islam:

Pertama, fokus yang terlalu berlebihan pada “kebenaran doktrin/ritual” – apa yang sering disebut sebagai ortodoksi.

Dampaknya sangat kurang baik: “labelisasi” terhadap mereka yang memiliki tafsir atau praktek berbeda sebagai: sesat, bid‘ah, murtad, menyimpang, bahkan kafir. Meskipun akidah dan ibadah sangat penting dalam kegiatan beragama, tetapi obsesi yang berlebihan dengan “akidah-yang-paling-benar” berdampak kurang baik dalam hubungan-hubungan sosial antar-kelompok yang berbeda.

Baca juga:  Cara Pandang Keagamaan yang “Unitive”

Kedua: fokus berteologi yang lebih diarahkan kepada “agama sendiri”, “umat sendiri”; terlalu “self-centred,” berpusat pada diri-sendiri.

Akibatnya: mengabaikan keberadaan kelompok lain, menganggap golongan lain seolah-olah “non-existent” (tak ada); kurang bersedia untuk belajar dari pihak lain (karena “kebenaran mutlak” dipandang sudah ada pada diri sendiri). Dalam situasi tertentu, ini juga bisa menimbulkan kebencian kepada “al-akhar” (yang lain).

Dan terakhir, ketiga: kegiatan berteologi dan beragama selama ini lebih banyak dipandang dari sudut mata laki-laki, male-centred. Bagaimana Kitab Suci ditafsir, ajaran dan doktrin dirumuskan, ritual dan ibadah diselenggarakan, ruang sosial diatur dan disekat-sekat, sumber-sumber sosial-ekonomi dalam praktek beragama dibagikan dan disebarkan—seluruhnya diselenggarakan oleh aktor-aktor yang mayoritas laki-laki, sehingga “suara” perempuan kurang (dalam beberapa kasus malahan sama sekali tidak) mendapatkan tempat.

Kritik-kritik ini, menurut saya, perlu didengar oleh umat Islam (juga oleh umat agama-agama lain dalam lingkungan agama semitik), terutama oleh elit-elitnya. Ketimbang bersikap defensif, lebih baik kritik-kritik ini dijadikan sebagai masukan untuk melakukan “re-evaluasi” terhadap kegiatan berteologi dan berakidah selama ini.

Zaman sudah berubah dan karena itu konteks berteologi, berakidah serta menyelenggarakan agama juga harus berubah—tentu tanpa meninggalkan “pokok tradisi” yang merupakan fondasi beragama.

Tanpa kesediaan untuk berubah, saya khawatir agama akan kehilangan relevansi dalam kehidupan saat ini. Atau, kalaupun relevan, hanya dalam batas-batas komunitas tradisionalnya sendiri, tanpa memiliki hubungan dengan konteks yang lebih luas.

Baca juga:  Sekali Lagi Tentang Kehendak Tuhan

Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.