MOJOK.COBoyolali dikenal sebagai daerah penghasil susu terbaik di Indonesia, namun gimana rasanya kalau kamu malah punya fobia susu?

Ada banyak jenis fobia di dunia ini. Dari fobia yang normal (normal?) seperti akrofobia alias fobia ketinggian, fobia ruangan sempit, sampai fobia laut. Belum dengan fobia yang cukup aneh seperti fobia kerupuk, balon, sampai fobia kacang.

Nah, sayangnya, di antara banyak fobia-fobia yang aneh itu, saya mengidap fobia paling absurd, yakni fobia susu.

Iya, saya tahu. Saya aneh. Iya. Puas?

Sialnya, saya adalah perempuan yang dari lahir, tumbuh, sampai menetap di Boyolali. Kota yang terkenal dengan panggilan “Kota Susu”. Bahkan ada salah satu daerah di Boyolali yang menuliskan idiom, “Susuku Penopang Hidupmu”.

Meski lahir dengan “tampang Boyolali” yang penuh dengan aura susu, tapi hal itu tidak membuat saya serta-merta tahan dengannya. Saya tahu sebagian besar orang menyukai susu, khususnya susu murni perahan sapi. Bahkan khusus untuk susu sapi Boyolali, susunya bahkan dikenal dengan sebutan “emas putih”.

Namun, meski susu perahan sapi asli itu (katanya) enak dan pernah jadi bagian dari kampanye empat sehat lima sempurna, saya sama sekali tidak pernah tertarik untuk mencicip susu-susu tersebut. Bodo amat, susu sapi di daerah saya disebut sebagai salah satu susu terbaik di Indonesia kek, bodooo.

Mau susunya sudah dicampur cokelat paling mahal, kopi paling milenial atau soda, saya tetap wegah. Jangankan mencicip, bau susu dari jarak 4 meter saja sudah bikin hasrat muntah saya meletup-letup. Bagi saya susu memiliki elemen yang menjijikkan. Baunya tengik. Berasa kayak bau ketek sapi gitu.

Oke, oke, mungkin kamu bingung. Kalau saya fobia susu begini, gimana masa kecil saya? Memangnya saya tidak minum ASI ketika bayi? Memangnya ketika kecil emak saya ngasih saya air tajen?

Hm, waktu bayi, kata Emak, saya adalah anak ASI pada umumnya. Mungkin itu adalah terakhir saya menjadi anak normal pada umumnya. Anak periang yang masih doyan susu.

Baca juga:  Hikayat Pocong Keliling, Anjing Ngepet, dan Hantu Komunisme

Saya ingat betul saat masih TK ada SPG susu yang kasih promosi susu gratis dan saya—seingat saya—doyan banget. Bahkan Emak membelikan saya sekaleng susu. Namun, semakin hari harga susu semakin tinggi. Saya tahu betul keadaan ekonomi yang pas-pasan bikin seorang ibu rumah tangga macam emak saya memiliki agenda prioritas mana yang harus didahulukan dibeli.

Emak akhirnya mengganti susu kaleng tersebut dengan susu segar yang—di Boyolali—memang jauh lebih terjangkau. Dikasih lah saya susu segar itu, dengan praduga… kalau susu kaleng aja doyan, apalagi susu asli ya kaaan?

Namun sayang, Emak harus senantiasa mengepel rumah dan mengomel-omel ketika saya muntah-muntah usai minum susu segar itu. Di sinilah kemudian kami sekeluarga sadar bahwa rasa suka tidak dapat dipaksa, laiknya cinta. Mau diolah kayak gimana-gimana, organ pencernaan saya tak bisa kemasukan susu.

Masalahnya adalah, gara-gara kejadian itu, saya jadi tidak doyan susu sama sekali. Susu kaleng yang tadinya saya doyan pun jadi ikut-ikutan nggak doyan—bahkan cenderung ke perasaan insecure. Semua susu jadi sama aja.

Oleh sebab itu, dari lulus TK, semua susu untuk saya kemudian distop. Hak saya kemudian diganti dengan air putih biasa. Karena keluarga saya kemudian ikut sadar, ternyata saya fobia susu.

Fobia saya ini kemudian semakin parah ketika menginjak SMA. Di SMA saya, kebetulan ada kawan saya yang doyan banget minum susu segar plus telor rebus. Otomatis, ketika kawan saya ini lagi minum susu, saya bakal hijrah biar nggak muntah.

Nah, dari kebiasaan hijrah saya itu lah, kawan-kawan SMA saya jadi tahu apa yang tidak saya sukai. Mereka melihat itu karena reaksi aneh saya terhadap susu. Apalagi hal itu berjalan secara istikamah. Setiap ada yang minum susu, saya hijrah. Ada yang minum lagi, saya hijrah lagi. Gitu aja terus sampai saya jadi ukthi-ukhti.

Celakanya, ketika mereka tahu saya benci hal itu, mereka malah bersekongkol mempertemukan saya dengan susu. Seperti ketika ulang tahun ke-17 saya. Jika kebanyakan orang punya momen indah dan tak terlupakan pada ulang tahun itu, maka momen yang saya punya hanya ada di bagian tak terlupakannya saja.

Baca juga:  Revolusi Putih: Sebuah Politik Makanan Gratis

Iya sih, kawan-kawan sempat begitu manis mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan yang baik-baik. Akan tetapi, sepulang sekolah saya diajak kawan saya ke area paling belakang sekolah. Ternyata di sana kawan-kawan saya sudah memfermentasikan susu dengan ukuran 1,5 liter dan mengguyurkan ke seluruh badan saya.

Bau susu segar saja saya tidak tahan apalagi susu itu, susu yang udah basi. Alhasil, bak tinju Mike Tyson mendarat sempurna ke perut saya, saya muntah luar biasa gila. Saya nyaris pingsan saat itu. Bahkan, sampai sekarang kalau saya cerita hal itu—kayak lagi nulis ini misalnya—saya bisa aja muntah lagi. Masih terasa betul bau susu basi itu.

Hari demi hari sudah saya lewati. Dan masih banyak kawan dan keluarga aja yang masih terus memaksa saya untuk mencoba susu. Mereka pikir, dengan terus memaksa saya, fobia ini akan hilang. Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.

Perundungan yang saya alami dengan susu ini harus diakui malah memperparah fobia saya. Bikin saya semakin jijik sama susu. Mungkin bagi orang-orang yang tidak punya pengalaman fobia macam gini, ketakutan saya itu berlebihan, tapi bagi saya rasanya seperti jijiknya Harun Masiku saat lihat rombongan KPK.

Iya, saya tahu. Saya memang aneh. Tinggal di daerah penghasil susu, tapi malah fobia susu. Iya. Puas? Puas?

Horok.

BACA JUGA 9 Fobia Aneh di Dunia, Ada yang Takut Bau Ketek! atau tulisan rubrik ESAI lainnya.