Rocky Gerung, begitu orang mengenalnya. Ia lahir di Manado, Sulawesi Selatan, pada 20 Januari 1959 silam. Ia dikenal sebagai pengamat politik, peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), serta dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Rocky meraih gelar sarjana dari Universitas Indonesia ketika berusia 27 tahun. Ia aktif menulis di berbagai media massa. Kemudian, di tahun 2007, ia mendirikan lembaga SETARA Institute yang berfokus pada isu-isu kesetaraan, HAM, serta keberagaman, dengan harapan besar bahwa setiap orang dapat hidup setara dengan selalu menghormati keberagaman.

Ia sering menjadi sorotan karena argumentasinya yang mengundang kontroversi. Salah satunya adalah kritik kerasnya kepada pemerintah Presiden Joko Widodo, terkait penanganan permasalahan hoaks atau berita bohong yang belakangan menjadi pembicaraan. Menurutnya, pemerintah saat ini sedang panik. Ia berpendapat bahwa pembuat hoaks terbaik adalah penguasa. Tentu saja, pernyataan ini memunculkan pro dan kontra di masyarakat.

Ucapan kontroversialnya yang tak kalah menghebohkan masyarakat adalah pernyataannya di Indonesia Lawyers Club yang menyebutkan bahwa, baginya, kitab suci adalah fiksi, dengan definisi fiksi sebagai sesuatu yang menghidupkan imajinasi. Pernyataan ini membuat masyarakat bereaksi keras dan mulai mencari tahu latar belakang Rocky Gerung lebih jauh, khususnya karena ia disebut-sebut sebagai dosen Filsafat di Universitas Indonesia.

Pihak Universitas Indonesia sendiri membenarkan Rocky Gerung pernah menjadi dosen tidak tetap di sana, namun telah berstatus nonaktif sejak tahun 2015. Meski hanya menempuh studi hingga S-1, kemampuannya mengajar diakui cukup baik, hingga dirasa mumpuni untuk mengajar mahasiswa jenjang S-3.

Sosoknya memang semakin populer dengan sering tampil sebagai narasumber di Indonesia Lawyers Club yang disiarkan di TvOne, seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu ia juga aktif di media online, yakni twitter. Banyak twit-twitnya yang memunculkan beragam komentar, baik pro dan kontra dari netizen.



Loading...



No more articles