MOJOK.CO Setelah mangkrak 10 tahun, Bandara Kertajati akhirnya resmi beroperasi pada 24 Mei 2018, menjadi bandara internasional kedua di Indonesia. Salut!

Warga Jawa Barat sedang bersuka cita. Pasalnya, bandara baru mereka, Bandara Kertajati yang berlokasi di Majalengka, mulai beroperasi hari ini, Kamis (24/5). Hal ini diperkuat dengan pernyataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang menyebutkan adanya historical landing di Kertajati.

Telah dijadwalkan sebelumnya, historical landing yang dimaksud tadi dilakukan oleh dua maskapai Indonesia, Garuda Indonesia dan Batik Air. Disebutkan pula, pesawat kepresidenan akan turut serta dalam perayaan ini.

Bernama lengkap Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati (BIJB Kertajati), bandara ini menjadi bandara terbesar kedua di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Luas lahannya mencapai 1.800 hektar, dengan landasan pacu sepanjang 2.500 meter x 60 meter, serta paralel taxiway dengan panjang 2.750 meter x 25 meter. Keseluruhan aspek ini telah diselesaikan sejak akhir 2017.

Terlepas dari keistimewaannya sebagai salah satu bandara terbesar dalam skala nasional, ternyata bandara yang satu ini juga memiliki ‘rahasia-rahasia’ berikut:

Pertama, Bandara Kertajati merupakan bandara yang harus terkena PHP hingga dua kali. Dengan alasannya tersendiri, peresmian bandara yang satu ini telah diundur bertahun-tahun. Mulanya, pembangunan bandara telah dimulai sejak 2011 dan direncanakan dibuka pada tahun 2016, sebelum diundur ke tahun 2017.

Baca juga:  Rencana Ibu Kota Jawa Barat Pindah: Bandung dan Jakarta Jadi Simbol LDR

Sialnya, pengunduran tanggal ini ibarat nagih: peresmian pembukaan bandara kembali diundur hingga tahun 2018.

Kedua, bukan cuma peresmiannya yang berbau PHP, pembangunannya sendiri sempat terhenti selama 10 tahun. Pertimbangannya, dalam pembangunan Bandara Kertajati, terdapat selisih pendapat antara Pemprov Jabar dan Pemerintah Pusat mengenai konsep keberadaannya.

Alasan paling utama yang menyeruak saat itu adalah jarak yang jauh dari Tangerang ke Majalengka, yang mungkin saja sulit menembus potensi penumpang di Bandara Soekarno-Hatta untuk berpindah ke Kertajati.

Akibat prahara ini, Bandara Kertajati terkatung-katung: studi kelayakan pada 2003, penetapan lokasi pada 2005, tapi perpanjangan izin penetapan lokasi harus diulang di tahun 2012. Mengapa demikian? Ya gimana lagi: selama tujuh tahun, tidak ada kegiatan fisik apa-apa, padahal izin penetapan lokasi yang lama sudah hangus. Hadeeeh.

Ketiga, berhubungan dengan masalah di poin kedua, akhirnya diputuskan bahwa BIJB Kertajati akan diintegrasikan dengan alat transportasi lain. Tercatat, kini bandara di Majalengka ini terhubung dengan Tol Cipali dan memiliki kereta bandara yang bisa diakses dari Stasiun Gambir, Jakarta.

Keempat, bandara Jawa Barat ini diperuntukkan pula sebagai embarkasi haji untuk masyarakat Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Meski begitu, pesawat haji tetap harus transit terlebih dulu di Bandara Soekarno-Hatta untuk berganti pesawat dengan kapasitas besar.

Nggak apa-apa, yang penting jadi lebih mudah~

Baca juga:  Rencana Ibu Kota Jawa Barat Pindah: Bandung dan Jakarta Jadi Simbol LDR

Kelima, kenapa namanya Kertajati? Apa atau siapakah Kertajati itu? Apakah ia seorang pahlawan—sebagaimana nama bandara di kota lain?

Kertajati sendiri ternyata bukan merupakan nama pahlawan. Ia adalah nama kecamatan di Majalengka yang merupakan lokasi bandara ini berada. Sebelumnya, beberapa nama pahlawan Jawa Barat sempat diusulkan sebagai nama bandara ini, namun belum menemui titik kesepakatan. Salah satu nama pahlawan yang paling santer diisukan sebagai nama BIJB ini adalah KH Abdul Halim, meski ditentang oleh Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dari Kesultanan Cirebon.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menegaskan kembali bahwa penamaan bandara harus disepakati bersama.

Keenam—dan yang paling bikin penasaran—kenapa, sih, bandara ini nggak ditaruh aja gitu di Bandung yang merupakan ibu kota provinsi?

Ternyata, selain karena di Bandung sendiri sudah punya Bandara Internasional Husein Sastranegara, pemilihan Majalengka sebagai lokasi bandara ini bukan tanpa alasan. Majalengka dianggap menjadi titik temu banyak daerah pusat ekonomi, seperti Jakarta, Bandung, Karawang. Selain itu, bandara ini juga diyakini bakal menjadi pilihan tepat sebagai penghubung logistik Pelabuhan Muara Jati di Cirebon dan Pelabuhan Patimban di Subang.

Hmmm, masuk akal. Lagian, kalau ditaruh di Bandung, bisa-bisa dia hangout melulu ke PVJ. Hehe~