• 7
    Shares

MOJOK.CO Rencana terbentuknya pasangan capres-cawapres Prabowo-AHY ternyata menyisakan cerita. Baik Partai Demokrat maupun Gerindra, sama-sama tidak mengakui diri sebagai pihak pertama yang memulai penawaran.

Pertemuan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hassan dengan Prabowo pada hari Kamis (5/7) lalu memunculkan perkiraan terbentuknya pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam pertemuan tersebut, Syarief diberitakan diutus oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk bertemu langsung dan berdiskusi dengan Prabowo.

Alih-alih kepastian final jadi atau tidak jadinya pasangan ini, kedua pihak—Partai Demokrat dan Gerindra—justru tengah sibuk memberi klaim bahwa dirinya bukanlah pihak pertama yang memberi penawaran.

Sebelumnya, Gerindra—melalui Ketua Dewan Pembinanya, Sandiaga Uno—menyatakan bahwa Partai Demokrat memberi penawaran kepada Gerindra dengan mengajukan nama AHY untuk diikutsertakan dalam Pilpres 2019. Dari sinilah, nama Prabowo-AHY mulai mencuat ke permukaan.

Namun, dilansir dari Detik.com, Syarief Hassan menegaskan, “Kayaknya sih terbalik, ya. Jadi saya tanggal 5 Juli lalu hanya diundang ke Kertanegara untuk bertemu dengan Pak Prabowo. Itu awalnya karena ada pesan dari Pak Prabowo untuk Pak SBY yang menyatakan siap berkoalisi dengan Partai Demokrat dan siap untuk berpasangan dengan AHY.”

Sekilas, momen saling klaim ini jelas membuat kita-kita sebagai penikmat panggung politik menggeleng tak percaya: ini kenapa jadi kayak orang pacaran yang ribut gara-gara berdebat memutuskan siapa yang naksir duluan, sih?!

Baca juga:  Pidato Jokowi Soal Diajak Berantem Juga Berani, Gerindra Nilai Itu Anjuran Kekerasan

Seolah ingin menegaskan bahwa pihaknyalah yang “dipinang” Gerindra, Syarief menambahkan, “Di situ Pak Prabowo dengan tegas mengatakan siap berkoalisi dengan Partai Demokrat dan siap menerima AHY sebagai calon wakil presiden.”

Pernyataan Syarief ini tentu menimbulkan reaksi yang berbeda-beda, terutama bagi pihak Gerindra.

Setelah lempar klaim, Gerindra membalas pernyataan ini dengan aksi meluruskan pernyataan, yang—lagi-lagi—bertolak belakang dengan Partai Demokrat.

Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade menyebutkan bahwa Gerindra sendiri belum memiliki keputusan final soal cawapres Prabowo. “Siapa pun cawapres Prabowo akan dibicarakan oleh Pak Prabowo dengan seluruh mitra koalisi. Jadi apakah nanti Mas AHY jadi cawapres Pak Prabowo, Pak Prabowo akan bicara dengan PKS dan PAN, juga Demokrat,” tuturnya.

Ya, ya, ya, setelah saling menyebut bahwa pihak yang lain adalah pihak pemberi penawaran, rupanya Demokrat dan Gerindra juga menunjukkan ketidaksepahaman mereka mengenai hasil pertemuan kedua belah pihak tempo hari~

Tapi kalau dipikir-pikir, tentu wajar Gerindra meluruskan pernyataan Demokrat. Perlu diingat, Gerindra tidak sendirian dalam menghadapi Pilpres 2019, melainkan berkoalisi dengan PAN dan PKS. Apalagi, PKS—misalnya—telah mengajukan sembilan nama sebagai kandidat capres maupun cawapres. Coba bayangkan, bagaimana sikap PKS seandainya Gerindra langsung saja memutuskan nama AHY sebagai cawapres tanpa tedeng aling-aling?

Ha wong kita aja kalau nggak diajak pergi sama temen suka sedih. (A/K)

Baca juga:  Kata PKS, MUI Jabar Jangan Lebay Soal #2019GantiPresiden
  • 7
    Shares


Loading...



No more articles