• 16
    Shares

MOJOK.CO Menyusul pernyataannya terkait mahar politik, kini Andi Arief harus menghadapi ancaman fisik sekaligus panggilan resmi dari Bawaslu.

Polemik pernyataan Andi Arief, Wasekjen Demokrat, terkait mahar politik yang diduga dilakukan oleh cawapres Sandiaga Uno kini memasuki babak baru. Setelah berkeluh kesah melalui laman Twitternya, Andi Arief justru memilih untuk tak memenuhi panggilan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum). Tak tanggung-tanggung, ia diketahui telah mangkir tiga kali dari undangan permintaan keterangan Bawaslu.

Namun demikian, Ketua Bawaslu Abhan menyebutkan bahwa pihaknya akan kembali memanggil Andi Arief pada hari Senin (27/8). Menurut Andi Arief sendiri, hal ini disebabkan keadaan orang tuanya yang masih sakit.

“Ada kemungkinan saya masih belum bisa kembali ke Jakarta karena saya masih harus bersama orang tua saya yang belum sehat sepenuhnya.”

Sebelumnya, Andi telah memberikan tiga opsi tindakan Bawaslu agar dirinya tetap dapat memberikan kesaksiannya soal dugaan mahar politik, yaitu video call, surat klarifikasi tertulis yang ditandatangani, atau klarifikasi yang berlokasi di Bawaslu Lampung. Namun, menurut Andi, tak satu pun opsi yang diajukan diterima oleh Bawaslu.

Belum lagi selesai masalah ketidakhadiran Andi Arief pasca diundang Bawaslu, dirinya kini kembali menjadi berita. Pasalnya, Andi disebut menerima ancaman, lagi-lagi, terkait dengan dugaan mahar politik Sandiaga Uno agar menjadi pendamping Prabowo Subianto.

Baca juga:  Gerindra adalah Mertua, Jakarta adalah Istri

Dijelaskan oleh Ketua DPP Gerindra Habiburokhman, ancaman yang diterima oleh Andi Arief ini tidaklah berasal dari parpol pendukung Prabowo-Sandiaga Uno.

“Kalau soal ancaman, clear saya sudah cek tidak dari kubu empat partai tersebut, Gerindra, PAN, PKS, Demokrat. Tidak dari situ. Kita nggak tahu dari mana. Sudah saya cek semua,” ujar Habiburokhman di kantor Bawaslu, Jumat (24/8) lalu.

Diakui Habiburokhman, sebelumnya Andi Arief pernah bicara mengenai isu keberadaan elite politik yang akan mengancam dan mengintimidasinya. Secara pribadi, Andi mengaku merasa resah karena ancaman yang diterimanya adalah ancaman fisik. Pada media, ia menyebutkan, “Terhadap isu yang saya terima tadi malam bahwa salah satu ketua DPD partai politik di Jakarta yang mengorder etnis tertentu untuk mengintimidasi saya, tentu saya khawatir.”

Karena keresahannya tersebut, kabarnya Andi tengah mempertimbangkan bantuan polisi untuk menjaga keamanan dan keselamatannya, setelah sebelumnya menyatakan akan mengiri, utusan ke elite parpol terkait untuk melakukan klarifikasi. (A/K)