MOJOK.COKematian harian tertinggi akibat corona saat ini tercatat berada di angka 8.890 jiwa, sedangkan kematian harian akibat kelaparan diperkirakan bisa mencapai 12 ribu jiwa. 

Pernyataan “Kami lebih takut lapar ketimbang takut corona” yang sering sekali dilontarkan oleh orang-orang berisiko tinggi yang tetap nekat bekerja di masa pandemi tampaknya bakal menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Lembaga non-profit yang berfokus pada pembangunan penanggulangan bencana dan advokasi Oxfam, baru saja merilis laporan tentang ancaman angka kematian akibat kelaparan selama masa pandemi covid-19 atau corona yang di masa depan jumlahnya berpotensi lebih tinggi ketimbang kematian akibat virus corona itu sendiri.

Oxfam memperingatkan bahwa angka kematian harian akibat kelaparan di penghujung tahun 2020 bisa mencapai 12 ribu orang. Padahal, berdasarkan data dari Johns Hopkins Univercity, angka kematian harian tertinggi yang terjadi pada pertengahan April lalu jumlahnya sebesar 8.890 orang.

Virus corona, tak bisa dimungkiri, memang melahirkan krisis pangan tersendiri.

“Pandemi ini adalah tantangan terakhir bagi jutaan orang yang telah berjuang atas dampak konflik, perubahan iklim, ketidaksetaraan, dan sistem pangan yang rusak yang telah memiskinkan jutaan produsen dan pekerja pangan,” terang Direktur Eksekutif Sementara Oxfam Chema Vera seperti dilansir dari CNN.

Hal ini, menurut Oxfam, karena efek pandemi corona di tahun ini membuat tingkat krisis ekonomi dan pangan meningkat pesat sampai 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga:  Walau Sangat Telat, Pemerintah Akhirnya Melarang WNA dari Seluruh Dunia Masuk ke Indonesia

Oxfam menyebut bahwa di tahun 2019, setidaknya ada 149 juta jiwa yang mengalami kelaparan tingkat krisis, sedangkan di akhir tahun 2020 ini, jumlahnya diperkirakan bakal mencapai 270 juta.

Hal ini senada dengan jumlah penduduk miskin yang juga menurut Oxfam mengalami peningkatan yang luar biasa, yakni dari 434 juta menjadi 922 juta jiwa.

Bebapa negara yang terdampak krisis pangan ini umumnya adalah negara-negara berpenghasilan menengah atau menengah kebawah seperti India, Brazil, Afghanistan, Venezuela, Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, dan negara-negara sejenis.

Krisis pangan ini dipicu oleh banyak sebab, diantaranya menurunnya kemampuan membeli bahan pangan karena tidak ada penghasilan seiring dengan gelombang PHK yang melanda banyak pekerja di berbagai penjuru dunia, juga efek terputusnya rantai pasokan bahan makanan akibat kebijakan lockdown yang diterapkan di banyak kota-kota berisiko.

kelaparan