Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Hari Kesaktian Pancasila, Kesaktian Siapa yang Kita Bela?

Redaksi oleh Redaksi
1 Oktober 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada Satu Oktober, rakyat Indonesia yang ingat akan merayakan hari kesaktian Pancasila. Hari ini dikukuhkan sebagai pengingat bahwa meski ada upaya pemberontakan, penggantian idiologi negara, tapi Indonesia masih tetap kukuh sebagai bangsa yang satu dan berdaulat. Satu Oktober bagi banyak orang juga hari di mana keganasan Partai Komunis Indonesia melalui usaha coup bisa diakhiri. Bertahun-tahun kemudian, perayaan tentang hari kesaktian Pancasila melulu soal simbol burung garuda, nasionalisme, dan tentu saja duka cita.

Pancasila kerap menjadi alasan untuk menjaga persatuan, ia juga digunakan untuk stempel bahwa kamu pro republik atau seorang pelaku makar. Kita tahu bagaimana orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia dianggap sekumpulan penggemar makar yang hendak mengganti Pancasila dengan Khilafah. Orang-orang Papua yang bicara tentang keadilan, Hak Asasi Manusia, dan kesetaraan juga kerap dianggap bagian dari organisasi separatis yang anti Pancasila. Intinya, Pancasila dianggap sebagai ajian sakti mandraguna yang bisa digunakan untuk menyingkirkan orang-orang berisik.

Tapi apakah kita tahu, Pancasila sendiri dibuat oleh siapa? Lagu Garuda Pancasila yang dengan indah dinyanyikan oleh masa aksi 299 yang menolak kebangkitan PKI dan Perppu Ormas di luar gedung DPR itu dibuat oleh siapa? Ketidaktahuan sejarah, kemalasan mencari tahu, dan keterbatasan pola pikir kritis membuat kita berpikir Pancasila sebagai idiologi negara hadir terberi. Bukan sesuatu yang dibangun secara kolektif dari berbagai kelompok masyarakat dari berbagai golongan.

Lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh seniman lembaga kebudayaan rakyat (Lekra) bernama Sudharnoto pada 1956. Kita jelas tahu bahwa Lekra adalah organisasi kesenian di bawah PKI. Ya agak absurd, sedikit ironis, kalau tak mau menyebut goblok orang-orang yang berteriak anti PKI tapi menyanyikan lagu yang dikarang oleh seniman Lekra yang dibikin PKI. Peradaban nalar memang susah dibangun di antara fanatisme buta, pada aksi 299 yang menolak perppu ormas dan kebangkitan PKI, HTI masih getol berteriak khilafah dan Pancasila dalam satu nafas.

Lalu bagaimana dengan logo Garuda Pancasila itu sendiri? Tak banyak orang Indonesia tahu bahwa simbol Pancasila merupakan rancangan dari Sultan Hamid II dari Pontianak. Sosok Sultan Hamid II dalam sejarah politik Indonesia merupakan salah seorang yang kontroversial. Usai bubarnya Republik Indonesia Serikat (RIS) bubar, Sultan Hamid II pun tersingkir dari panggung politik. Namanya semakin buruk karena tuduhan subversif hendak membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sekretaris Pertahanan Ali Budiardjo dan Kepala Staf Angkatan Perang, Tahi Bonar Simatupang. Meski tuduhan makar kemudian dibantah dan sedang ada upaya pembersihan nama baik Sultan Hamid II

Tentang Pancasila, kita sebenarnya kerap bersikap berbeda antara satu dengan yang lain, sikap galak terhadap orang-orang Papua yang dianggap anti pancasila tidak segalak sikap kita pada Rizieq Shihab yang pernah mengkritik Pancasila secara terbuka. Ini baru simbol negara, belum lagu nasional Indonesia Raya yang dibikin oleh W.R Supratman, seorang muslim dari Ahmadiyah yang kelompoknya kerap diganggu, dikafirkan, direndahkan, serta disakiti oleh kelompok yang mengaku pendukung Pancasila.

Lantas jika lagunya dibikin oleh kader komunis, simbol negaranya dibikin oleh bapak bangsa yang dituduh pelaku makar, lagu nasional dibikin oleh orang yang dianggap kafir, kita sebenarnya sedang membela kesaktian siapa?

 

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2017 oleh

Tags: ahmadiahGarudalekraPancasilaWR Supratman
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
pengalaman pertama naik pesawat.MOJOK.CO
Ragam

Kenangan Orang Kampung Naik Pesawat Pertama Kali: Nunggu Gratisan, Bingung di Bandara dan Panik di Udara

3 Agustus 2024
Fungsi pancasila.MOJOK.CO
Pendidikan

3 Fungsi Pokok Pancasila untuk Kehidupan Bangsa

28 September 2023
Pernah Wakili Partai Komunis di Parlemen, Mengapa Affandi Selamat dari Peristiwa 1965? MOJOK.CO
Kilas

Pernah Wakili Partai Komunis di Parlemen, Mengapa Affandi Selamat dari Peristiwa 1965? 

28 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.