Setelah sebelumnya menjalani kisruh panjang yang mesra dan “berdarah-darah” dengan PSI, Fadli Zon akhirnya secara resmi dilaporkan ke polisi oleh PSI. Laporan tersebut didaftarkan oleh kader PSI Rian Ernest ke Bareskrim pada 25 September 2018 dengan nomor laporan LP/B/1189/IX/2018/BARESKRIM.

“Sekarang kami sudah ada bukti laporan lengkap. Kita lihat perkembangannya seperti apa,” kata Rian.

Fadli Zon dilaporkan terkait dengan video “Potong bebek angsa” versi PKI yang ia unggah di akun sosial media miliknya.

Dalam video tersebut, tampak sembilan orang sedang berjoget penguin dengan latar lagu “Potong bebek angsa” yang liriknya diubah menjadi pesan-pesan sarat politik menjelang Pilpres 2019.

Lirik lagu pada video “Potong Bebek Angsa” tersebut berisi sindiran kepada lawan politik pasangan presiden-wakil presiden Prabowo-Sandiaga Uno.

Rian Ernest yang melaporkan Fadli Zon menganggap bahwa video yang diunggah Fadli Zon berpotensi memicu perpecahan dan juga konflik horizontal.

Fadli Zon sendiri mengaku santai atas laporan Rian. Ia menganggap konten yang ia unggah tidak melanggar hukum, ia menilai konten video tersebut merupakan bentuk ekspresi sebuah kreativitas.

“Video yang saya posting itu bukan saya yang membuat. Saya lihat itu kreativitas masyarakat. Lagipula ini negara demokrasi. Kreativitas tersebut masih ada di koridor demokrasi. Demokrasi kita mengajarkan suatu kebebasan selama tidak memfitnah orang lain,” kata Fadli Zon. “Itu bagian dari sebuah cara mengkritik tapi juga tidak langsung melalui sebuah seni.”

Selain itu, Fadli Zon juga mengaku akan melaporkan balik Rian kepada Polisi.

“Ya saya polisikan balik, sederhana saja. Kreativitas itu tidak bisa di-judge atau dihakimi seperti itu, apalagi ini masalah sederhana” ujar Fadli.

Ah, entah kenapa politik jaman sekarang jadi receh begini. Dulu tokoh-tokoh politik berurusan dengan hukum karena mengorganisir massa, memberontak, atau melakukan perlawanan-perlawanan lainnya. Sekarang, tokoh politik berurusan dengan hukum karena lagu potong bebek angsa.

Panjang umur perlawanan, eh per-angsa-an (A/M)