MOJOK.COJalan terjal PKS: dulu kadernya tidak dipilih sebagai cawapres, sekarang kadernya kalah dari Ahmad Riza Patria dalam Pilwagub. 

Menjadi Dilan memang berat, namun tampaknya jauh lebih berat menjadi PKS. Dilan berat karena harus menahan rindu, sedangkan PKS, jauh lebih berat, sebab ia berkali-kali “ditipu”.

Dalam proses pemilihan Wakil Gubernur di kantor DPRD DKI Jakarta pada hari Senin, 6 April 2020 kemarin, PKS harus menguatkan diri, sebab calon wakil gubernur yang diusung oleh mereka, Nurmansjah Lubis, kalah telak dari Ahmad Riza Patria yang diusung oleh Gerindra.

Dalam pemilihan tersebut, Ahmad Riza Patria mengumpulkan 81 suara, sedangkan Nusmansjah Lubis hanya 17 suara.

Hasil pemilihan tersebut membuat Ahmad Riza Patria secara resmi terpilih menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta selama masa sisa jabatan 2020-2022.

Tak bisa tidak, terpilihnya Ahmad Riza Patria sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut tentu saja menggoreskan luka yang dalam bagi PKS. Maklum, selama ini, Gerindra memang menyebut bahwa posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang kosong setelah ditinggalkan oleh Sandiaga Uno yang maju sebagai calon wakil presiden bakal menjadi milik PKS.

Seperti diketahui, Sesuai dengan Pasal 176 UU No.10/2016, jika jabatan Wakil Gubernur kosong, maka partai pengusung atau gabungan partai pengusung pasangan Gubernur-Wakil Gubernur terpilih berhak mengusulkan dua calon Wagub kepada DPRD DKI Jakarta yang nantinya akan dibahas dalam rapat paripurna DPRD.

Baca juga:  Relawan #2019GantiPresiden Rencanakan Mudik Bareng Lewat Tol era Presiden yang Mau Diganti

Karena pengusung pasangan Anies-Sandiaga adalah Gerindra dan PKS, maka Gerindra dan PKS pula yang punya hak untuk mengusulkan siapa pengganti Sandiaga Uno.

Dalam beberapa kesempatan, para petinggi Gerindra mengaku legowo bila jatah Wakil Gubernur diambil PKS. Yah, mungkin sebagai bagian dari penebusan karena Prabowo saat itu tidak mengambil kader PKS sebagai cawapres untuk mendampinginya.

Ketua DPW PKS DKI bidang Pemenangan kala itu, Agung Setiarso, bahkan sampai sempat memberikan ultimatum jika sampai jabatan wakil gubernut tidak jadi diberikan kepada PKS, maka mesin PKS akan bekerja dengan tidak terlalu maksimal untuk memenangkan Prabowo-Sandi karena faktor kekecewaan.

PKS pun sempat beberapa kali menyiapkan beberapa nama, di antaranya adalah mantan Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu dan Sekretaris Umum DPW PKS DKI, Agung Yulianto.

Prabowo juga sudah mengatakan kepada presiden PKS Sohibul Iman tentang jabatan wakil gubernur yang akan diserahkan untuk PKS.

“Saya katakan bahwa Pak Prabowo di hadapan kami dan di hadapan saya sudah mengatakan, menjelang pencapresan itu bahwa Bang Sandi mundur dari DKI dan kemudian wagub ini diserahkan menjadi haknya PKS,” kata Sohibul akhir 2018 kemarin.

Setahun setelahnya, PKS masih tak bosan-bosannya memperingatkan Gerindra agar menepati janji mereka.

“Kita ingin Gerindra menyepakati yang telah dibuat sama PKS. Agar itu dihormati dan tidak dicederai,” ujar Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Arifin pada 8 November 2019.

Baca juga:  Di Jawa, Calon Gubernur-Wakil Gubernur yang Diusung Gerindra dan PKS Kalah Semua

Dan pada akhirnya, kita semua tahu bagaimana puncak dramanya. Gerindra ternyata tak menepati janjinya. Mereka tetap menginginkan kadernya menjadi Wakil Gubernur dan ikut menyiapkan calon untuk diusung.

Proses pengusungannya pun tampak tricky, sebab ketika Gerindra mengusung Ahmad Riza, Ketua DPD Gerindra, M. Taufik mengatakan tak perlu lagi ada fit and proper test, padahal dulu saat PKS mangajukan nama Agung Yuliantono dan Ahmad Syaikhu, Gerindra ngotot harus diadakan fit and proper test.

Agaknya memang betul bahwa menjadi PKS adalah sebuah jalan pedang tersendiri. Sudah tidak dipilih menjadi cawapres, ditipu kawan koalisi, ealah kok ya masih ditambah harus kalah di Pilwagub.

Betul-betul apesnya full, nggak setengah-setengah.

ahmad riza patria