• 86
    Shares

Selamat malam jumat, pembaca sekalian. Malam ini, aku mau cerita sedikit tentang pengalaman yang baru-baru ini aku alami di rumah sendiri.

Ini soal tangisan wanita yang selalu aku dengar di gang sebelah rumahku.

Kisah berawal pada akhir tahun 2017, saat itu, pada suatu malam (atau pagi?) sekitar pukul 2, pada saat sedang menonton TV di ruang TV, tiba-tiba saja aku mendenger suara langkah kaki di gang sebelah rumah. Langkah kakinya terasa berat dan diseret, jadi kedengeran jelas tuh suaranya, sreeettt… sreeettt…

FYI, rumahku ini di sebelahnya itu ada sebuah gang, akses utama masuk rumah memang harus melalui gang, dan kamarku hanya berjarak satu meter dari gang tersebut, gang itu dibatasi tembok setinggi dua meter. Sedangkan lebar gang itu sendiri cuma bisa dilalui satu sepeda motor.

Lanjut, ya. Jadi pada saat mendengar suara kaki diseret itu, aku secara otomatis me-mute volume TV, dan memastikan apa yang aku denger itu benar adanya. Awalnya setelah mute TV sih nggak kedengeran apa-apa, lalu beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lagi, sreeettt… sreeettt…

Aku langsung berdiri dan membuka pintu ruang TV untuk mengecek ke luar gang. Aku bukan sok berani, aku orangnya kepo, dan trauma maling, karena dulu rumah pernah kemasukan maling.

Aku buka pintu, aku lari kecil ke arah tembok rumah, aku ngintip keluar. Cuma ada gang gelap, toleh kiri, cuma ada lampu kuning di ujung gang. Toleh kanan, gelap tak terlihat ujungnya.

Gangku ini panjangnya kira-kira 100 meter. Sempat toleh kiri kanan sekitar 30 detik, tiba-tiba tepat di depanku terdengar jelas suara itu lagi, sreeettt… srreeettt…

Karena posisiku di atas tembok, aku langsung melihat ke arah bawah (arah paving gang) untuk memastikan suara apa itu. Tidak ada apa-apa, tapi suara tetep jelas, dan tiba-tiba suara hilang.

Hening. Aku kebingungan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tangisan wanita, suaranya kecil, tapi sangat terdengar jelas.

Suara tangisan tersebut berasal dari sebelah kiri ku, sontak aku menoleh ke kiri, tapi tidak ada apa-apa. Dengan bulu kuduk merinding, aku loncat dan langsung lari ke kamarku.

Aku buka pintu buru-buru, masuk kamar buru-buru. Demi mendengar suara gedebukan saat aku lari buru-buru masuk rumah, Ibuku yang sudah tidur langsung terbangun dan teriak kecil dari kamarnya .

“Ada apa lari-lari malam-malam?” Tanya Ibuku.

“Ada setan kayaknya di gang, teriakku dr dalam kamar,” jawabku. Waktu berlalu, dan aku pun tertidur.

Paginya, Ibuku tanya, aku jawab saja bahwa semalam ada setan di gang rumah. Bapak dan Ibu cuma diem. Bapak lalu menjelaskan pakai logika, Halah, paling itu tetangga yang nangis, kata Bapak.

Oke aku percaya. Lagipula, penjelasannya masuk akal. Sampai akhirnya, beberapa bulan kemudian…

Mei 2018. Aku kembali mendengar suara tangisan-tangisan wanita di gang tepat di sebelah kamarku. Suara selalu muncul sekitar pukul 1 malam sampai pukul 3 malam. Dalam seminggu aku bisa mendengar 2-3 kali tangisan. Awalnya cuek, sampai akhirnya suatu pagi, ketika mau berangkat kerja, orangtuaku berbisik di teras, dan aku dengar walaupun sedang pake sepatu.

“Pak, aku denger suara tangisan kemaren malam,” kata Ibuk.

“Aku denger juga sih, tapi mungkin aja tetangga.”

“Ah, masa sih tetangga hampir tiap malam nangis.”

Mendengar itu, aku langsung memotong pembicaraan mereka.

“Itu pasti setan, yakin setan, aku denger juga soalnya,” teriakku bersemangat. Bapak menjawab santai, “Tuh, banyak yang denger, berarti itu orang.” 

Oke, kali ini masuk akal lagi pernyataan bapakku.

Juli 2018. Saat arisan PKK, ibuku iseng bertanya pada para tetangga soal suara tersebut, salah satunya pada tante Indri, tetangga belakang rumah.

Tante Indri mengatakan bahwa dirinya juga pernah mendengar suara cewek nangis malam-malam.

“Iya, pernah, sayup gitu, tapi jelas,” begitu kata tante Indri.

Ibu langsung cerita ke aku. Aku kemudian yakin, fix, itu bukan tangisan orang, dan pasti ada maksudnya karena “dia” nangis ke banyak orang.

Seminggu setelah Ibu cerita itu, pada saat malam, aku tidak bisa tidur. Sekitar jam 2 malam aku mendengar suara tangis itu lagi, jelas.

Aku ketakutan. Lalu aku pake headset, kuputar lagu favorit. Dan tahuu apa yang terjadi?

SUARA TANGISAN ITU MASUK KE DALAM LAGU!

Aku reflek lepas headset, aku duduk, dan menyakinkan kalo aku salah dengar. Nggak lama, aku pake headset lagi, dan suara tangisan itu muncul lagi.

Kebayang kan bagaimana rasanya? Denger lagu beat, tapi diiringi suara tangis cewe. Jelas banget bro. Aku nggak bisa tidur tuh sampai subuh –

Besok paginya, pas di kantor aku cerita tuh sama temen-temen kantor. Nah temen-temen kantor menyarankan agar aku tanya ke orang indigo atau orang pintar gitu lah.

Atas saran temen-temen itulah, aku kemudian dihubungkan dengan empat orang yang dianggap punya “sensitivitas”.

Orang pertama adalah Bli Adi. Bli Adi ini adik ipar bosku, dan kebetulan emang aku kenal sama dia. Aku baru tahu kalau dia indigo setelah aku cerita ke bosku juga.

Jadi aku tanya via telpon. Aku ceritain tuh semuanya dari awal sampai kejadian headset itu. Hasil terawangan Bli Adi: “Cewe dibuang, warnanya “doi” merah. Nah, sama Bli Adi ini aku disuruh bertanya terus ke “doi” selama 7 hari setiap hari.

“Ya tanya aja, pokoknya diatas pukul 10 malam, ngomong sendiri kayak orang gila. Yang ditanyakan ‘kenapa kamu nangis terus? kamu kenapa?’ “

Gila aku kagak mau lah.

“Nanti kalau dia jawab gimana?”

Bli Adi ini nyuruh jangan takut. Ya gimana kagak takut, setan coy. Si Bli Adi ini tetep nyuruh aku tanya selama 7 malam setiap hari, aku dikasih motivasi biar berani, apaan coba.

Nah, orang kedua adalah Mamanya Meli. Meli ini temen kantorku. Dia ngaku mamanya bisa nerawang-nerawang gitu. Mamanya Meli lokasi di Kalimantan (sedang aku di Bali).

Aku awalnya nggak yakin, tapi kemudian aku mulai menaruh kepercayaan setelah aku disuruh nelpon Mamanya Meli dan obrolan kami di-loudspeaker.

Meli: Halo, Ma, ini temenku mau nanya-nanya.

Mama Meli: Kenapa? Ditangisi, ya?

Demi mendengar jawaban itu, aku langsung terhenyak. Deg. Aku mulai yakin bahwa Mamanya Meli memang bisa menerawang.

Mama Meli: Yaudah, sini mama bantu, temenmu nggak percaya, kan?

Aku kembali terhenyak. Bedebah.

Meli: Iya, Ma, tolong diterawang dong, Ma.

Mama Meli: Rumahnya masuk gang, kan?

Aku: E… e… iya, Tante.

Mama Meli: Itu ada prit di deket rumahmu?

Aku: Iya tante, ada (dalam hati: emang sakti bener ini Mamanya Meli).

Mama Meli: Itu ada pohon besar kan di samping parit?

Aku: Iya, Tante (Gila, sakti bener)

Mama Meli: Tiga tahun yang lalu ada orok bayi perempuan dibuang di parit deket pohon. Sekarang dia nangis karena merasa dibuang. Itu mondar-mandir di gang rumahmu kok

Aku: Hah! Tiga tahun, Tante?

Mama Meli: Iya, tiga tahun. Tapi mungkin kamu baru tahu belakangan ini. Kamu paling peka di gang sana, makanya kamu duluan yang denger.

Aku: Aku harus gimana, Tante?

Mama Meli: Gimana, ya, tancepin bawang aja di gang rumahmu, agak susah sih, soalnya warnanya udah merah.

Sip, sampai di sini sudah dua orang bilang warnanya merah. Telpon ditutup. Dan aku mencari orang pinter lainnya.

Orang ketiga adalah Pak Pande. Dia adalah salah satu Kabag di kantorku, dan terkenal paling “sakti” soal ginian. Aku ceritain semua ke dia.

Pak Pande bilang, Hmm, gimana, ya, Aku masih capek, belum bisa ngelihatin.

Aku agak kecewa sih, tapi ya gimana lagi, aku nggak enak juga kalau maksa Pak Pande.

Malamnya, pulang kerja, aku jadi rada-rada takut lewat gang rumah. Apalagi di rumah cuma sendirian, karena orangtua pada pergi, ada kondangan.

Nah, pukul 9 malam, Pak Pande tiba-tiba nelpon.

“Gun, di rumah?” Kata Pak Pande dari seberang sana.

“Sekarang ambil bawang, tusuk pakai lidi. Urutannya bawang-cabai-bawang.”

“Sekarang, Pak?” jawabku.

“Iya, sekarang, cepet!”

“Oke, Pak!”

“Besok saya ceritain di kantor.”

Langsung saja tuh aku panik nyari lidi bawang dan cabe. Setelah dapet, aku tusukin, terus taruh di atas jendela kamarku. Nggak ngerti juga masalah dan fungsinya apa.

Keesokan harinya, aku langsung nyari Pak Pande di ruangannya.

Jadi ternyata, sewaktu Pak Pande pulang di hari aku bertanya ke dia, bapaknya Pak Pande ini langsung nyuruh Pak Pande mandi. Setelah mandi disuruh sembahyang, setelah sembahyang disuruh makan.

Pak pande heran kenapa bapaknya tiba-tiba perhatian sama dia. Bapaknya kemudian bilang gini, “Aku tahu tadi ada temenmu minta tolong, suruh dia pasang bawang-cabe bawang di rumahnya, ini terlalu kuat, kanti barak warnane (sampe merah warnanya). Itulah kenapa Pak Pande langsung telpon aku.

Oke. Lagi-lagi info yang sama, “doi” berwarna merah.

Aku kemudian memberanikan diri coba sarannya Pak Pande buat naruh bawang plus lakuin apa yang disaranin Bli Adi.

Yak, bertanya setiap malam selama 7 malam. Setiap malam aku tanya tuh. Dua minggu berlalu, ngak ada jawaban, nggak ada tangisan.

Sampai akhirnya, suatu malam, pulang dari ngopi bareng temen, sekitar jam 12 malam, aku yang udah lupa soal kejadian itu tiba-tiba melihat sosok merah di ujung gang. Samar-samar sih. Tapi aku yakin itu bukan orang, aku cuekin aja, buru-buru masuk kamar. Aku tahu sosok itu lihat ke arahku.

Aku buru-buru buka gerbang. Dan aku merinding gila, aku tahu ada sesuatu yang berdiri di belakangku, Aku langsung buru-buru masuk, cuekin yang di belakang. Aku langsung masuk kamar dengan keringet dingin.

Setelah ketakutan, merem biar ketiduran. Eh ketiduran beneran. Syukur deh.

Tapi aku mimpiin sesuatu dan begitu nyata. Si merah itu dateng ke mimpiku sambil nangis, dan dia bilang, (kira-kira) begini: “Minta tolong carikan yang buang aku, tolong, aku minta tolong” sambil sesenggukan nangis.

Aku kemudian kebangun, itu kira-kira jam 5 pagi. Pada saat kebangun, di otakku ada satu nama: Putri. Entah itu nama dari mana. Jadi baru bangun mulutku langsung bilang Putri.

Aku kaget, dan masih ingat sampai saat ini. Biasanya mimpi itu kan otomatis lupa, ini aku masih inget jelas banget.

Aku langsung cerita ke Pak Pande. Pak Pande tanya, kamu mau bantu nggak? Aku jawab tegas, nggak.

Pak Pande kemudian jawab, “Ya udah, bilang sana.”

Aku kemudian juga cerita ke Bli Adi, dia bilang nyerahin semua ke aku, terserah aku mau bantu apa tidak. Kalau di Merah masih ganggu, Bli Adi bilang bakal turun tangan.

Akhirnya aku putuskan untuk nggak mau bantu.

Malam harinya, jam 12 malam, di gang, aku bilang gini “Maaf, aku nggak bisa bantu kamu, aku nggak tahu kamu siapa, lebih baik kamu pergi.”

Apakah segampang itu dia kemudian pergi? Sepertinya iya.

Sampai hari ini, aku tidak pernah melihat apa pun, dan tidak mendengar apa pun. Orangtuaku juga nggak denger apa pun. Entah itu karena efek bawang dan cabe, atau efek aku menolak permintaan tolongnya. Entahlah. Tapi yang jelas, gangguan itu sudah nggak ada lagi.

Aku berharap, semoga di masa depan, tidak ada gangguan apa-apa lagi.

[email protected]