Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jangan Selfie di Puncak Merapi

Ridlwan Djogja oleh Ridlwan Djogja
21 Mei 2015
A A
Jangan Selfie di Puncak Merapi

Jangan Selfie di Puncak Merapi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebelum Anda melanjutkan membaca, tundukkan kepala sebentar. Mari doakan arwah Erri Yunanto, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang wafat di puncak Merapi, semoga diterima Gusti Yang Maha Welas Asih sebaik-baiknya.

Apakah Erri terjatuh karena selfie di ujung batu puncak Garuda Merapi? Saksi hidup satu-satunya,  sudah membantah. Erri tidak selfie, melainkan minta difoto saat dia sedang berada di atas batu. Saat turun dari batu itulah, kaki kanannya terpeleset dan jatuh ke dalam kawah.

Ini adalah kasus pertama dalam sejarah Merapi, ada manusia jatuh terperosok ke dalam kawah.

Gunung Merapi memang penuh misteri. Unik. Merapi adalah pepunden bagi masyarakat Yogyakarta. Alam yang disakralkan, dihormati sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Mitologi Mataram menyebutkan, sejak era pemerintahan Panembahan Senopati, Hamengku Buwono 1, tercipta poros imajiner dalam satu garis lurus Merapi– Kraton–Parangkusumo, laut pantai selatan.

Setiap akhir bulan Rajab selalu diselenggarakan Labuhan Merapi, tradisi Kraton. Ini dilakukan setiap tahun dalam rangka memperingati Jumenengan Sultan naik tahta. Tahun ini pelaksanaannya jatuh pada tanggal 19-20 Mei, beberapa hari setelah Erri jatuh ke dalam kawah Merapi.

Dalam ritual Labuhan, dilarung Ubarampe berupa  Sinjang Limar satu lembar, Sinjang Cangkring satu lembar, Semekan Gadhung satu lembar, Semekan Gadhung Melati satu lembar, Paningset Udaraga satu lembar, Kambil Watangan satu biji, Seswangen 10 biji, Seloratus Lisah Konyoh satu buntal, Yotro Tindih dua amplop, dan Destar Doromuluk satu lembar. Selain itu, Ubarampe dilengkapi dengan kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung dan serundeng yang dibagikan kepada setiap pengunjung selesai upacara.

Inilah bukti bahwa Kraton pun, sebagai simbol pemerintahan tertinggi di Yogyakarta, sedemikian hormatnya pada Merapi. Apalagi para pendaki, terutama para pendaki senior.

Sepeninggal Mbah Marijan, atau Mas Panewu Surakso Hargo, juru kunci Merapi dipegang oleh putra ketiganya, Mas Asih.  Gelar Kratonnya: Mas Kliwon Surakso Hargo. Sejak muda, Mas Asih yang juga karyawan Universitas Islam Indonesia ini selalu akrab dengan para pendaki Merapi yang dulu “wajib” sowan Mbah Marijan sebelum naik ke puncak.

Ada beberapa pamali atau pantangan mendaki Merapi yang harus ditaati, misalnya; tidak mengambil bunga betapapun cantiknya; tidak mengikuti burung cantik yang seolah-olah jinak; jika ada kancil atau kijang menghalangi jalur pendakian, segera balik kanan (turun); jika bertemu simbah sepuh pencari kayu bakar dan meminta minum, harus diberi.

Warga Kinahrejo, Cangkringan, Kaliurang, dan desa-desa sekitar Merapi sudah hafal betul dengan tabiat supra–rasional Merapi itu. Saya dulu (2001) pernah punya pengalaman ikut dalam evakuasi SAR, mencari  seorang mahasiswa Filsafat UGM yang hilang di jurang Kinahrejo. Sudah dua hari dicari tak ketemu. Setelah diberi beras campur kunir dari warga setempat, lalu ditabur sepanjang rute evakuasi, Mas Agus Purwito, nama pendaki itu, akhirnya ditemukan wafat di sebuah jurang kecil sedalam tiga meteran. Padahal sebelumnya, jalur itu sudah kami kelilingi berkali-kali. Ajaib memang.

Mendaki gunung, Saudara, bukan untuk gagah-gagahan. Mendaki gunung itu menaklukkan ego pribadi. Dengan mendaki, seharusnya kita belajar bahwa selalu ada yang lebih tinggi dari kita. Bahkan, di atas puncak gunung pun, ada awan langit yang tak bisa diraih. Dalam istilah Jawa, kita dilatih untuk menep, andap, asor.

Hari-hari ini, ada banyak film di bioskop yang bertema pendakian gunung. Keindahan gunung-gunung di Indonesia, tampil dengan telanjang dan sangat nikmat dipandang. Kita tentu senang menontonnya. Namun, plis, tetaplah selektif mencermati adegan.

Kalau ada scene mendaki gunung dengan celana pendek, sepatu kasual, dan menggendong gitar, janganlah ditiru. Itu bukan outfit ke gunung, itu dresscode untuk hangout sama teman-teman di kafé atau taman-taman baca dekat pusat perbelanjaan. Jangan ditiru.

Sekali lagi, kita berduka untuk Erri dan keluarganya di Gamping, Sleman. Tentu kematiannya menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki dan mereka yang mencintai gunung. Dari Erri kita diingatkan agar selalu eling lan waspada di mana saja, termasuk di puncak Merapi.

Iklan

Salut untuk rekan-rekan SAR DIY, Mas Brotoseno cs,  yang begitu luar biasa semangat dan perjuangannya dalam melakukan evakuasi tersulit sepanjang sejarah evakuasi di Merapi. Kami angkat topi tinggi-tinggi.

Avignam Jagat samagram, semoga damai senantiasa di Nusantara.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Tags: Erri YunantoMbah MarijanMerapiYogyakarta
Ridlwan Djogja

Ridlwan Djogja

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO
Kilas

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.