Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pertunjukan Kekuasaan lewat Spanduk

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
25 Januari 2017
A A
Pertunjukan Kekuasaan lewat Spanduk

Pertunjukan Kekuasaan lewat Spanduk

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selain harga cabe dan penggusuran, keresahan bisa muncul karena spanduk.

Spanduk adalah pertunjukan kekuasaan. Biasanya memuat isi yang provokatif, menantang, atau menuntut. Ada satu suara yang karena kekuasaannya itu, sampai perlu menunjukkan provokasi, tantangan, atau tuntutannya itu di ruang publik. Di lokasi-lokasi yang paling ramai dilewati orang. Apabila seseorang memelankan suaranya ketika membicarakan suatu hal yang sensitif atau rahasia menunjukkan kesadaran akan posisi yang lemah, pertunjukan suara yang dikeraskan di ruang publik, seperti lewat spanduk, adalah pertunjukan kebesaran kekuasaan.

Apa benar kekuasaan, dan kemudian kekuatan, itu nyata? Benar adanya dan mengancam yang berbeda suara? Kadang iya, kadang tidak. Spanduk biasanya mencantumkan identitas pembuat yang anonim. Ada nama, tapi anonim. Ada nama, tapi tak bisa ditelusuri persona di balik nama itu. Samaran.

Contohnya ketika spanduk ajakan berbelanja di toko pribumi dan penolakan kepada “aseng” muncul di Magelang, ia hadir dengan cara paling provokatif yang ia bisa: dipasang di depan sebuah kelenteng. Inisiatornya: Gerakan Pribumi Magelang Raya. Tapi, siapa itu Gerakan Pribumi Magelang Raya? Yang muncul di media massa adalah foto belasan orang. Bagaimana bisa belasan orang bisa begitu berani membuka front yang sedemikian terang-terangan dengan kelompok masyarakat yang jumlahnya jelas lebih banyak? Apakah gerakan ini mewakili kelompok dengan anggota yang jauh lebih banyak?

Tidak jelas. Dan umumnya spanduk yang unjuk kekuasaan memang demikian: tidak jelas seberapa besar kekuasaan dan kekuatan yang ada di baliknya. Yang penting agitasi dulu. Entah ada berapa ribu organisasi yang hidup seumur spanduk (mungkin istilah ini bisa menggantikan ungkapan lama “seumur jagung” yang makin klise). Dan kekaburan itu justru yang menimbulkan keresahan.

Jangan-jangan, bukan kekuasaan yang melahirkan spanduk, melainkan spanduklah yang melahirkan kekuasaan?

Kalau yang bernama ternyata anonim, dalam logika spanduk, ada pula keanoniman yang justru bernama. Spanduk-spanduk di lokasi-lokasi konflik agraria, misalnya. Terutama saat perlawanan mengeras dari pihak yang ditekan, dan konflik bereskalasi. Untuk menekan perlawanan, muncullah spanduk: awas bahaya laten Komunisme! Siapa yang membuat? Tidak ada keterangan. Atau bila ada nama, biasanya organisasi tak dikenal dengan embel-embel “Pancasila“. Tapi orang tahu siapa. Dan efeknya sama mengerikannya, sebab dituduh komunis adalah tuduhan yang biasanya serupa bola liar dan seringnya tak memerlukan pembuktian.

Di Yogyakarta, di tengah pembahasan Undang-Undang Keistimewaan—isu yang sangat sensitif di provinsi ini, perwakilan suasana itu paling mencolok ditunjukkan oleh perang spanduk. Saat penembakan tahanan Cebongan oleh anggota Kopassus terjadi, spanduk pula yang bicara: “I Love TNI”, “Basmi Preman”, “Terima Kasih Kopassus”, dan sejenisnya. Perang spanduk kadang berlanjut dengan aksi saling copot spanduk. Atau ada pula modus baru: memasang spanduk, memotretnya, mencopot spanduk, dan menyebarkan fotonya ke dunia maya.

Daripada buku, orang bisa lebih panik karena spanduk. Bahkan bisa jadi masalah nasional.

Spanduk memang bisa jadi segawat itu. Walau orang tetap bahagia ketika melihat spanduk warung kaki lima Lamongan yang selalu berwarna putih-hijau-merah itu. Orang pun masih bisa tertawa pula melihat spanduk “Warning!!! Dilarang keras berbahasa asing…!!! Jika masih menggunakan bahasa asing, silakan angkat kaki dari negara Republik Indonesia. Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-88. Berbahasa, bertanah air dan berbangsa satu yaitu Indonesia.”

Bagaimanapun spanduk ditujukan, untuk provokasi atau promosi, untuk menuding atau bersosialisasi (seperti spanduk-spanduk keselamatan berkendara), ada satu pihak yang jelas menangguk keuntungan di baliknya.

Ya, siapa lagi kalau bukan tukang cetak spanduk. Ada yang lain?

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2018 oleh

Tags: featuredpolitik spandukspanduk
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Kepala Suku

Hindari Corona, Tetaplah Hidup Walau Tidak Berguna

13 April 2020
5 Cara Rakyat Indonesia Manfaatkan Baliho Caleg Usai Pemilu
Pojokan

5 Cara Rakyat Indonesia Manfaatkan Baliho Caleg Usai Pemilu

14 April 2019
Pojokan

Spanduk Jalan Tol Pak Jokowi Muncul Setelah Ajakan Klakson 3 Kali

10 Juni 2018
Kilas

Spanduk Penyambutan Prabowo yang Salah Cetak Jadi Bulan-bulanan

6 Mei 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.