Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Yang Perlu Dikoreksi dari Tuntutan BEM SI ke Presiden Jokowi soal KPK

Meminta Presiden untuk mengangkat puluhan pegawai KPK yang dipecat jadi ASN itu bukan solusi, Bung~

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
25 September 2021
A A
Hukuman Pelanggar Etik KPK Potong Gaji Rp1 Juta Masih Terima Rp87Juta, Dewas KPK: Tak Perlu Diperdebatkan

Hukuman Pelanggar Etik KPK Potong Gaji Rp1 Juta Masih Terima Rp87Juta, Dewas KPK: Tak Perlu Diperdebatkan

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – BEM SI mengultimatum Presiden Jokowi agar mau mengangkat puluhan pegawai KPK yang dipecat jadi ASN. Hm, ada yang kurang pas kayaknya itu.

Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) sedang jadi sorotan usai memberi ultimatum ke Presiden Jokowi per tanggal 23 September kemarin. Bersama dengan Gerakan Selamatkan KPK (GASAK), BEM SI memberi surat tuntutan ke Presiden.

Isinya begini.

“Kami Aliansi BEM Seluruh Indonesia dan GASAK memberikan ultimatum kepada Presiden Jokowi untuk berpihak dan mengangkat 56 pegawai KPK menjadi ASN dalam waktu 3×24 jam sejak hari ini. Jika Bapak masih saja diam, maka kami bersama elemen rakyat akan turun ke jalan menyampaikan aspirasi yang rasional untuk Bapak realisasikan.”

Secara semangat dan gairah anak muda yang menggebu-gebu begitu, tidak ada yang keliru dari tuntutan BEM SI ke Presiden. Keresahan kawan-kawan mahasiswa ini sebenarnya juga cukup mewakili banyak keresahan masyarakat terutama ketika melihat kelakuan wagu KPK akhir-akhir ini.

Mulai dari Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dalam pelaksanaan punya masalah menurut Ombudsman dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) menurut Komnas HAM, sampai dengan sanksi untuk Ibu Komisioner KPK yang disebut Dewas KPK melakukan “pelanggaran berat” tapi kenyataannya hanya mendapat “hukuman ringan”.

Keresahan publik ini bahkan tergambar dengan hasil survei soal tingkat kepercayaan publik terhadap KPK yang menurun. Hasil survei Cyrus Network misalnya, menunjukkan tingkat kepercayaan KPK hanya 80,7 persen. Polisi yang “kayak gitu” aja malah lebih baik dari KPK yang mendapat tingkat kepercayaan 86,2 persen.

Akan tetapi, meski secara ghirah dan semangat keresahan mahasiswa itu senada dengan masyarakat, pada dasarnya tuntutan yang diberikan BEM SI ke Presiden itu agak mlucrut sedikit dari substansi persoalan KPK.

Bukan, bukan bermaksud mendegradasi kepedulian mereka dengan mendesak Presiden dan rencana aksi untuk turun ke jalannya, tapi soal spesifik tuntutan BEM SI yang menginginkan 56 pegawai KPK diangkat jadi ASN.

Problem utama dari persoalan ini memang muaranya soal “dicegat”-nya 56 pegawai KPK menjadi ASN di KPK, namun mohon diingat, kegagalan melalui TWK yang kontroversioal itu cuma problem hulunya doang. Kalau melihat masalah ini dari hilir, ya itu bukan masalah utamanya.

Sekarang coba kawan-kawan BEM SI ini membayangkan sejenak.

Semisal, semisal aja ini, Presiden Jokowi tiba-tiba dapat wangsit dan lantas ada keajaiban beliau menuruti tuntutan mahasiswa. Terus besoknya Presiden Jokowi mengangkat 56 pegawai KPK itu jadi ASN.

Apa yang terjadi?

BEM SI boleh jadi bersorak, mahasiswa patut berpesta, beberapa elemen masyarakat mungkin juga akan merayakan itu. Tapi coba tanyakan ke diri kita masing-masing lagi, apa persoalan di KPK lantas benar-benar selesai?

Iklan

Tidak dong. Kawan-kawan mahasiswa di BEM SI pasti juga sadar itu. Iya kan?

Sekarang bayangkan konsekuensi dari (kalau) tuntutan itu dituruti.

Novel Baswedan dkk. pada akhirnya harus masuk ke dalam sistem KPK yang “ASN-minded” begitu dan diketuai oleh seorang perwira polisi. Status mereka yang jadi ASN pun, tidak akan mengubah banyak hal di dalam KPK.

Sepanjang KPK masih dibawah cengkraman UU KPK yang baru, dengan pimpinan-pimpinan wagu yang segala macam keputusannya makin tertutup dan menjauh dari kepercayaan publik, tak bakal banyak hal yang bisa dilakukan puluhan pegawai KPK yang sedang kita perjuangkan itu.

Ide tuntutan mengangkat puluhan pegawai KPK jadi ASN hanyalah kemenangan di pertempuran kecil dalam area peperangan yang besar. Ini ibarat Jepang menang besar ketika bertempur di Pearl Harbour, tapi gagal dalam seluruh peperangan melawan Amerika Serikat pada Perang Dunia II.

Sebagai salah satu (mungkin satu-satunya) harapan masyarakat agar bisa mewakili suara-suara keresahan soal KPK, ada baiknya BEM SI tidak berhenti hanya pada tuntutan soal ASN atau tidak ASN, diangkat atau tidak diangkat, lolos TWK atau tidak lolos TWK, tapi juga desak Presiden untuk mau melihat KPK seperti halnya masyarakat melihat KPK belakangan ini.

Dorong Presiden untuk jangan percaya lagi dengan buzzer (barangkali Presiden tidak tahu) yang suka membentuk opini publik palsu ke dirinya. Kelompok “masyarakat bayaran” yang juga jadi key opinion leader dalam memberi gambaran kabur Presiden soal problem utama mengenai KPK ini. Tarik Presiden untuk langsung bertemu dengan masyarakat yang resah atas KPK belakangan ini.

Tolong beri tahu Presiden kalau sudah banyak masyarakat dan mahasiswa yang harus jadi korban gara-gara “gelut” dengan wakil rakyatnya sendiri ketika UU KPK yang baru ini digodok dan ujug-ujug disahkan beberapa tahun lalu.

Beri Presiden pandangan, bahwa “pakar-pakar”-nya yang di Istana dan Pemerintah, yang kerap memberi nasihat itu jangan dipercaya mentah-mentah. Kasih tahu Presiden bahwa orang-orang di sekelilingnya itu punya kecenderungan tidak lagi memihak rakyat, tapi lebih loyal ke partai. Tolong kasih tahu Pak Presiden yang begitu-begitu.

Kawan-kawan BEM SI bisa saja menyasar ke substansi dasar, soal UU KPK yang kontroversial itu. Kawan-kawan BEM SI pasti bisa kok menunjukkan ke Presiden secara langsung, betapa suksesnya UU ini mempreteli independensi KPK sekaligus mencederai integritas KPK yang dulu-dulu.

Bahwa ketika KPK didirikan karena penegak hukum di negeri ini pada mulanya tidak becus memberantas korupsi (karena kadang si penegak hukumnya justru terlibat dalam kasus korupsi), justru KPK yang sekarang malah disusupi (diketuai malah) oleh penegak hukum itu sendiri.

Sebuah manuver kebijakan wakil rakyat yang sangat absurd, aneh, dan terlihat tidak peduli sama opini publik.

Meski begitu, koreksi ini tentu bukan berarti mengharapkan kawan-kawan BEM SI berhenti memberi desakan ke pemerintah, wabilkhusus ke Presiden. Sedikit koreksi ini sebenarnya justru upaya menambah amunisi tuntutan ke Presiden. Agar makin substansial saja tuntutannya.

Ya maklum, harapan kami sangat besar ke kawan-kawan BEM SI semua. Jadi, tolong wakili keresahan kami soal KPK ini ke Presiden Jokowi. Tolong ya kawan-kawan mahasiswa.

BACA JUGA Cinta yang Berakhir untuk KPK dan tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2021 oleh

Tags: BEM SIbuzzerjokowiKPKMahasiswanovel baswedanPolisiUU KPK
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO
Esai

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

28 Mei 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.