Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Weton Jadi Kambing Hitam Orang yang Ketemu Hari Sial

Mau percaya beginian sudah nggak relevan, eh tapi kok kepo juga rasanya. Gimana sih cara menghitung hari sial?

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
25 November 2021
A A
ilustrasi Weton Jadi Kambing Hitam Orang yang Lagi Ketemu Hari Sial mojok.co

Weton Jadi Kambing Hitam Orang yang Lagi Ketemu Hari Sial

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menghubungkan hari sial dengan klenik kayaknya sudah nggak relevan. Tapi, weton memang sering jadi kambing hitam hari sial orang-orang.

Saya adalah contoh orang yang tumbuh tanpa mengetahui mitos kejawen dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Sebagai buktinya, orang tua saya sama sekali nggak ngerti gimana menentukan hari baik untuk tanggal pernikahan berdasarkan weton orang yang akan menikah. Keluarga kami bahkan tak pernah mempraktikkan hal itu secara turun-temurun. Sama sekali no clue.

Tapi, tentu saja ada sebuah titik di mana saya jadi kepo soal primbon Jawa, apa yang dimaksud weton, dan segala kultur yang membangun kepercayaan orang akan hal klenik. Satu mitos atau kepercayaan yang belakangan saya dengar adalah weton yang dihubungkan dengan hari sial.

Redaktur Mojok, Yamadipati Seno, mengiyakan teori ini. Katanya, dia selalu merasa emosian, teledor, dan pelupa di hari wetonnya. Rasanya ada saja yang terasa salah di hari itu. Ini bukan sekali dua kali dia rasakan. Di beberapa kesempatan, dia selalu punya firasat akan hari sial, ndilalah ketika diperhatikan, hari sial itu sama dengan wetonnya. Mau bilang kebetulan, kok ya terjadi berkali-kali begitu sih.

Sebetulnya saya percaya akan konsep “hari sial”. Kamu pasti pernah merasakan, minimal sekali, saat semua hal terasa begitu menjengkelkan seharian. Saya sering mengalaminya ketika PMS sih, hehehe. Namun, di beberapa kesempatan, hari sial itu datang di luar sirkulasi datang bulan dan bikin saya mbatin, “Hari ini kenapa sih! Aku kenapa sih!” 

Sebetulnya ada dua jenis mitos yang menghubungkan weton dengan hari sial. Mitos pertama menganggap bahwa hari wetonnya adalah hari sialnya. Jadi, misalnya kamu lahir pada Senin Pon, di setiap Senin Pon sepanjang hidupmu, itulah hari-hari sialmu.

Mitos kedua adalah dengan dihitung. Perhitungan ini pun ada tiga macam. Ada yang dihitung 4 hari setelah hari umum dan hari pasaran Jawa. Jika kamu lahir Senin Pon, cara menghitungnya begini.

Senin + 4 hari = Senin, Selasa, Rabu, Kamis
Pon + 4 hari = Pon, Wage, Kliwon, Legi
Hari sial bagi yang lahir Senin Pon adalah Kamis Legi.

Cara menghitung yang kedua hampir sama, tapi ada yang berpendapat harinya ditambah 7.

Senin + 7 hari = Senin, Selasa, Rabu, Kamis Jum’at, Sabtu, Minggu
Pon + 7 hari = Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage
Hari sial bagi yang lahir Senin Pon adalah Minggu Wage.

Cara menghitung yang ketiga agak berbeda pada perhitungan hari umum dan pasaran Jawa. Hari umum ditambah 4, pasaran Jawa ditambah 3.

Senin + 4 hari = Senin, Selasa, Rabu, Kamis
Pon + 3 hari = Pon, Wage, Kliwon
Hari sial bagi yang lahir Senin Pon adalah Kamis Kliwon.

Di antara tiga cara menghitung itu, saya sama sekali nggak tahu apa bedanya. Kenapa ada yang menjumlahkan 4 hari, 7 hari, atau 3 hari, ya ndak tau kok tanya saya. Yang jelas, kepercayaan masyarakat memang sudah terbentuk begitu. Bisa jadi, ada jenis perhitungan hari sial lainnya juga. Mau percaya yang mana, tentu terserah. Nggak percaya kan juga boleh~

Orang Jawa percaya bahwa di hari sial, kita dianjurkan berpuasa selama tiga hari atau puasa ngapit weton. Jika kamu lahir Senin Pon, kamu sudah dianjurkan puasa sejak Minggu Pahing sampai Selasa Wage. Minimal, berpuasalah sehari pada Senin Pon. Katanya sih, katanya lho, bakal menghindarkanmu dari kesialan.

Iklan

Yang lebih ekstrem, beberapa orang yang percaya mitos kejawen ini menyarankan kita tidak keluar rumah di hari sial. Ah, masa harus cuti tiap ketemu weton, kan kocak juga. Jadi kalau percaya dan pengin hati-hati banget nih, ada 4 hari di mana kita nggak boleh keluar rumah. Wah, gabut gabut dah tuh di rumah.

Demi mencocokkan kepercayaan weton dengan hari sial, saya akan mengingat kapan saya pernah sebal seharian dan mencocokannya dengan salah satu perhitungan. Saya nggak mau ngasih tahu weton saya sih, katanya berbahaya. Jadi ngawang aja deh ya.

Sekira dua minggu yang lalu saya berniat nonton film bareng kawan-kawan di salah satu mal di Jogja. Sampai mal, saya salah parkir yang harusnya di lantai atas, malah di bawah. Ini membuat saya harus naik 5 lantai pakai eskalator karena lift tidak memungkinkan dipakai. Beberapa eskalator juga mati. Sampai bioskop, kursi sudah penuh dipesan, studio penuh sesak ABG yang ketawa-ketiwi. Saya nggak jadi nonton, pulang dari mal tersebut pun saya masih harus jengkel. Dua kali saya nyasar, pergi ke toilet, toiletnya rusak. Sampai rumah kawan, saya tak bisa masuk karena kuncinya bermasalah. Intinya hari itu memenuhi kriteria disebut sebagai hari sial.

Sayangnya setelah dihitung, tak ada satu pun dari metode perhitungan di atas yang pas dengan weton saya. Baiklah, jangan menyerah, kita ganti hari.

Beberapa waktu yang lalu, saya patah hati. Nah ini! Setelah cekcok dengan mantan, tak ada jalan keluar. Permasalahan justru semakin pelik saat mantan saya melibatkan pacar barunya yang baru saya tahu, ternyata mereka menjalin hubungan sebelum kami bubaran. Nah, kurang sial apa hari itu. Baiklah saya ingat kapan tanggal peristiwa menjijikan itu terjadi, lalu saya hitung.

Alamak! Ternyata pas dengan cara perhitungan pertama. Hari umum + 4 hari, pasaran Jawa + 4 hari. Kok bisa gitu ya?

BACA JUGA Cinta Kami yang Kepentok Weton Wage dan Pahing dan artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2021 oleh

Tags: hari sialhitungan wetonkepercayaanklenikmitosmitos jawaprimbon jawatakhayulWeton
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Petung Jawa dan Seni Berdamai dengan Hidup
Video

Petung Jawa dan Seni Berdamai dengan Hidup

23 Desember 2025
Kalender Jawa dan Ilmu Weton Makin Ditinggalkan, Marabahaya Mengintai Generasi Selanjutnya MOJOK.CO
Ragam

Kalender Jawa dan Ilmu Weton Makin Disepelekan, Petaka Mengintai Generasi Muda

23 Juni 2024
tuyul tak bisa curi atm dan m-banking.MOJOK.CO
Ragam

Menjawab Alasan Tuyul Tak Bisa Curi Uang Mesin ATM dan Kuras Saldo m-Banking dari Tinjauan Klenik dan Ilmiah

25 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.