Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Usulan Kementerian Kebahagiaan dari Bapak Bamsoet, Memang Perlu Banget!

Audian Laili oleh Audian Laili
6 Juli 2019
A A
Usulan Kementerian Kebahagiaan dari Bapak Bamsoet MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Usulan dari Bapak Bamsoet soal Kementerian Kebahagiaan, mungkin awalnya terdengar “apa banget”. Akan tetapi, percayalah, ini adalah kementerian yang paling kita butuhkan!

Ketua DPR kita tercinta, Bapak Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengusulkan supaya kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf bikin kementerian baru, yakni Kementerian Kebahagiaan dan Toleransi. Menurutnya, hal ini merupakan salah satu cara yang bisa mendorong menjadikan “Indonesia Bahagia”. Bagi Bapak Bamsoet, bukankah semua yang kita lakukan hari ini sebetulnya untuk menuju ke masyarakat yang berbahagia? Lantas, mengapa justru kementerian ini malah tidak ada?

Mungkin kita memang sungguh membutuhkan Kementerian Kebahagiaan dan Toleransi. Akan tetapi, yang akan dibahas di sini hanya soal Kementerian Kebahagiaan saja. Biar fokus. Kita membutuhkannya karena bahagia adalah adalah ujung dari pencapaian usaha kita selama ini. Sejalan dengan Bapak Bamsoet, bukankah setiap usaha yang kita lakukan dalam kehidupan ini untuk mendapatkan kebahagiaan?

Selayaknya Jogja yang punya tingkat kebahagiaan yang tinggi. Menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, Jogja punya indeks kebahagiaan di atas rata-rata, yakni di atas angka 70%. Masuk sepuluh besar di Indonesia dan peringkat pertama di Pulau Jawa.

Bodo amat dengan tingkat bunuh diri yang tertinggi di nomor empat pada tahun 2015 (dengan 59 kasus).  Bodo amat dengan UMR yang kayak gini. Bodo amat dengan tingkat ketimpangan yang makin menjadi-jadi—bahkan di tahun 2016 tertinggi di Indonesia. Dan bodo amat dengan harga tanah yang semakin tak terkendali. Selama tingkat kebahagiaan tinggi, maka itu artinya masyarakat aman-aman saja, bukan?

Kalau ada yang bilang kebahagiaan berada satu garis dengan kesejahteraan, sepertinya tidak juga. Saya mengenal seseorang, kalau dalam sudut pandang orang lain hidupnya nggak ada sejahtera-sejahteranya dan justru banyak kekurangannya. Namun, berbincang dengannya justru berhasil membuat hati jadi tentram. Ada hawa positif dalam setiap ucapan yang dia keluarkan dan setiap sikap yang dia tunjukkan. Dengan kepribadiannya yang demikian, sulit mengatakan dia tidak berbahagia dengan kehidupannya.

Jadi, kalau ada yang menganggap Kementerian Sosial saja adalah yang paling bertanggung jawab untuk bikin masyarakat sejahtera dan bahagia, tampaknya tidak juga. Toh, lagi-lagi sejahtera dan kebahagiaan bukanlah suatu hal yang berkesinambungan.

Sudah jelas, sungguh maha penting usulan dari Bapak Bamsoet kita tercinta ini. Saya yakin Bapak Bamsoet sudah memikirkannya matang-matang bahkan mungkin pakai semedi dulu dalam sebulan. Buktinya, keberadaan kementerian yang lain itu tidak dapat menjamin kebahagiaan apa-apa. Lha wong nyatanya masyarakat kita masih terpuruk saja.

Sejahtera memang bukanlah jaminan. Orang dengan tingkat perekonomian seaman apa pun bahkan semua hal di tubuh dan hidupnya sudah diasuransikan, juga tidak menjamin hidupnya merasa bahagia. Lantas, hidupnya merasa aman dan tentram. Jadi, mensejahterahkan masyarakat sepertinya memang bukan lagi tugas negara. Tugas negara ini cukup bikin masyarakatnya bahagia. Dengan cara seperti apa? Mungkin dalam hal ini, Jokowi bisa belajar salah satunya ke Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta—yang jelas-jelas sudah membuktikan tingkat kebahagiaan masyarakatnya.

Jangan pula menganggap usulan Bapak Bamsoet soal kementerian ini asal-asalan dan hanya pengin nambah-nambahin jumlah kementerian yang sudah ada. Atau menganggap kementerian ini hanya sekadar alasan untuk proyekan. Sungguh, itu tuduhan yang keterlaluan.

Keberadaan kementerian ini memang betul-betul sepenting itu. Kalau ada yang menganggap Finlandia yang negaranya punya tingkat kebahagiaan tertinggi pada tahun 2018 itu saja tidak butuh ada departemen khusus yang mengatur soal kebahagiaan masyarakatnya, ya itu karena mereka sudah maju sejak dulu. Sementara kita, negara yang masih berkembang dan tingkat kebahagiaannnya berada di peringkat 96 dari 156 negara, ya jelas butuh dikuatkan. Butuh peran pemerintah untuk membantu bikin program-program andalan yang bisa membantu masyarakatnya betul-betul merasakan kebahagiaan secara merata.

Misalnya dengan program meditasi secara berkala untuk membantu masyarakat Indonesia melepas segala kesalahan, kemangkelan, ataupun dendam yang telah lalu. Lantas, menerima keadaan yang ada saat ini dengan lebih lapang dada. Tak peduli dengan susahnya mencari pangan. Tak peduli dengan mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan. Asalkan ada rasa legawa dan kerelaan menghadapi keadaan, pasti semuanya akan baik-baik saja.

Bahkan, kalau tingkat kebahagiaan kita sudah semakin tinggi, mungkin kita tak butuh lagi fasilitas kesehatan. Jadi, pemerintah nggak perlu lagi repot-repot bikin BPJS untuk memastikan akses kesehatan sampai di seluruh penjuru negeri. Ya, bagaimana tidak? Bukankah katanya segala penyakit itu datangnya dari hati? Kalau hati kita bersih dan kondisi mental kita sehat walafiat, tentu kita akan menjadi masyarakat yang juga sehat secara fisik juga, kan?

Nah, kalau masyarakatnya sudah bisa berbahagia dengan begitu namaste, bukankan ini akan meringankan pemerintahnya? Pemerintahnya bisa jadi lebih santai terus fokus bersenang-senang dan liburan~

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2019 oleh

Tags: bamsoetBPSindeks kebahagiaanKementerian KebahagiaanKetua DPR
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

BPS dan Angka Pertumbuhan Ekonomi yang Mencurigakan MOJOK.CO
Esai

Kita Wajib Skeptis dengan Angka Pertumbuhan Ekonomi 5% dari BPS karena Hanya Kosmetik yang Mempercantik Tampilan Luar tapi Tidak Menggambarkan Kesehatan Ekonomi Dalam Negeri

13 Agustus 2025
Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana menyampaikan angka kemiskinan di DIY. (Yvesta Ayu:Mojok.co)
Kilas

Jadi Provinsi Termiskin di Jawa, Pemda DIY Didesak Fokus Tangani Dua Kabupaten

19 Januari 2023
mahasiswa miskin, bulan puasa.co
Ekonomi

26 Juta Orang Indonesia Tergolong Miskin, Siapa Saja yang Masuk Kriteria Ini?

18 Januari 2023
pengangguran mojok.co
Ekonomi

Angka Pengangguran di Jogja Tinggi, Sultan Minta Danais Dioptimalkan

18 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.