Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tidying Up with Marie Kondo: Betapa Ribetnya Hidup Haters KonMari

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
30 Januari 2019
A A
Marie Kondo MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Marie Kondo, lewat medote KonMari, mengajarkan kita tentang hidup minimalis. Yang namanya ajaran, kenapa kamu serang sedemikian rupa? Ribet amat!

Apakah Marie Kondo itu kapitalis Jepang perampok duit pemalas? Ahh, itu pikiran cupet kamu saja, haters KonMari yang hidupnya begitu ribet. Apa-apa kok disambungkan, dihubung-hubungkan dengan sebuah “keharusan”.

Apa yang salah dengan sosok wanita, suka tersenyum, dan ramah kepada semua orang? Mungkin kamu terlalu sering berada di dalam rumah, tertindih barang-barang tidak berguna, tetapi begitu menikmatinya sampai-sampai nggak suka dengan orang yang menganjurkan kita untuk beberes kamar atau rumah.

Mungkin kamu jarang bertemu orang. Jadinya nggak butuh-butuh amat tersenyum untuk menunjukkan keramahan hati. Sampai-sampai, melihat wanita suka tersenyum saja menganggapnya sebagai creepy. Mungkin yang creepy itu hati dan hidupmu.

Tidying Up with Marie Kondo diserang banyak orang. Cara berpikirnya dianggap terlalu ribet ketika mempraktikkan metode yang berasal dari ajaran tradisonal Jepang, Shintoisme. Begini proses “KonMari”:

Sebelum beberes rumah, Marie Kondo mengajak pemilik rumah atau kamar untuk mengheningkan cipta. Marie mengajak pemilik rumah untuk membangun koneksi dengan rumah, sekaligus berterima kasih kepada rumah yang telah melindungi dari panas dan hujan. Apakah proses awal ini begitu ribet? Ya, tapi itu buat kamu.

Marie hanya mempraktikkan budaya Jepang, yang percaya bahwa jiwa itu ada di mana-mana. Kalau kamu anggap ini terlalu ribet, ya nggak usah dilakukan. Pusing bekerja? Ya nggak usah bekerja. Begitu saja repot sampai bikin tulisan ndakik-ndakik. Kalau kamu nggak mau mengheningkap cipta, ya langsung skip saja ke proses selanjutnya.

Nah, setelah mengheningkap cipta, pemilik rumah diminta mengumpulkan barang menjadi satu tumpukan besar. Barang yang akan disortir dibuatkan kategori. Pertama baju, lalu buku, kertas, komono (barang di dapur, kamar mandi, garasi, serta barang-barang pelengkap), lalu barang yang sentimentil atau mengandung memori.

Setelah sudah mengumpulkan barang-barang tersebut, sortir dimulai. Ketika sebuah baju memicu kebahagiaan saat dipegang, maka baju itu layak disimpan. Jika tidak, maka harus disingkirkan. Kamu bisa membuangnya atau menyumbangkan baju tersebut sebagai bentuk derma.

Nah, apa yang salah dengan anjuran ini? Ingat, KonMari itu sebatas anjuran, bukan tuntutan, apalagi kewajiban. Misalnya begini. Bukan karena konsumtif, tetapi karena tujuan “pertemanan”, saya suka membeli kaos produksi kawan sendiri. Misalnya produk fashion dari Mojok Store, atau toko online kawan sendiri.

Jelas, kebahagiaan saya akan terpicu setelah barang itu sampai di rumah, apalagi ketika memegangnya. Membantu nglarisi dagangan teman itu, bagi saya, sebuah kebahagiaan. Maka, ketika kita mensortirnya dan semua baju “spark joy”, ya tinggal simpan saja. Atau kalau mau didermakan, justru semakin bagus. kebahagiaannya dobel.

Sederhana, bukan? Nggak perlu ribet sampai pusing memikirkan anjuran Marie Kondo. Toh itu barang kita sendiri. Pikir gampang saja, ndes.

Ada yang berpendapat bahwa di sini konflik berpotensi terjadi. Misalnya ketika setelah capek membereskan rumah seharian, terlalu dalam merenungkan kembali soal kepemilikan barang, sampai khawatir tidak bisa menata isi garasi atau dapur sesuai standar Marie Kondo. Bahkan ada yang khawatir tidak bisa melipat baju secara vertikal serta tersimpan dalam posisi serta urutan yang lebih keren di lemari.

Ribet banget, sih, hidup haters KonMari. Pertama-tama, orang capek lebih mudah marah itu manusiawi. Kalau sudah meniatkan hati untuk beberes rumah, pastinya ia paham akan capek. Gampang, kan? Kayak gitu kok harus dipermasalahkan. Mereka menangis dan marahan kan ya hidup mereka. Ngapain kamu yang perlu khawatir dan ikut-ikutan resah karena banyak yang ikut KonMari?

Iklan

Kamu, haters Marie Kondo, resah karena banyak yang terobsesi dengan cara melipat baju secara vertikal? Ribet amat! Lha wong kami, yang suka dengan Marie Kondo, kalau tidak bisa melipat secara vertikal ya sudah. Ini kan anjuran, bukan seperti kewajiban bayar SPP kuliah. Intinya itu biar rumah lebih tertata rapi. Pun, kalau tidak bisa menjadi minimalis, ya kami nggak pernah memaksa diri. Kami tahu batasan diri dan ketebalan dompet, kok.

Ada yang menulis kalau KonMari ini penuh jebakan. Metode itu dituduh mempromosikan gaya hidup anti-konsumerisme yang menjunjung filosofi minimalisme. Filosofi ini, ketika dihitung kembali, tetap saja bakal menguras kantong.

Lalu, KonMari semakin dianggap negatif ketika Marie Kondo jualan barang-barang pendukung metode. Mulai dari boks kecil dan pernak-pernik lainnya. Harga barang-barang ini dipatok $89 atau sekitar Rp1,26 juta per set, alias lebih mahal dari harga normal.

Padahal, di bukunya, Marie Kondo menganjurkan pemilik rumah untuk menggunakan barang pendukung seadanya. Ia kemudian berdalih bahwa barang pendukung di Amerika Serikat tidak standar Jepang, sehingga ia menjual yang berstandar Jepang. Secara tersirat: yang lebih cocok untuk program KonMari.

Gini, lho. Pertama, kami juga paham kok kalau filosofi minimalisme itu sebetulnya nggak murah. Namun, kami ini juga paham dengan kedalaman kantong dan ketebalan dompet sendiri. Apa ya Marie Kondo itu ahli hipnotis yang bisa bikin kita beli barang produksinya yang mahal itu?

Kedua, kalau barang produksi penunjang KonMari itu mahal, ya jangan dibeli! Marie Kondo menganjurkan pakai barang seadanya. Ya sudah, pakai yang ada di rumahmu.

Misalnya kotak kardus bekas Indomie, kamu warnai lagi dengan cap semprot berbagai warna biar lebih enak dipandang mata. Atau bisa kamu lukis dengan berbagai motif. Kalau nggak kreatif, jatuhnya cuma bisa mencibir. Dikiranya manusia tidak itu tidak bisa menentukan skala prioritasnya sendiri?

Atau mungkin masalahnya ada pada haters KonMari sendiri. Mereka nggak paham dengan ketajaman mata melihat ceruk bisnis. Atau mungkin karena kalian ini sebetulnya cuma miskin saja. Jadi iri dan panas hati melihat seseorang keluar banyak duit sebagai bentuk usaha hidup minimalis.

Kalau masalah sudah ini, mending jangan habiskan waktu kalian dengan menjadi haters konsultan beberes rumah. Mending kalian kerja! Ini sudah 2019, jenis pekerjaan sudah semakin beragam seiring perkembangan dunia digital. Marie Kondo sukses membungkus metode tradisional Jepang dengan kemajuan teknologi. Kamu yang enggak kreatif dan miskin inovasi hanya bisa mencibir.

Program Tidying Up with Marie Kondo itu bukan sesi ceramah agama yang patut kamu turuti kata per kata. Kamu dan kita punya batasan masing-masing, punya kehendak bebas masing-masing. Kalau ada yang dirasa tidak cocok, ya jangan dituruti. Kalau ada yang cocok, ya diterapkan.

Sangat sederhana, bukan? Hidup kalian saja yang terlalu ribet. Mungkin isi hatimu itu yang perlu di-Marie Kondo-kan.

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2019 oleh

Tags: JepangKonMariMarie Kondominimalis
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)
Pojokan

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
kerja di Surabaya dengan gaji Jepang. MOJOK.CO
Sosok

Pertama Kali Lamar Kerjaan dari Job Fair di Surabaya, Nggak Nyangka Bisa Dapat Cuan Senilai Perusahaan di Jepang

26 Juni 2025
Orang Kebumen pertama kali ke Jepang, bingung perkara toilet MOJOK.CO
Catatan

Orang Kebumen Pertama Kali Nginep di Jepang: Bingung Cara Pakai Toilet sampai Cebok Pakai Botol Air

14 Juni 2025
Gaji Caregiver di Jepang Besar, tapi Melelahkan dan Penuh Fitnah.MOJOK.CO
Ragam

Kepahitan Kerja di Jepang yang Nggak Pernah Diceritakan Influencer, tapi Masih Lebih Menjanjikan Ketimbang di Indonesia

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.