Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
4 Januari 2026
A A
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harga sayur matang yang nggak cocok untuk slow living dan frugal living

Untuk menghemat pengeluaran, salah satu yang bisa kami lakukan adalah memasak sendiri. Beberapa tetangga saya masih punya kebun sayur. Jadi untuk sumber makanan, mereka bisa ambil di kebun sendiri. Namun, nyatanya, sudah lebih banyak warga yang nggak punya kebun. 

Banyak yang menjual kebun dan ladang dengan alasan berbeda. Mulai dari bagi waris, membelikan kendaraan untuk anak tercinta, biaya pendidikan terbaik di kota semakin mahal, renovasi rumah biar kelihatan lebih enak dipandang, sampai karena terjerat utang bank.

Ini saya belum sampai cerita soal kepemilikan sawah. Banyak warga menjual sawah karena kepepet kebutuhan. Hanya dalam waktu 6 tahun saya tinggal di sini, saya sudah melihat banyak peralihan dari sawah menjadi rumah tinggal atau tempat usaha. Lucunya, sampai saat ini, Minggir masih menjadi “lumbung padi Sleman”. Luar biasa.

Nah, oleh sebab itu, pilihan yang cepat untuk ketersediaan sayur matang adalah dengan membeli. Di sini, konsep slow living dan frugal living jadi nggak berlaku. 

Sebagai gambaran, istri saya bisa menghabiskan lebih dari Rp50 ribu sekali “jajan” sayur matang di pagi hari. Ini untuk makan setidaknya 2 kali saja dengan peserta makan: istri saya, anak saya, dan bapak-ibu mertua. Saya sendiri makan di kantor. Kalau malam, ya beli lagi.

Warga bisa memasak. Dan itu mungkin satu-satunya jalan untuk mendekati konsep slow living dan frugal living. Namun, banyak warga tidak punya kemewahan untuk menikmati variasi sayur matang. Kalau memasak, ya untuk makan 1 sampai 2 hari. Jadi memang frugal, tapi bukan konsep, lebih karena kepepet.

Profesi orang desa yang nggak memungkinkan menganut konsep slow living dan frugal living

Nah, sampai detik ini, saya masih menemukan sebuah pandangan yang rada keliru. Jadi, kalau menyebut desa, profesi yang terbayang adalah petani. Ya nggak salah, tapi kita butuh konteks di sini.

Minggir, adalah salah satu lumbung padi di Sleman. Namun, saya melihat regenerasi petani yang aktif turun ke sawah, kurang menggembirakan. Generasi yang masih aktif, rata-rata sudah di atas kepala empat, bahkan lima. Melihat kondisi ini, dalam waktu 10 tahun ke depan, jumlah petani (aktif dan produktif) mengalami penurunan pesat.

Banyak anak muda yang bekerja di luar Minggir. Mulai dari guru, dosen, swasta, abdi negara, sopir, shopkeeper, sampai pedagang. Rata-rata usia mereka antara 20 sampai 40 tahun. Usia yang katanya periode emas. Masalah yang muncul ya masalah klasik, soal gaji. Yang mana kita tahu, UMP DIY nggak mungkin menyokong konsep hidup slow living dan frugal living.

Rata-rata anak muda ini lalu, secara otomatis, masuk dalam kategori generasi sandwich. Mereka menghidupi diri sendiri dan menyokong keluarga inti. Kalau sudah berkeluarga, ya sandwich mereka jadi lapis tiga. Menghidupi tiga keluarga itu luar biasa bikin stres. Mikir makan saja sudah cemas, kok mau menganut konsep slow living dan frugal living.

Konsep langit

Oleh sebab itu, slow living dan frugal living hanya sebatas “konsep langit” bagi anak-anak muda di desa. Artinya, ini konsep yang tidak terjangkau oleh keadaan. Ah, bahkan saya berani bertaruh, anak-anak muda di desa nggak kepikiran sama konsep begituan.

Konsep hidup mereka cenderung sederhana. Kerja, anak-istri sehat, orang tua nggak mereka gagal membesarkan anak, kalau ada waktu luang bisa menghidup hobi. Biasanya, hobi mancing atau pelihara burung. Gitu saja konsep hidup mereka. 

Kalau nyatanya punya utang, mereka punya kalimat sakti. Bunyinya: “Ya dipikir karo mlaku.” Ya, dipikir sambil jalan. Mungkin begitulah konsep “slow” di dalam kepala mereka. Bukan “slow” as in “slow living”.

Kalau mau menganut konsep slow living dan frugal living hukum pertama adalah punya uang. Dalam jumlah banyak. Dan nggak punya utang. Apalagi utang ke rentenir. Oya, punya passive income yang sebulan bisa ngasih kamu Rp50 juta tentu akan sangat membantu.

Pada akhirnya, saya setuju dengan Aly. Bahwa slow living dan frugal living di desa itu omong kosong. Mau mikirin soal frugal, ngirit, eh nyatanya harus keluar duit minimal 3 kali dalam sebulan, hanya untuk isi amplop sumbangan, yang kalau nggak minimal Rp200 ribu, sangat gengsi untuk mencantumkan nama. Begitulah.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Orang Jogja Nggak Kenal Frugal Living, Sejak Dulu Sudah Terlatih Prihatin Living Gara-gara UMK yang Tiarap dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 4 Januari 2026 oleh

Tags: frugal livingJogjaKulon Progominggir slemanslemansleman baratslow livingump diyumr jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Slow living boleh kalau tabunganmu nambah 1 miliar tiap bulan (Unsplash)

Slow living itu sekarang jatuhnya kemewahan tapi gaya hidup, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tabungannya nambah 1 miliar tiap bulan

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.