Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Slow Living dan Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong, Apalagi Kalau Kamu Cuma Buruh Rendahan dan Gajimu Mengenaskan

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
4 Januari 2026
A A
Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Slow Living Frugal Living di Desa Memang Omong Kosong (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya sangat setuju dengan tulisan kawan baik saya, Aly Reza, di rubrik Liputan. Dia menulis bahwa slow living dan frugal living di desa itu omong kosong. Banyak warga desa yang memaksakan diri “harus punya uang” demi menggelar banyak ritual. Mereka membalutnya dengan konsep “tradisi”.

Aly membeberkan beberapa contoh. Mulai dari acara akikah yang harus besar sampai mengundang grup hadrah. Lalu, ada sumbangan pengajian yang bertubi-tubi. Terakhir, kalau tahlilan, harus menyumbang dengan nominal yang sama. Kalau nggak “ikut tradisi”, pasti jadi gunjingan warga lainnya.

Semua contoh yang Aly jelaskan adalah fenomena yang terjadi di desanya. Tiga narasumber Aly juga berasal dari desa yang sama. Aly, yang lama merantau sejak kuliah, kaget ketika mendengar fenomena tersebut. 

Yah, kalau saya, tentu maklum. Kalau tidak salah ingat, Aly pernah berkata ingin pensiun di desa. Dia ingin menjalani slow living dan frugal living setelah selesai dengan karier di kota. Katanya lagi, Aly ingin membuka depot isi ulang galon. Kenyataan yang terjadi, menghantam cita-cita Aly.

Nah, lantas, bagaimana dengan saya sendiri? Saya setuju dengan pendapat Aly. Bahwa slow living dan frugal living itu omong kosong. Izinkan saya menjelaskannya secara singkat.

Hidup di desa “yang nggak lagi terasa seperti desa”

Saat ini, saya tinggal di daerah Minggir, Sleman Barat. Naik motor 5 menit ke arah barat, saya sudah sampai di Kabupaten Kulon Progo. Dan selama 6 tahun tinggal di sini, saya merasa konsep slow living dan frugal living itu tidak relevan.

Pertama, Minggir itu bukan lagi “desa” seperti dulu. Hanya karena kami berada di perbatasan kabupaten, Minggir lantas jadi sesepi itu. Banyak yang akan bilang, “Wah, tinggal di desa, ya” ketika saya menjelaskan tempat tinggal. Saya hanya tersenyum saja.

Kamu tahu, di Minggir, sudah ada cuci baju self service. Damn. Lalu, di tempat saya tinggal ini ada booth seperti Nescafe tapi bukan Nescafe. Lumayan oke, kopi yang mereka jual. Terbilang fancy-lah untuk sebuah daerah “mantan desa”. 

Oya, ada juga warung makan Sategedhe yang menyajikan sate menjangan premium di mana makan 4 orang bisa habis sampai Rp800 ribu. DAMN! JELAS KAMI WARGA MINGGIR BUKAN TARGET PASAR MEREKA.

Perkembangan di Minggir terjadi begitu cepat. Fenomena yang (sepertinya) terjadi juga di berbagai desa di Sleman. Khususnya yang punya kekayaan budaya dan wisata. 

Hasilnya, harga makanan, khususnya sayur matang, jadi naik. Harga sayur matang memang masih lebih murah ketimbang kota. Namun, tetap saja, susah untuk konsep slow living dan frugal living di desa.

Baca halaman selanjutnya: Konsep yang nggak masuk akal.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Januari 2026 oleh

Tags: frugal livingJogjaKulon Progominggir slemanslemansleman baratslow livingump diyumr jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Jogja macet saat mudik Lebaran
Urban

Sebagai Warlok Jogja, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO
Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
wayang, plaza ambarrukmo.MOJOK.CO
Seni

Di Balik Pagelaran Wayang 20 Jam Nonstop: Menaklukkan Angin, Hujan, dan 40 Kepala Manusia di Atap Mal

8 Maret 2026
Anak rantau di Jogja pilih jadi marbot. MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026

Beras Porang Indomaret, Makanan Aneh yang Saya Sesali untuk Sahur padahal Menu Favorit Orang Jepang

3 Maret 2026
Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo.MOJOK.CO

Modernitas dan Tradisi Menyatu dalam Perayaan Dua Dekade Plaza Ambarrukmo

6 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Honda Vario: Motor yang Menyalahi Kodrat dan Nggak Waras MOJOK.CO

Honda Vario Adalah Motor yang Menyalahi Kodrat dan Nggak Waras, tapi Tetap Sakti dan Menjadi Pionir Matik Honda Selanjutnya

3 Maret 2026
Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga

Di Balik Camilan “Mainstream” saat Lebaran, Ada Nilai Sentimental yang Mencairkan Suasana Kumpul Keluarga

6 Maret 2026

Video Terbaru

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.