Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Perempuan yang Mau Diajak Makan di Pinggir Jalan adalah yang Terbaik, Kata Siapa?

Audian Laili oleh Audian Laili
7 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Katanya, perempuan ideal dan terbaik adalah mereka yang mau diajak makan di pinggir jalan. Uuuh, apa betul?

Ada anggapan di tengah masyarakat, bahwa perempuan yang mau diajak makan di pinggir jalan adalah perempuan yang terbaik serta ideal untuk dijadikan pasangan. Pasalnya, ini menjadi ciri-ciri seorang perempuan yang bersedia diajak hidup susah, sederhana, dan nggak ribet. Alias: ngajak jalan dia, sama artinya dengan menghemat pengeluaran kencan. Tentu saja ini menjadi salah satu hal yang baik untuk masa depan.

Lantas, benarkah hanya dari satu kegiatan saja, seorang lelaki betul-betul bisa menilai keseluruhan kepribadian teman kencannya ini? Bukankah masih ada rentetan alasan dan kemungkinan lain yang juga bisa menyebabkan seorang perempuan tidak mau makan di pinggir jalan? Bahwa, tentu saja, pilihan ini bukan semata-mata karena alasan matre belaka.

Hal pertama yang perlu dicatat adalah, ketika seorang perempuan nggak mau diajak makan di pinggir jalan, bukan berarti dia selalu pengin makan di tempat yang mewah. Atau setidaknya harus tempat yang fancy dan Instagram-able—sekadar untuk konten yang di-upload di media sosial.

Tolong diingat baik-baik ya, Sayang. Di antara pilihan tempat makan pinggir jalan dan makan di tempat mahal, masih ada begitu baaaaaanyak alternatif tempat makan lainnya. Misalnya, Burjo dan warung makan nggak di pinggir jalan lainnya namun harganya tetap murah, masak sendiri di rumah, atau memilih makan di foodcourt mahasiswa yang lebih terjamin keramahan bagi isi dompetnya.

Jadi, pilihan untuk mau makan di pinggir jalan atau tidak, sebaiknya bukan hanya dilihat sebatas hitam dan putih. Seolah-olah, nggak mau diajak makan di pinggir jalan artinya dia adalah perempuan yang matre adanya. Padahal, kan ya nggak gitu juga.

Lagian kalau kita menganggap makan pinggir jalan sama artinya dengan gaya hidup hemat, murah, dan nggak menguras kantong, sepertinya tidak selalu seperti itu. Buktinya, pecel lele di pinggir Jalan Kaliurang dekat UGM harganya jauh-jauh lebih mahal daripada makan ayamnya Mas Kobis. Kalau nggak percaya, coba aja dicek. Nggak, kok. Sungguh, ini nggak di-endorse sama Mas Kobis. Tapi kalau nanti Mas Kobis jadi pengin endorse ya, diterima dengan lapang dada.

Selain itu, ada kemungkinan lain yang bisa menyebabkan seorang perempuan tidak berkenan makan di pinggiran jalan. Bisa jadi, ia tidak yakin dengan kebersihan tempat makannya. Bagaimanapun juga, masalah kebersihan tempat makan ini adalah sesuatu yang paling penting. Nggak mau kan, setelah makan justru kamu dan pasangan jadi kena diare kompakan?

Oh ya, selain masalah kebersihan, bisa jadi ia sedang mengalami trauma. Lantaran sebelumnya ketika sedang makan di pinggiran jalan, tiba-tiba lewat truk pembawa sampah yang langsung mengubah rasa makanan dengan seketika. Saat ini, ia sedang butuh waktu untuk pelan-pelan beradaptasi lagi dengan pengalaman buruk yang pernah menimpanya. Jadi tidaklah elok rasanya, jika kamu langsung men-judge bahwa dia adalah perempuan yang matre dan manja.

Selanjutnya, pilihan nggak mau diajak makan di pinggir jalan, mungkin diam-diam dia sedang ingin mengetes pasangannya. Dia ingin melihat responmu dalam keadaan yang bikin tidak semua lelaki itu nyaman. Misalnya, kira-kira jika ia bersikap sebegitu manjanya dan nggak asal mau makan di mana saja, apakah pasangannya masih tahan? Ataupun ia ingin melihat, apakah pasangannya adalah seseorang yang pelit dan hitung-hitungan, jika diajak makan di tempat yang lebih well keadaannya?

Jika seorang lelaki beralasan bahwa hanya dengan mengajak perempuan makan di pinggir jalan karena ingin melihat: apakah pasangannya betul-betul mau diajak hidup susah nantinya. Lebih baik hentikan ini semua, Sayang. Apakah kamu betul-betul sepesimis itu dengan masa depanmu sehingga dari jauuuuh sudah merencanakan untuk hidup susah?

Bukankah akan lebih baik kalau pola pikirmu ini yang di-setting ulang? Bahwa, dalam keadaan susah tersebut, kamu akan mengusahakan untuk segera keluar, nggak mau lama-lama dari keadaan susah itu, dan berusaha mencapai keadaan yang lebih baik?

Sekali lagi, makan di pinggir jalan bukan menjadi satu-satunya indikator bahwa dia memang pantas untuk mendampingimu. Kriteria perempuan yang baik kan banyak, tidak sebaiknya hanya dilihat dari tempat makan saja. Meski dia mau diajak makan di pinggiran jalan, bukan artinya dia nggak bakalan selingkuh. Sayang, semua orang punya kesempatan yang sama untuk berbuat jahat. Nggak terbatas hanya dilihat dari tempat makannya saja. Camkan ini!!!111!!

Lagian, apa, sih, enaknya punya pasangan yang mau diajak makan di pinggiran jalan, tapi dia masih suka bergosip, gampang emosi, ngomongnya suka ngawur dan bikin sakit hati? Selain itu, ternyata dia tetap bergaya hidup mewah, branded, dan bergabung di arisan-arisan sosialita? Yang kemudian tidak kamu sadari, sebetulnya makan di pinggir jalan ini hanya sebagai pencitraan semata sebagai konten di media sosial saja.

Iklan

Udahlah, kalau pasangan nggak mau makan di pinggir jalan dituruti aja. Lagian makan di luar juga nggak setiap hari juga~

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: makan pinggir jalanperempuan makan pinggir jalanperempuan sederhana
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

31 Januari 2026
karet tengsin, jakarta. MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.