Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Percakapan Basa-basi Itu Tetap Berkesan, Kenapa Harus Dibikin Rumit?

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
10 Februari 2020
A A
percakapan basa-basi MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Percakapan basa-basi adalah proses sederhana yang berkesan ketika kita memperhatikan tone, bukan kalimatnya saja. Tapi, kita suka bikin semuanya jadi rumit.

Kenapa orang semakin senang memperumit sebuah kebiasaan? Apakah karena mereka sedang menjalani kehidupan yang menyedihkan? Atau cuma biar terlihat sok keren dengan bikin pusing hal-hal yang sebetulnya sederhana. Orang sering lupa, dari kesederhanaan itu, orang terkoneksi.

Percakapan basa-basi, sesuatu yang kecil, sederhana, pun dibikin rumit. Padahal, percakapan basa-basi itu membuat orang terkoneksi, mau seremeh apapun tema obrolan. Mau ngobrol dengan teman sendiri, maupun dengan orang asing yang nggak sengaja ketemu di lapak sayur ketika sama-sama sedang mau beli cabai dan bawang putih.

“Kok bawang putih sekarang mahal banget, ya Bu?”

“Iya, Mbak. Nggak tahu, nih. Padahal suami saya suka banget sambel bawang.”

“Katanya ada kartel bawang putih, lho Bu.”

“Kartel itu apa ya, Mbak. Saya jarang nonton TV. Saya udah pusing mikirin cak-cakan duit bulanan, mana sempet mikirin kartel.”

“Kartel itu semacam orang-orang jahat yang mainin harga, Bu. Makanya bawang putih bisa mahal begini.”

“Walah, baru tahu, Mbak. Makasih ya infonya.”

See, percakapan basa-basi menghasilkan sebuah output yang tak dikira. Bisa bikin seorang ibu rumah tangga yang jarang nonton TV dalat kosakata baru: kartel. Ini sebuah proses yang berkesan. Kamu tak akan pernah tahu bagaimana cara sebuah informasi baru datang menghampirimu.

Sekarang kita lihat bagaimana percakapan basa-basi dibuat rumit ketika seorang laki-laki ketemu temannya. Lihat tweet berikut:

Ketemu teman lama.

.

Temen “Sibuk apa sekarang?”

Aku “Kerja aja sih”

Temen “Kerja dimana?”

Dia menanyakan kabarku hanya untuk memastikan kalau mereka lebih sukses dariku.
Gaperlu basa-basi lagi.

Aku “Kamu lebih sukses kok” ?

— Fredy H. (@FredyHariy) February 5, 2020

Percakapan basa-basi, biasanya, tidak akan lebih dari 10 menit. Memang bisa, dari percakapan basa-basi menjadi diskusi yang panjang. Namun, percakapan basa-basi biasanya terjadi di momen yang tidak terduga, di sebuah momen “antara”. Misalnya nggak sengaja ketemu teman ketika mengantre di sebuah tempat perbelanjaan.

Bukankah normal ketika kamu ketemu teman lalu bertanya: “Eh, sehat? Kerja di mana sekarang?” Mungkin karena kamu jarang ketemu dengan teman itu, pertanyaan soal pekerjaan muncul. Bukankah tinggal menjelaskan: “Nganggur, Bro. Cariin gawe, dong,” atau “Alhamdulillah, lagi ngambil S2, bulan depan kelar,” atau “Alhamdulillah, PNS. Biar jadi idaman mertua.”

Iklan

Sesuatu yang sederhana dibuat ribet dengan berpikir: “Dia tanya kabar untuk memastikan mereka lebih sukses.” Halo, Mas, dimarahin Tuhan, lho, kalau gampang curiga sama orang lain yang cuma nanyak kabar.

Tahukah kamu, percakapan basa-basi atau small talk juga sebuah bentuk kesopanan? Orang yang terlibat di dalam proses komunikasi menunjukkan bentuk kesopanan dengan pertanyaan sederhana. Small talk juga menjadi sebuah cara membuka diskusi yang lebih mendalam, baik dengan yang sudah dikenal atau dengan orang asing.

Kamu membuka sebuah jendela kesempatan lewat percakapan basa-basi. Siapa tahu, dengan ketemu teman lama atau orang asing, sebuah kesempatan baru bisa kamu dapatkan. Pekerjaan baru yang sebelumnya cuma bisa kamu impikan, sampai siapa tahu, dapat jodoh.

Ada yang suka membuka percakapan dengan: “Lagi apa?” atau “Sudah makan?” Pada titik tertentu, dua pembuka itu memang menyebalkan kalau terlalu sering dipakai. Apalagi kalau sedang berusaha mendekati seseorang.

Namun, bukankah percakapan basa-basi seperti itu normal dan nggak perlu dibuat ribet. Apa mau membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan pemantik seperti:

“Is a new theory of light and matter needed to explain what happens at very high energies and temperatures?

Pertanyaannya sengaja dibuat keminggris biar kelihata pintar padahal cuma copas dari internet. Apakah hal-hal rumit seperti itu yang perlu menjadi bahan pertimbangan percakapan basa-basi? Apakah hanya karena usia, seseorang tidak lagi menikmati small talk?

Forbes pernah menulis enam alasan small talk sangat penting. Dua alasan yang sangat menarik adalah: you have no idea where it will go dan it opens your eyes.

Kamu nggak akan tahu ke mana percakapan basa-basi akan membawamu. Contohnya sudah saya tulis di atas: percakapan basa-basi bisa saja jadi membuka jendela kesempatan. Dapat pekerjaan yang lebih baik, dapat project yang manis banget buat startup yang sedang kamu rintis, bahkan dapat jodoh.

Small talk bisa membuka matamu lewat sebuah interaksi sederhana. Forbes menulis: “…putting down your stupid smart phone long enough to have a conversation with a human being in three dimensions.”

Basa-basi bisa menarikmu dari kebiasaan menatap “your stupid smart phone” bahkan ketika nongkrong bareng. Seperti kisah ibu rumah tangga di awal tulisan, kamu bisa dapat informasi baru. Siapa tahu, informasi itu akan berguna di sepanjang hidupmu yang menyedihkan itu.

Percakapan basa-basi adalah proses sederhana yang berkesan ketika kita memperhatikan tone, bukan kalimatnya saja. Namun, kita cenderung bikin rumit sesuatu yang seharusnya sederhana. Dasar manusia, kalau bisa rumit, kenapa dibikin mudah.

BACA JUGA Mencintai Percakapan Basa-basi atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2020 oleh

Tags: basa-basilowongan kerjapercakapan basa-basiPNSsmall talkstartup
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO
Urban

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lima daerah di Jawa Tengah jadi pilot project BPOM Pusat untuk produk jamu aman demi menjaga citra obat tanaman herbal warisan UNESCO MOJOK.CO

Merawat Citra Jamu di Jateng sebagai Warisan Sehat dan Aman, Campuran Bahan Kimia Bisa Merusaknya

9 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.