Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pak Ma’ruf Amin, Makasi ya Udah Jujur bahwa Komposisi Kabinet Tak Memuaskan

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
4 November 2019
A A
ma'ruf amin kabinet baru menteri jokowi tidak puas

ma'ruf amin kabinet baru menteri jokowi tidak puas

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di saat publik merasa tidak puas dengan komposisi menteri Jokowi, Wakil Presiden Ma’ruf Amin malah sampaikan ketidakpuasan yang sama. Lho? Lho?

Sudah beberapa minggu berjalan, pandangan kritis soal nama-nama menteri dalam Kabinet Indonesia Maju masih saja bermunculan dari publik. Uniknya, ketidakpuasan ini tidak cuma muncul dari arus bawah, tapi juga disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Dengan terbuka, Ma’ruf Amin membenarkan kalau dirinya juga tidak puas dengan struktur kabinet yang baru dibentuk saat ini. Lebih-lebih karena Nahdlatul Ulama tidak mendapat kursi Menteri Agama. Posisi langganan yang kali ini malah diserahkan ke Fachrul Razi, seorang purnawirawan Jenderal TNI. Pun dengan Muhammadiyah yang tidak dilanjutkan mengisi pos Kemendikbud.

“Ya itu kan biasa, memang itu bagian ketidakpuasan. Saya juga bilang, yang tidak puas itu memang banyak. Pak Jokowi juga tidak puas, saya juga tidak puas, NU tidak puas, Muhammadiyah tidak puas, karena memang belum semua bisa terakomodasi,” kata Ma’ruf Amin.

Lebih unik lagi, Ma’ruf Amin menyampaikan bahwa ketidakpuasan ini ada hubungannya juga soal kuota. Semacam orang yang mau dimasukkan ke kabinet ada banyak nama, tapi jumlah kementeriannya cuma ada 34 dan jumlah wakilnya cuma 12. Akhirnya Jokowi dan dirinya harus pinter-pinter bikin strategi biar elite dan oligarki yang kecewa nggak banyak.

“Karena tempatnya memang tidak banyak, kan saya bilang yang tertampung itu yang ada garis tangannya. Jadi yang tidak ada garis tangannya tidak masuk atau mungkin ada garis tangannya tapi hilang, sering nyuci,” tambahnya bercanda.

Pernyataan semacam ini cukup mengejutkan. Bukan apa-apa, jika Wakil Presiden saja menyampaikan kalau dirinya nggak puas dengan komposisi menteri dalam kabinetnya sendiri, lha memang yang menentukan nama-nama menteri Jokowi kemarin itu siapa?

Meski begitu, harus dipahami bahwa pernyataan Ma’ruf Amin seperti memberi petunjuk kuat kalau keputusan pemilihan menteri pada praktiknya bukanlah hak prerogatif presiden—lebih-lebih pada periode sekarang. Hal ini sebenarnya juga sudah diketahui publik sih.

Aturan soal pemilihan menteri merupakan hak prerogatif presiden itu sebenarnya cuma kalimat pemanis di undang-undang saja. Pada praktiknya mah memang harus ada negosiasi dengan kepentingan partai pengusung dan koalisinya. Nggak bisa benar-benar seenak udelnya presiden.

Paling tidak, kalau kita berkaca ke belakang, hanya Presiden Gus Dur saja yang pernah melakukan amanat undang-undang ini dengan brutal. Dan hasilnya? Hayaaa tentu saja Presiden Gus Dur saat itu terus dimakzulkan oleh DPR. Karena ya alasan klise saja: Gus Dur ogah bagi-bagi kekuasaan.

Pernyataan Ma’ruf Amin juga menunjukkan kalau blio terlalu jujur terkait apa yang dirasakannya. Kalau cuma bicara mengenai publik yang tidak puas, ya mau seideal apapun nama-nama menteri Jokowi, sudah pasti ada saja pihak yang tak puas. Tapi kalau bicara dari perspektif jabatan blio sebagai Wakil Presiden, pernyataan itu kan malah bisa bikin banyak orang resah.

Ya iya dong, ketika rakyat mau mengeluh soal nama-nama menteri, lha kok Wakil Presidennya juga sama-sama ngeluh tidak puas. Lha memang dulu waktu nunjuk menteri, Presiden harus nunggu ACC dari siapa aja, kok bisa-bisanya merasa tidak puas juga tuh?

Baru dipilih lho ini, kerja juga belum lama. Kalau tidak puas karena udah kerja satu-dua tahun sih wajar. Kali aja baru ketahuan kalau kinerjanya nggak optimal ya kan? Lha kalau baru ditunjuk barang beberapa minggu kok udah dikeluhkan, itu artinya sejak awal sudah ada perbedaan antara apa yang diinginkan Presiden dengan nama-nama yang akhirnya ditunjuk.

Pertanyaan lanjutannya, tangan pemberi ACC nama-nama menteri ini sekuat apa kendalinya terhadap Presiden dan Wakil Presiden? Ya kan nggak mungkin dong kalau cuma soal menunjuk nama-nama doang. Sudah pasti ada pengaruh juga dalam bidang kebijakan strategis di tiap kementerian.

Iklan

Meski begitu, dalam hal ini barangkali ada dua kemungkinan kenapa ketidakpuasaan ini disampaikan secara terbuka ke publik oleh Wakil Presiden.

Pertama, Ma’ruf Amin memang ingin jujur saja. Merasa dirinya juga sama seperti kebanyakan rakyat yang tidak puas dengan nama-nama menteri Jokowi. Kedua, Ma’ruf Amin memang belum cukup punya pengalaman menjadi pejabat negara. Terutama soal kemampuan memilih mana yang perlu disampaikan dan mana yang tidak.

Memang benar sih, blio pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2007-2014. Hanya saja saat itu kan jabatan yang diemban Ma’ruf Amin bukan jabatan struktural. Circle-nya masih di luar kekuasaan gitu.

Nah, sedangkan menjadi pejabat negara secara langsung ya baru diemban sekarang ini. Nggak main-main, sekelas Wakil Presiden lagi.

Jika biasanya, orang yang berposisi sebagai Wakil Presiden selalu jago bermain-main dengan diksi ketika berhadapan dengan publik, tapi sepertinya hal itu tak tampak dari Ma’ruf Amin. Kan bisa aja sih bilangnya ke publik kayak gini, “Ya wajar kalau publik tidak puas, tapi saya kira ini komposisi menteri yang sudah sangat ideal.”

Tuh lihat. Datar. Normatif. Aman. Benar-benar khas pejabat negara.

Beda dengan pernyataan Pak Ma’ruf Amin. Apa yang dirasakan di hati, ya dihajar saja sampaikan ke publik. Benar-benar tanpa tedeng aling-aling.

Yah cuma bisa berdoa saja sih, semoga panjenengan nggak ditegur Presiden karena pernyataan ini.

Eit, tunggu dulu, emang Jokowi berani negur? Eh.


BACA JUGA Rahasia Ketenangan Kiai Ma’ruf Amin saat Debat Cawapres atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 4 November 2019 oleh

Tags: jokowiMa’ruf Aminmenteri Jokowi
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Aktual

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.