Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Moeldoko: Kita Harus Bangun Mental Penjajah. Lah, Bukannya Sudah Punya?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
24 Agustus 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Moeldoko kembali mengeluarkan pernyataan menarik, menurutnya orang Indonesia perlu membangun mental penjajah.

Setelah pernyataan mengenai internet di Papua diblokir nggak apa-apa karena zaman dulu nggak ada internet juga bisa hidup, kali ini Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko kembali mengeluarkan pernyataan yang lumayan bikin deg-deg-ser.

“Kita ini bangsa yang takut bersaing begitu hadapi orang luar. Kita harus membangun mental penjajah. Ngapain kita takut jadi orang seperti itu? Kita harus menghancurkan mental terjajah,” kata Moeldoko di sebuah acara di Jakarta pada Kamis (22/8).

Pernyataan ini tentu tidak bermasuk melanggar dari isi Pembukaan UUD 45 di bagian “…maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikadilan.”

Ya iya dong, sebagai seorang patriot yang menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, tidak mungkin sosok sekelas beliau bermaksud Indonesia jadi negara penjajah betulan. Maksud beliau ini, sebagai bangsa, kita sebaiknya tak perlu merasa inferior.

Misalnya ini ada orang Papua terus merasa agak gimana gitu sama orang dari daerah lain, ya nggak usah begitu. Setiap anak bangsa itu setara. Semua memperoleh pemerataan pembangunan yang aduhai. Pemerataan pendidikan yang adil juga.

Nggak ada tuh ketimpangan di negeri ini. Semua daerah di pelosok bahkan sampai perbatasan negara pun benar-benar sejahtera dan hidup enak. Kalau ada yang bilang daerah di Indonesia ini ada bias pembangunan, ah itu kan mitos. Bikinan anak-anak aktivis pemecah belah bangsa aja itu mah.

Menurut beliau, maksud “mental penjajah” ini artinya memperluas jangkauan perekonomian Indonesia ke negara lain. “Kalau dia bisa mewarnai dunia luar lebih baik, itu yang saya katakan mental kita harus jadi mental penjajah. Nanti begitu dapat sesuatu bisa dibawa lagi balik ke Indonesia,” kata Moeldoko.

Tak perlu juga terlalu reaktif menanggapi pernyataan ini. Sebenarnya kalau mau dirunut dari sejarah, kita sudah punya mental itu. Paling tidak kita bisa mengacu pada bagaimana sejarah wilayah Indonesia diputuskan, terutama terhadap wilayah-wilayah di bagian Timur dari Hindia Belanda (sebelum bernama Indonesia).

Wabilkhusus sejarah ketika Mohammad Hatta menolak Papua Barat dimasukkan menjadi bagian dari Hindia Belanda saat rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei sampai 19 Agustus 1945.

Saat itu, ketimbang mengikuti suara mayoritas anggota BPUPKI, Hatta tidak melihat Papua punya ikatan historis dengan negeri Hindia Belanda. Meski disebutkan tanah Papua itu sangat kaya, Wakil Presiden Indonesia pertama ini khawatir kengotoan pemerintah memasukkan Papua bisa memunculkan prasangka buruk dari pihak luar.

Terutama karena Papua Barat tak punya ikatan historis yang kuat dengan wilayah Hindia Belanda atau masuk dalam diksursus sejarah Nusantara.

“Jadi jikalau ini diterus-teruskan, mungkin kita tidak puas dengan Papua saja tetapi (kepulauan) Salomon masih juga kita minta dan begitu seterusnya sampai ke tengah Laut Pasifik. Apakah kita bisa mempertahankan daerah yang begitu luas?” tanya Hatta.

Menurut Hatta, daripada susah payah memasukkan Papua Barat sebagai bagian dari teritori negara lebih baik mengarahkan perhatian ke Borneo Utara dan Semenanjung Malaya (saat ini Malaysia). Menurutnya, kedua wilayah itu jauh lebih memiliki ikatan historis dengan Nusantara, sehingga sentiman negara luar akan berbeda ketika melihatnya.

Iklan

Setelah diskusi alot dengan mayoritas anggota rapat BPUPKI, akhirnya usulan Mohammad Hatta ini ditolak karena kalah voting. Akhirnya negara Indonesia memiliki wilayah dari Sabang sampai Merauke seperti yang kita kenal sekarang.

Tapi kamu tak perlu khawatir, niat ekspansi (memperluas wilayah) yang diwanti-wanti oleh Mohammad Hatta ini ternyata tidak terjadi lebih lanjut—alias tidak sampai Kepulauan Salomon atau pulau-pulau di Samudra Pasifik. Nyatanya, setelah Papua Barat, cuma wilayah Timor Timur saja yang akhirnya ikut “bergabung” sebelum akhirnya keluar lagi dari wilayah Indonesia.

Jadi kalau Moeldoko bilang kita sebaiknya memiliki punya mental penjajah—terutama—dalam bidang ekonomi, sebenarnya sih sejak zaman dulu itu kita sudah punya mental itu. Ya iya dong, setelah lebih dari setengah abad kita ternyata bisa mewarnai dunia dengan lebih baik. Membawa semua kekayaan ekonomi itu dari Timur ke Barat, kembali ke “bumi pertiwi” dan bisa dinikmati oleh “semua”.

BACA JUGA Kisah-kisah Mohammad Hatta yang Membuat Kita Tertawa

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2019 oleh

Tags: mental penjajahMoeldokoPapua
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO
Sosial

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
papua.MOJOK.CO
Sosok

Tolak Tawaran Kerja di Amerika Demi Mengajar di Pelosok Papua, Berambisi Memajukan Tanah Kelahiran

18 Februari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO
Ragam

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Lupakan Garuda Indonesia, Pesawat Terbaik Adalah Susi Air MOJOK.CO
Otomojok

Lupakan Garuda Indonesia, Citilink, dan Lion Air: Naik Pesawat Paling Menyenangkan Justru Bersama Susi Air

10 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Kaya dari Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

7 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.