Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Master of None: Ketika Bisa Banyak Hal tapi Serba Nanggung

Audian Laili oleh Audian Laili
23 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Banyak anggapan menjadi master of none itu nggak greget sama sekali. Bisa banyak hal sih, tapi kualitasnya serba nanggung.

“Aku bisa begini, aku bisa begitu. Bisa ini bisa itu banyak sekali…”

…tapi nggak ada yang betul-betul jadi ahli.

Menjadi seorang yang ‘katanya’ multitalent itu menyenangkan. Saya pengin bersombong diri, bahwa saya termasuk orang yang ‘lumayan’ multitalent. Buktinya, saya bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Eh, maaf, ini kok jadinya multitasking, ya? Perlu saya garis bawahi pakai penggaris 5 cm, kalau saya bisa. Bukan ahli. Jadi, ketika saya mencoba mengevaluasi, sebetulnya kemampuan apa yang paling kuat melekat pada diri saya: saya bingung. Pasalnya, segala kemampuan yang ada itu, semuanya sekadar setengah-setengah. Nggak ada yang betul-betul mantep.

Adakah yang mengalami hal yang serupa?

Saya yakin banyak. Apalagi katanya, banyak orang Indonesia yang terjerumus dalam si jack of all trades but master of none yang berkedok multitalent ini. Eits, apa itu jack of all trades but master of none? Seperti yang sekelebat saya uraikan di atas, ia adalah bisa banyak hal tapi nggak menjadi master di bidang mana pun. Jadi, ia tahu tentang banyak hal, tapi tidak menguasai apa pun, karena tahunya cuma sedikit-sedikit.

Lantas, mengapa banyak orang Indonesia yang mengalami hal ini? Dikarenakan sistem pendidikan Indonesia—setidaknya—dari SD sampai SMA, telah memaksa kita untuk menguasai semua bidang pelajaran, yang dalam satu semester jumlahnya belasan itu. Padahal, menguasai hati satu orang saja kita sering kali tidak mampu.

Kita dididik untuk cerdik dalam pelajaran matematika yang mengedepankan logika, lihai dalam bermain kasti, hingga sanggup menunjukkan darah seni dalam pelajaran kesenian—yang ujiannya biasanya malah ditanyai soal teori dan sejarah seni. Jan, ra mashook blas!!11!!!

Selain begitu banyaknya jumlah mata pelajaran yang harus kita kuasai—entah dikarenakan pendidik atau sistem pendidikannya—kita juga dituntut untuk memahami semua itu dengan cara hafalan. Lantas, apa yang bisa diharapkan dengan teknik hafalan dari otak—macam saya—yang pas-pasan?

Yak, betul: ketika keluar dari ruang ujian, semuanya ambyar!

Sebelumnya, saya kira menjadi orang yang ‘merasa’ bisa mengerjakan banyak hal, itu menyenangkan. Namun ternyata, itu sungguh nanggung adanya. Lha gimana nggak nanggung, je. Lha wong, setiap pekerjaan yang dikerjakan, hasilnya kurang sempurna dan sering kali… mengecewakan.

Ada teman saya namanya Susi. Dalam perjalanannya mencari passion, dia pernah menekuni bidang teater, pernah juga fokus menggambar—karena pengin jadi seniman lukis. Selain itu, dia juga gemar ngutak-ngutik dan berkecimpung dalam bidang crafting. Tidak hanya itu, Susi juga pengin jadi musisi dengan belajar bermain gitar.

Beberapa waktu lalu, dia bercerita kepada saya. Bingung harus fokus di bidang apa. Katanya, ia menyukai semua bidang tersebut dan tidak dapat menentukan mana yang paling baik untuknya. Pasalnya, yang baik baginya, tergantung kapan kemampuan itu diperlukan. Meski sesungguhnya, katanya sih, nggak ada kemampuan yang baik-baik amat.

Kata Susi, memiliki kemampuan banyak dan nanggung ini, mungkin—selain karena sistem pendidikan—juga dampak dari perasannya yang mudah berubah. Dia mengalami mood swing, sehingga tiba-tiba semangat dengan satu hal. Lalu di saat yang lain, ia merasa malas-malasan dengan hal tersebut. Tidak lagi merasa bahwa dunia crafting—meski sampai rela beli mesin jahit—jadi menarik lagi.

Iklan

Banyak yang mengkritisi fenomena master of none, karena dianggap berkontribusi besar dalam men-stagnan-kan pertumbuhan para ahli. Pasalnya, tidak banyak orang yang akhirnya mampu mengerjakan satu bidang saja, sehingga fokus dan mendalam. Tidak mengherankan, jika kemudian menjadi master of none ini seolah tidak diharapkan, atau lebih tepatnya dianggap sebagai proses masing-masing individu dalam menggali passion yang terpendam cukup dalam…

…supaya bisa jadi ahli dalam merindukanmu.

Tapi tenang aja. Nggak perlu gupuh untuk berkecil hati dan rendah diri. Menjadi master of none itu sebetulnya nggak semenyedihkan itu, kok. Kemampuan yang setengah-setengah ini membuat kita layak menjadi pembantu umum ketika terlibat dalam kepanitiaan berlatih memahami banyak bidang di saat yang bersamaan. Tentu saja dengan kemampuan yang secukupnya.

Bisa melakukan banyak hal meski hanya setengah-setengah, justru bakal membantu kita untuk menjadi manusia mandiri. Misalnya, kalau mau ngasih kejutan ulang tahun ke pasangan, kita bisa bikin kuenya sendiri, dekor venue-nya sendiri, ngundang teman-temannya sendiri, bikin kado sendiri, hingga sebagai pengisi acara hiburannya sendiri. Jika kita ternyata lebih strong lagi, sekalian dokumentasi acaranya difoto-foto sendiri.

Sungguh, sebuah kedok multitalent yang membawa berkah karena hemat. Ya, hemat dan pelit memang beda tipis.

Seorang master of none, juga membantu kita melihat suatu hal dari berbagai perspektif. Meski tidak mendalam, namun punya pandangan yang lebih luas. Biasanya, orang-orang macam gini, dia enak dan nyaman diajak ngobrol banyak hal, tanpa kita merasa takut di-judge. Diajak ngomongin politik dunia sampai rumah makan enak dan murah, dia bakal nyambung-nyambung aja…

…terus ujug-ujug muncullah benih-benih baper yang bertepuk sebelah tangan.

Selain itu, menjadi master of none ini, juga memberikan sumbangsih untuk kehidupan kita supaya tidak lagi membosankan dan nggak punya tujuan jadi pengin bunuh diri. Kita jadi punya banyak alternatif kegiatan yang menggoda untuk dipelajari lagi dan lagi. Bukankah para motivator berkata bahwa hidup ini akan menyenangkan jika kita bisa mempelajari hal-hal baru setiap hari?

Tapi ujung-ujungnya, menjadi master of none atau master of master, nggak ada masalah. Yang terpenting, kita sanggup menjadi master dalam memenangkan hati Masnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: ahlimaster of nonemultitalentpendidikan indonesia
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

pendidikan, lulusan sarjana nganggur, sulit kerja.MOJOK.CO
Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

5 Desember 2025
guru honorer, pns.MOJOK.CO
Aktual

Kualitas Tenaga Pendidik Rendah: Jangan Salahkan Guru, tapi Benahi Sistemnya

25 November 2025
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dorong penerapan pendidikan inklusif untuk benahi sistem pendidikan di Indonesia MOJOK.CO
Kilas

Sistem Pendidikan Indonesia Harus Dibenahi: Selama Ini Fokus Seragam, Keunikan Anak Diabaikan

23 September 2025
smart tv, prabowo.MOJOK.CO
Mendalam

Pengadaan Smart TV di Sekolah, Borok Lama Kulit Baru: Saat Kesejahteraan Guru yang Diinginkan, tapi Malah TV yang Datang

15 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

6 Januari 2026
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan MOJOK.CO

Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan

7 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.