Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Makanan Higienis di Pesantren itu Buat Apa? Ada Aja, Udah Sujud Syukur Kita

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
16 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gara-gara video yang berisi santri di sebuah pesantren sedang menata piring viral, santri lalu dicap nggak peduli sama makanan higienis. Lha? Kan emang iya.

Nasib jadi orang yang pernah mondok, pertanyaan apapun soal pesantren kok ya selalu ditanyakan ke saya—apapun itu. Masih mending kalau tanyanya soal perkara haram, makruh, sunah, lha ini kebanyakan soal tradisi-tradisi pesantren yang aneh-aneh.

Iklan

Baru saja hal itu terulang lagi. Teman saya, sebut saja namanya Audian Laili, Redaktur Mojok, tiba-tiba kasih sebuah link video soal makanan yang disajikan di sebuah pondok pesantren. Dibarengi dengan kalimat mancing-mancing agar saya mau nulis soal itu. Salah satu hal yang ditawarkan agar saya tertarik nulis ya soal komentar-komentar netizen di video tersebut.

Saya buka link tersebut, dan taraaaa….

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh INFIA – Fact (@infia_fact) pada 13 Jul 2019 jam 10:53 PDT

Hm, saya tak melihat sesuatu yang istimewa dari video tersebut. Kamu mungkin juga sependapat dengan saya. Pun dengan komentar-komentar netizen di sana. Biasa aja. Bahkan saya heran, ini kenapa video kayak gini aja yang nonton dan komen banyak amat dah?

Sampai kemudian saya menemukan komentar ini: “Itu makanan kok diperlakukan kayak sampah tohh.”

(((diperlakukan kayak sampah)))

Tentu saja komentar tersebut langsung jadi kayak pelet yang dilempar di kolam lele. Kemruyuk. Tanpa ampun. Udah bener-bener kayak Royal Rumble di WWE. Semua langsung nyerang orang yang bikin pernyataan makanan-kok-diperlakukan-kayak-sampah itu. Saya? Ya cuma cengengas-cengeges aja.

Wajar saja saya kira ketika ada netizen yang merasa tersentil ketika membaca komentar tersebut. Apalagi jika netizen tersebut pernah jadi santri. Rasanya, sebagai sesama santri, ada semacam jiwa korsa yang akan menyembul di dalam dada kalau santri atau pesantren lain dikomentari hal-hal ngguatheli seperti itu.

Padahal toh, bisa jadi yang komentar emang nggak tahu lika-liku kehidupan santri. Jadi ketika melihat video tersebut, perspektifnya cuma terpentok pada durasi detik dan sempitnya ruang kamera dalam menangkap cerita.

Iklan

FYI aja nih, Mas atau Mbak yang komen.

Sebenarnya apa yang dilihat dari video itu justru merupakan bentuk penghormatan tertinggi seorang santri terhadap makanan. Terutama terhadap makanan sebanyak itu.

Soalnya kalau kegiatan itu terjadi di pesantren saya—berani taruhan saya, itu piring yang berisi makanan akan tersusun rapi di tempat yang sudah ditentukan: tanpa ada makanan yang tersisa sama sekali di atas piringnya.

Yaktul, kalau saya masih santri, saya jelas nggak tahan untuk ikut menggeser piring penuh makanan sambil mencomot satu komposisi makanan yang ada di atasnya. Satu kerupuk atau suwiran daging ayam misalnya. Mesti satu kerupuk atau satu suwiran daging ayam doang yang diambil, kalau sebanyak itu ya kenyang juga, Buos.

Satu hal yang hampir bisa saya pastikan—kegiatan santri menyusun makanan di video itu kayaknya bukan kegiatan rutin di pesantren tersebut. Soalnya terlalu mewah untuk ukuran pesantren makanan santri disajikan prasmanan layaknya rumah makan padang.

Paling banter, itu makanan memang disiapkan untuk tamu-tamu pesantren. Bisa jadi karena sedang ada acara khataman atau haul di pesantren tersebut.

Jadi, kalau melihat itu makanan di atas piring kok masih dalam keadaan utuh, selamat, dan tanpa “terluka” sekalipun ketika disusun. Maka bisa dipastikan, si santri sangat menghormati makanan tersebut. Lha gimana? Saking hormatnya, sampai nggak ada yang berani nilep je.

Lalu ada lagi komentar netizen lain yang menggelitik. Mempertanyakan soal higienis atau tidak makanan tersebut. Maklum, sebelum piring itu ditumpuk-tumpuk jadi piramida ala rumah makan padang, piring itu kan diseret-seret di lantai yang belum tentu bersih.

Pfft. Higienis? Kosakata dari galaksi mana tuh?

Maaf ya, Mas atau Mbak. Di pesantren, makanan bagi santri itu benar-benar nggak bisa dipatok pada parameter bersih atau tidak bersih, higienis atau tidak higienis. Bagi santri bisa makan aja sudah layak diganjar sujud syukur tiga hari tiga malam. Bisa makan tiga kali sehari itu bagi santri udah kayak tercium wangi-wangi bunga surga.

Lho memang di pesantren itu nggak disediakan makanan ya?

Ya tentu saja disediakan. Cuma ya itu, antrenya benar-benar bikin gila.

Bayangkan saja ratusan sampai ribuan santri makan pada waktu yang hampir bersamaan. Datang pada loket makan yang paling banter jumlahnya 4-5 (di pesantren saya malah cuma satu loket). Lalu si santri harus dikejar waktu karena bel sekolah bentar lagi berbunyi. Padahal setelahnya harus mandi pula. Mana kalau mau mandi pun juga antre, mau pipis antre, mau boker antre, bahkan mau antre pun ada antreannya lagi.

Dengan situasi seperti itu, maka wajar kalau santri akhirnya mengalami mutasi genetis secara alami. Mulut jadi begitu cepat mengunyah, tenggorokan jadi begitu lebar untuk memasok makanan masuk, gerak peristaltik jadi 100 kali lebih cepat dari manusia normal, lalu lambung pun berevolusi jadi kayak lambungnya orang-orang Saiya.

Bahkan konon, karena kebiasaan makan yang didesak waktu begitu sempit dalam keadaan perut keroncongan begitu, ada juga beberapa santri yang akhirnya mengalami evolusi seperti komodo. Bisa makan banyak bahkan tanpa perlu dikunyah—kadang tanpa perlu minum lagi. Yakin dah, kalau Profesor Charles Xavier alias Kepala Sekolah X-Men lihat, dikasih beasiswa LPDP itu bocah.

Jadi jelas, perkara higienis itu jelas tidak masuk list dalam kebutuhan santri. Bahkan kosakata itupun tidak pernah muncul dalam satu kali pun pelajaran kitab kuning yang diajarkan guru-guru di pesantren. Nggak pernah itu saya dengar, ketika ngaji lalu ada santri yang selo lalu tanya, “Kang, seberapa penting sih makanan higienis itu?”

Higienis atau tidak, pfft, itu jelas nggak bakal masuk hitungan bagi santri. Sebab hitungan pertama santri di pesantren soal makanan itu… ada yang bisa dimakan.

Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2019 oleh

Tags: makanan higienisPesantrensantri
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Tayangan Trans7 tentang pesantren memang salah kaprah. Tapi santri juga tetap perlu berbenah MOJOK.CO
Kabar

Trans7 Memang Salah Kaprah, Tapi Polemik Ini Bisa Jadi Momentum Santri untuk “Berbenah”

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

17 Juni 2026
Ableisme parodikan difabel di medsos. MOJOK.CO

Ableisme: Saat Konten “Plenger” di Medsos Mengantarkan Tawa Penonton tapi Dibayar dengan Trauma dan Depresi Teman Difabel

18 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026
Kirab pusaka malam 1 Suro di kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, tidak hanya upaya menjaga warisan budaya-tradisi turun-temurun. Tapi juga jadi penggerak ekonomi daerah MOJOK.CO

Nilai Lain Kirab Malam 1 Suro di Surakarta: Jadi Daya Tarik Lintas Zaman, Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Daerah Jateng

17 Juni 2026
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.