Saat saya memutuskan kuliah di Jogja, sebenarnya, bukan hanya perkara menimba ilmu, tapi juga perkara “lari dari rumah”.
Sekarang coba kau tanya ke kawan-kawanmu yang kuliah di Jogja, apa alasan mereka, dan apakah salah satunya adalah lari dari lingkungan perkawanan atau sosial yang kelewat kaku dan terkadang begitu feodal. Saya lumayan yakin mereka akan menjawab iya, karena kebanyakan yang tak pulang ke rumah, punya alasan “tak bisa apa-apa di rumah”.
Saya sendiri pun mengalami itu. Masa-masa sekolah saya menyenangkan, tapi ada juga memori-memori kelam dan hal-hal yang bikin saya hingga kini tak paham kenapa bisa terjadi. Seperti misal, saya harus mengalah demi tidak dicap egois saat ingin mengambil tendangan bebas saat sepak bola. Juga, melihat kawan dipukuli hanya karena dianggap “tidak menunjukkan unggah-ungguh”.
Kuliah di Jogja, bagi saya saat itu, adalah tiket kebebasan. Clean slate. Tidak ada yang mengenal saya, dan saya bebas mengekspresikan diri saya. Hal ini saya yakin juga dirasakan oleh ribuan mahasiswa lain, yang di rumah mungkin harus ada di rumah sebelum maghrib, dan keluar saat lampu jalan dimatikan adalah haram.
Itu semua, terlihat dari betapa ramainya kafe di Jogja, yang menurut saya tidak masuk akal.
3500 kafe di Jogja
Saya tak pernah merasa kagum atau merasa inferior saat kawan-kawan dari Jawa Timur atau yang mengemban ilmu di sana, cerita budaya cangkrukan mereka. Sekilas, dari cerita mereka, terlihat lebih raket (rapat) ketimbang apa yang kita lihat di Jogja. Tapi jujur saja, menurut saya di Jogja ini lebih gila.
Perkara kopi, di depan Jogja, menurut saya semua pemula. Per 2025, dilansir dari Kumparan, ada 3500 kafe di Jogja. Jauh lebih banyak ketimbang Solo, yang menurut data BPS 2023 dalam artikel Espos, hanya ada 297 kedai kopi. Mungkin sudah bertambah, tapi angkanya hampir tidak mungkin mendekati Kota Istimewa.
Angka sebesar itu tentu masuk akal. Bagi orang yang kuliah di Jogja, kopi adalah kunci. Dilansir dari Detik, ada 410 ribu lebih mahasiswa aktif di Yogyakarta per 2024. Artinya, ada ratusan ribu potensi pelanggan yang bisa digaet oleh 3500 kafe tadi.
Itu menjelaskan kenapa kafe yang bahkan terlihat tidak nyaman saja bisa punya begitu banyak pelanggan. Pada 2024 lalu, saya membuat liputan tentang Ngopling Asek, salah satu street coffee di Terban. Tempatnya sebenarnya nyaman, enak buat nongkrong. Cuma untuk pria berusia 30-an yang fisiknya tak prima, betis, paha, dan punggung saya meronta-ronta di situ. Tapi melihat pelanggan yang lain di situ, saya heran mereka beneran betah dari awal hingga kafe tersebut tutup.
Lalu, apa hubungannya dengan “lari dari rumah”?
Kuliah di Jogja adalah cara lain “lari dari rumah”
Sebagai salah satu orang yang kuliah di Jogja karena ingin “lari dari rumah”, saya langsung terhipnotis dan berenang di kafe-kafe di Jogja. Saya menghabiskan banyak waktu di sana, entah melakukan hal tak penting, pacaran, sok-sokan menulis, atau hanya menghabiskan kopi susu dengan rasa medioker tanpa tujuan. Hal ini jelas tak bisa saya lakukan di rumah.
Secara tak sadar, saya membawa kumpulan frustrasi yang mengendap dan mengerak dari dunia-dunia tak bermutu di tempat saya tumbuh, dan memecahnya pelan-pelan di malam-malam tak bermakna di kedai kopi.
Nongkrong terkadang memang cuman perkara membaur atau lifestyle saja. Tapi saya yakin, orang tidak akan butuh nongkrong jika mereka tidak sumpek dengan dunianya. Jika sudah lama di Jogja, ya pastinya mereka nongkrong karena ada kawannya. Tapi bagi mahasiswa baru, setidaknya saya dulu, nongkrong adalah sebuah pernyataan sikap saya yang sudah lepas dari kekangan rumah. Tak ada lagi wajib pulang sebelum jam 9 malam. Justru saya baru keluar jam segitu, dan saya merasa bebas. Itu semua saya dapat setelah kuliah di Jogja.
Saya tak bisa bilang itu baik atau buruk. Aturan ada dengan banyak alasan. Ketika saya kini sudah menikah dan punya anak, saya jadi paham kenapa aturan-aturan itu mengekang saya. Tapi jika memang banyak yang mau melawan, ya bebas. Toh, pada titik tertentu, mengurung manusia hanyalah membuat rasa ingin melawan makin kuat.
Tapi yang pasti, di kursi-kursi kafe Jogja yang kerasnya minta ampun itu, ada orang-orang yang merasakan kebebasan pertama kali. Ada yang baru merasakan di luar rumah jam 10 malam, ada yang akhirnya paham seperti apa rasanya pacaran. Dan, ada yang akhirnya meluruhkan kerak-kerak rasa frustrasi yang mengendap selama belasan tahun hidup dalam lingkungan sosial yang merantai mereka begitu erat.
Kuliah di Jogja, memberikan kebebasan, kenyamanan, dan kesempatan untuk menjadi versi diri yang ada dalam proyeksi. Dan cara paling mudah adalah, melihat dari kursi-kursi kafe di Jogja yang penuh sesak.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Kuliah di Jogja Adalah Perjalanan Hidup yang Paling Saya Syukuri dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN















