Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Alasan Kenapa Prabowo Tidak Jadi Ajak Pulang Habib Rizieq ke Indonesia

Redaksi oleh Redaksi
4 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Pertemuan Prabowo Subianto dan Amien Rais menemui Habib Rizieq Shihab dianggap belum memiliki efek penting untuk agenda Pilihan Presiden 2019. Tapi untuk Prabowo, bisa jadi ini adalah pertemuan yang sangat menentukan. Termasuk keputusannya untuk tidak membawa pulang Sang Imam.

Pertemuan antara Amien Rais, Prabowo Subianto, dan Habib Rizieq Shihab di Mekah (2/6) sekalian berangkat umroh mendapat respons macam-macam. Salah satu yang merespons cukup keras dari pertemuan ketiga tokoh itu adalah dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Iklan

Melalui Sekjen PSI, Raja Juli Antoni memaparkan bahwa pertemuan ketiga tokoh tersebut tidak punya dampak signifikan secara politik. Apalagi pertemuan itu juga tidak menghasilkan apa-apa meski Habib Rizieq sudah ketok palu direkomendasikan oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 sebagai calon presiden (capres) yang lebih dijagokan daripada Prabowo Subianto sendiri.

Menurut PSI, pertemuan tersebut baru akan punya pengaruh besar jika Amien Rais dan Prabowo mampu membawa pulang Habib Rizieq ke Indonesia. Sebab, salah satu yang dipertaruhkan dalam pertemuan itu adalah sekuat apa kemampuan PAN dan Gerindra (dalam hal ini diwakili oleh pembesarnya) untuk membawa Sang Imam dan menjaminnya pulang ke Tanah Air dengan selamat.

Kemampuan ini juga termasuk kemampuan bantuan perlindungan hukum dari Prabowo dan Amien Rais kepada Habib Rizieq dalam menghadapi perkara hukum yang masih menunggunya di Tanah Air.

Perlindungan hukum ini jelas akan penting, karena dengan begitu jamaah Habib Rizieq (yang diklaim berjuta-juta) akan semakin yakin bahwa hanya Prabowo dan Amien Rais yang bisa melawan rezim pemerintahan Jokowi saat ini. Tentu saja perlindungan hukum ini bukan berarti dengan adu kengototan atau demo berjilid-jilid, melainkan dengan menyediakan pengacara-pengacara terbaik untuk membuktikan di pengadilan bahwa Sang Imam memang tidak bersalah.

Sayangnya, setelah pertemuan tersebut, Habib Rizieq ternyata juga tidak “berhasil” dibawa pulang untuk menemui umatnya yang kangen menunggu berbulan-bulan. Menurut penerawangan Mojok Institute, ada dua alasan kemungkinan kenapa Sang Imam tidak pulang.

Alasan pertama, memang Habib Rizieq sendiri yang ogah pulang karena merasa Amien Rais dan Prabowo tidak bisa membantunya soal urusan hukum sama sekali di tanah air. Dan hal ini bisa dibilang jadi kerugian besar bagi Prabowo.

Lha ya jelas, ini artinya secara politik Habib Rizieq tidak sepenuhnya percaya kepada Prabowo. Atau kalaupun percaya dengan Prabowo, Habib Rizieq tidak yakin bahwa Prabowo adalah lawan yang seimbang untuk Jokowi.

Sebab, kalau Habib Rizieq yakin bahwa Prabowo begitu kuat untuk jadi lawan Jokowi, sudah barang tentu kepulangannya ke Indonesia akan dilakukan atau diagendakan sesegera mungkin karena yakin bersamanya ada tokoh-tokoh besar yang “mengawal”.

Konsekuensi dari citra gagalnya “melindungi” Habib Rizieq agar bisa pulang ke Indonesia jelas jadi preseden buruk bagi citra Prabowo sebagai capres yang punya dukungan suara dari jamaahnya Habib Rizieq.

Bagaimana mungkin seorang calon presiden pilihan para jamaah Habib Rizieq tidak bisa menyelamatkan Sang Imam dari cengkeraman rezim Jokowi? Kalau melawan Jokowi untuk menolong Sang Imam saja tidak mampu, bagaimana besok waktu Pilpres? Ini kan bakalan jadi citra yang kurang yahud di mata jamaah.

Kedua, Prabowo dan Amien Rais sendiri memang tidak ingin Sang Imam 212 pulang, karena takut dengan kepopulerannya.

Lha iya dong, hasil rekomendasi PA 212 memang tidak mengejutkan jika sampai keluar nama Habib Rizieq Shihab di urutan pertama. Hanya saja melengserkan nama Prabowo jelas mengindikasikan satu hal yang cukup jelas.

Iklan

Jamaah Habib Rizieq ternyata masih lebih percaya Sang Imam bisa turun langsung mengurusi permasalahan bangsa daripada diserahkan pada orang lain. “Orang lain” yang dalam hal ini adalah Prabowo Subianto. Dan “orang lain” di sini pun sifatnya opsional saja. Jadi kalau Habib Rizieq enggak bisa, baru deh “orang lain” itu didukung.

Di sisi lain kalau Habib Rizieq pulang, Prabowo tentu juga perlu berhitung kembali karena pernah punya pengalaman tidak mengenakkan menghadapi situasi seperti ini. Bisa jadi Prabowo merasa de javu dengan situasi Pilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 silam, sehingga perlu berhati-hati terhadap segala kemungkinan.

Ingat kan? Ketika itu Prabowo mati-matian ikut berkampanye untuk Jokowi pada Pilihan Gubernur Jakarta pada 2012 silam. Pada era itu, sama sekali tidak ada orang yang akan membayangkan bahwa Calon Gubernur dengan muka ndeso itu akan ikut bursa pemilihan presiden setahun setelahnya.

Siapa coba yang mengira? Dianggap sebatas sebagai petugas partai, eh malah merusak tatanan itung-itungan koalisi partai. Merengsek masuk jadi lawan secara tiba-tiba. Dan sudah begitu, eh kok ya ndilalah menang pula jadi Presiden beneran.

Mencoba memahami perasaan Prabowo, apa ya enggak ndongkol rasanya?

Dan potensi itu di mata Prabowo bisa jadi muncul juga dari sosok yang beliau temui bersama Amien Rais. Sehingga yang dibutuhkan untuk saat ini adalah jamaahnya saja. Orangnya? Sudah deh, biar di tanah suci saja sampai seterusnya juga enggak apa-apa.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2018 oleh

Tags: 212Amien RaisgerindraHabib RizieqjokowiPA 212panPartai Solidaritas IndonesiaPersaudaraan AlumniPrabowo Subiantopsiumroh
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO
Kabar

7 Alasan Mengapa Satu Tahun Masa Kepemimpinan Prabowo-Gibran Layak Diberi Nilai 3/10

20 Oktober 2025
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO
Kabar

Omon-Omon MBG 99 Persen Berhasil, Padahal Amburadul dari Hulu ke Hilir 

19 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.