Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kenapa Hidup Kucing Lebih Menyenangkan daripada Hidupmu?

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
17 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Enak betul si Kucing dimanja-manja, sementara kita cuma bisa memandang dan mengikuti maunya. Ih, dunia apa, sih, ini? Kok berporos di hidup kucing?

Di kantor Mojok, ada kucing liar yang secara teratur datang dan masuk. Biasanya, dia duduk di bawah meja, setelah berbulan-bulan lalu hobinya nongkrong di pinggir kolam ikan. Setiap ada kru yang mau makan—apalagi pakai lauk ayam—si kucing bakal mengeong-ngeong, lalu anteng setelah disodorkan tulang atau justru daging yang masih panas. Ah, jangankan daging, lah wong jajan semacam Chiki dan Taro saja dia doyan!

Sebagai manusia yang nggak berani-berani amat dengan kucing, saya justru sebenarnya jadi penasaran sama makhluk yang satu ini. Kenapa, sih, binatang yang suka rese karena hobi tiba-tiba melompat dan mencaplok makanan ini justru disayangi sedemikian rupa oleh sekian banyak orang?

Seorang teman saya memelihara 9 ekor kucing di rumahnya dan dia selalu menyebut keseluruhannya sebagai “anak-anaknya”. Tadi pagi, waktu chat sama saya, dia memilih menggunakan voice note sambil berkata, “Maaf, ya, aku nggak ngetik, soalnya lagi ngasih makan anak-anak.”

Saya yang cuma anak rantau dan sedang terkapar di atas kasur kosan pun hanya bisa mengangguk-angguk mendengarnya, membayangkan betapa hidup si kucing tadi jauh lebih enak daripada saya. Lah gimana nggak; mereka dibantu mendapatkan sarapan, sedangkan saya sendiri bahkan nggak kuat untuk pergi ke minimarket dan membeli air mineral.

Iya, iya, pikiran ini pun men-trigger kepala saya sendiri: kenapa teman saya tampak sangat memanjakan kucingnya, sih???

Mantan pacar saya saat SMA juga merupakan pencinta kucing. Setiap kali—literally setiap kali—ada kucing mendekat, ia akan membelai, lalu memanggilnya lembut, “Pus, pus…” meskipun ia tahu saya ketakutan setengah mati. Kalau kami sedang memegang makanan, kucing tadi bakal disodori sedikit, sembari ia berkata, “Di makanan kita tuh ada haknya kucing, tahu.”

Saya yang saat itu sedang ketakutan, sih, cuma diam saja, tapi di dalam hati sebenarnya sedikit gondok. Lah gimana, makanan yang tadi dia kasih itu, kan, abon yang baru saja saya beli!

Kelakuan kucing kian jelas saya amati setelah saya patah hati dan harus ngungsi ke rumah teman saya yang punya 9 kucing tadi. Kucing-kucing ini, entah maksudnya apa, sering sekali berusaha mencuri perhatian saya. Mereka melompat ke kasur saya dari jendela—iya, mereka ke luar dulu, manjat jendela, lalu masuk lagi—dan duduk santai di atas laptop saya. Mereka juga mengendus-endus teh hangat yang mau saya minum, lalu mengikuti saya dari kamar ke dapur, tak peduli saya sedikit bergidik karena ngeri.

Teman saya bilang kucingnya cute dan bersikap manis sekali, lalu mengelus-elus perutnya dengan sayang, sementara saya keheranan setengah mati: siapa, sih, sebenarnya kucing itu??? Mantra apa yang sudah dia tanamkan ke kepala teman saya sampai-sampai dia segitu dicintainya, sementara saya tampak begitu menyedihkan dan tercampakkan???

Dalam dunia sains, baru ada sedikit sekali penelitian khusus tentang kucing dan kelakuannya karena sikap mereka yang memang tak dapat ditebak: kadang bisa diatur, kadang manja, dan kadang malas-malas saja. Seorang peneliti malah berkata bahwa sebuah studi bakal jauh lebih mudah dilakukan jika objeknya adalah ikan, bukan kucing.

Namun, saya curiga: jangan-jangan keistimewaan kucing ini terhubung dengan sejarah spiritual dan misteri??? Jangan-jangan, selama ini, kucing memang merupakan cenayang profesional yang dikirim ke Bumi untuk mengacaukan otak manusia mengalihkan perasaan sayang manusia kepada dirinya???

Setidaknya, kecurigaan saya ini nggak kosong-kosong banget. Sambil berdoa supaya teman saya—dan mantan pacar saya—tidak teracuni oleh mantra-mantra “jahat” dari kucing, saya pun menemukan bahwa ke-cenayang-an kucing ini tampak dari berbagai fakta berikut.

Pertama, konon kucing menjadi makhluk yang disembah orang-orang pada masa Mesir kuno. Kabar ini mungkin sudah pernah kamu dengar sebelumnya, tapi—ayolah—kenapa bisa-bisanya kucing yang kecil, imut, dan lucu ini justru disembah???

Iklan

Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia dianggap sebagai perantara antara manusia dan dewa, tapi lihatlah dia sekarang: dia justru menjadikan manusia sebagai perantara antara penjual makanan enak dan mulutnya sendiri. Sadar tidak???

Kedua, kucing—terutama di Tiongkok dan Jepang—dianggap membawa hoki yang tinggi. Itulah sebabnya patung-patung kucing yang tangannya goyang-goyang itu kerap ditemui di etalase toko-toko yang dibuka di pinggir jalan.

Mungkin, dengan prinsip ini, teman saya tadi memelihara kucing beneran. Alih-alih memercayai kepercayaan “Banyak anak, banyak rezeki”, sepertinya dia lebih percaya “Banyak kucing, banyak rezeki”. Saya, sih, nggak tahu seberapa banyak rezeki yang dia dapatkan, tapi saya rasa, saya lebih sering membaca pesannya yang berbunyi: “Utangku ke kamu kubayar besok-besok lagi saja, ya, soalnya mau aku pakai untuk beli makanan anak-anak.”

Baiklah.

Ketiga, di tanah Eropa, kucing memiliki image sebagai makhluk perantara dunia orang mati dan orang hidup. Ia diyakini bisa menghidupkan yang mati dan membunuh yang hidup.

Eh, jangan protes dulu. Sebuah studi pernah menemukan fakta bahwa hidup kucing berkaitan dengan perilaku yang sama liarnya dengan macan tutul dan harimau Afrika. Nah, hewan-hewan ini dikenal dengan perilaku dominan negatif, yang kemudian membawa kita ke simpulan berikutnya bahwa…

…kucing-kucing kamu itu bisa saja memiliki niat untuk membunuhmu karena sikapnya yang impulsif, terutama saat sedang marah!!!

Di poin ini, saya terkejut beneran dan kepikiran sama teman saya yang tadi lagi ngasih makan kucing. Tapi dia barusan pasang Instagram Story dan selfie bareng kucing-kucingnya.

Jadi, yah, saya rasa kecurigaan saya soal ini bisa saya lanjutkan besok. Sebaiknya, sekarang saya bangkit dari kasur karena, hey, mau saya sakit seberat apa pun, toh saya tetap harus bangun dan bergerak sendiri—tidak seperti di hidup kucing yang kalau mau manja pasti bakal selalu dituruti.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: hidup kucingkucing manjamacan tutulmitospeliharaan
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
tuyul tak bisa curi atm dan m-banking.MOJOK.CO
Ragam

Menjawab Alasan Tuyul Tak Bisa Curi Uang Mesin ATM dan Kuras Saldo m-Banking dari Tinjauan Klenik dan Ilmiah

25 Mei 2024
Bentuk Jimat dalam Islam Kejawen dan Mitos-Mitos Spiritual Raja Jawa
Video

Bentuk Jimat dalam Islam Kejawen dan Mitos-Mitos Spiritual Raja Jawa

31 Oktober 2023
ilustrasi Weton Jadi Kambing Hitam Orang yang Lagi Ketemu Hari Sial mojok.co
Pojokan

Weton Jadi Kambing Hitam Orang yang Ketemu Hari Sial

25 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.