Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketika Kasus Prostitusi Mencuat, Kenapa Hanya Perempuan yang Diekspos?

Audian Laili oleh Audian Laili
7 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam standar moral masyarakat, jika ada kasus prostitusi mencuat, maka seolah-olah hanya perempuan—sebagai pemberi jasa—yang pantas untuk diberikan hukuman sosial dengan mengekspos identitas mereka.

Beberapa hari yang lalu, kita digegerkan dengan sebuah kasus prostitusi yang ternyata ada artis yang tersangkut di dalamnya. Berbagai media langsung mem-blow up kasus tersebut. Menjadi headline berita di mana-mana serta menjadi trending di berbagai sosial media. Sejak kasus tersebut mencuat, hanya dalam waktu sepersekian menit saja, sebuah akun gosip langsung menemukan siapakah si artis yang dimaksud. Siapakah artis yang tertangkap dan menerima sorotan dari berbagai kamera—meski sudah berusaha keras menutup wajahnya dengan bantal.

Tentu saja, ketika identitas si artis yang disebut-sebut sebagai pemberi jasa dalam prostitusi online tersebut dibeberkan dengan bermodal (((othak athik gathuk))) warna baju dan inisial, si artis ini langsung menerima berbagai cercaan dari masyarakat. Bahkan ketika identitas itu masih sekadar praduga. Media sosial pun menjadi sangat hiruk pikuk dan ramai-ramai memberikan komentar tentang…

…betapa tidak bermoralnya si artis yang rela menjajakan dirinya tersebut.

Hingga kita melupakan satu hal, bahwa prostitusi ini adalah sebuah bisnis. Dia tidak akan dapat berjalan tanpa permintaan. Seperti hukum ekonomi, tidak akan penawaran jika tidak ada permintaan. Si artis ataupun pekerja seks yang lain, tidak akan rela menjadi pemberi jasa, jika tidak ada permintaan dari lelaki-lelaki hidung belang yang sanggup membayar. Intinya, selama tidak ada permintaan pasar, tentu saja nggak ada yang rela-rela saja memberikan jasa dengan cara yang dianggap tidak bermoral bagi masyarakat itu.

Sayangnya, di berbagai pemberitaan, hanya identitas si pemberi jasa saja yang diungkap. Pemaparan identitas ini, ternyata tidak berlaku bagi lelaki hidung belang yang meminta. Yang disebut-sebut sanggup membayar hingga 80 juta tersebut.

Lantas, mengapa hukuman sosial hanya diberikan kepada perempuan saja? Apakah ini memang karena pemberitaan ini ramah bagi pageviews? Apalagi selain dia perempuan, ia juga berprofesi sebagai artis. Sungguh lebih menggiurkan lagi untuk dijadikan konten yang clickbait, bukan?

Hal ini bukan hanya terjadi sekali ini. Ia sudah terjadi berulang-ulang. Coba ingat-ingat, beberapa kasus prostitusi yang menyeret beberapa nama public figure dalam beberapa tahun belakang. Coba bandingkan, berapa banyak nama pemberi jasa yang disorot dan berapa banyak pihak yang meminta jasa tersebut, yang identitasnya dapat terungkap?

Lalu, coba ingat-ingat lagi, bagaimana judge dan respon yang diberikan oleh masyarakat pada si pemberi jasa ini?

Perempuan dan dunia bisnis memang seakan-akan telah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Pasalnya, perempuan dianggap sebagai makhluk yang diciptakan indah, cantik, dan memesona. Anggapan tentang citra perempuan ini menjadi kesempatan yang tidak dilepaskan dengan mudah oleh ‘kaum kapitalis’ untuk pengembangan usaha mereka. Lihat saja, bagaimana media memberitakan kasus kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu. Hanya untuk mendorong lebih banyak pageviews, bisa-bisanya sebuah media memberikan judul, “Inilah potret cantik pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat…” Ya, mereka memilih mengeksploitasi ‘potret cantik’ sang pramugari yang menjadi korban. Demi sebuah konten!

Hehehe, selamat datang di Indonesia. Selamat datang di tengah masyarakat yang dengan mudahnya mempublikasikan identitas pekerja seks untuk dihujat dan dijadikan guyonan. Namun, bagi pelaku yang melakukan permintaan, namanya cukup disamarkan. Toh, dipublikasikan pun, tidak akan ‘terlalu’ mencuri perhatian. Nggak bakal laku di pasaran. Jadi buat apa~

Suka maupun tidak suka, nyatanya seks bebas memang terjadi di mana-mana. Namun yang menjadi tidak adil dalam hal ini, ketika pikiran kita telah membentuk stigma bahwa: perempuan selalu salah dalam hal ini. Padahal dalam banyak kasus, justru perempuan yang menjadi korban.

Belum lagi ada beberapa media yang dengan begitu mudahnya, langsung men-judge bahwa si artis melakukan hal tersebut demi gaya hidup glamour dan sosialita. Tunggu dulu, kok bisa dengan mudahnya mengungkapkan hal tersebut, dijadikan judul dalam sebuah berita lagi. Apakah yang menuliskan berita tersebut sudah betul-betul menanyakan pada si artis yang bersangkutan? Apakah penghasilannya yang bekerja dari prostitusi itu betul-betul untuk foya-foya? Apakah ini hanyalah sebuah prasangka? Yang dengan mudahnya dilontarkan untuk membentuk persepsi kuat dalam masyarakat bahwa: yang dia lakukan jahat betul-betul tidak bermoral.

Dalam standar moral masyarakat, tentu saja persepsi bahwa perilaku tersebut tidak elok semakin kuat. Melakukan seks di luar nikah atau tidak dengan pasangan sah saja, sudah dianggap tidak bermoral. Apalagi jika hal ini dilakukan untuk sebuah kehidupan foya-foya. Sungguh, betapa tidak berakhlaknya orang-orang yang terjebak di dalamnya.

Iklan

Meski mengubah persepsi bukanlah hal yang mudah. Namun, semoga kasus ini dapat menjadi pengingat kita bersama. Bahwa dalam sebuah kasus prostitusi, tidak hanya pemberi jasa yang terlibat di dalamnya. Ia adalah sebuah bisnis, yang ada karena permintaan. Tidak adil rasanya, jika hukuman sosial hanya kita berikan pada salah satu pihak saja.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: eksploitasi perempuanperempuanProstitusiProstitusi ArtisProstitusi Online
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Sanggrahan Jogja: Dulu Kampung Prostitusi, Kini Jadi Kampung Takwa
Video

Sanggrahan Jogja: Dulu Kampung Prostitusi, Kini Jadi Kampung Wisata

15 November 2024
Warung di atas makam Kembang Kuning Surabaya. MOJOK.CO
Ragam

Menjemput Rezeki di Antara Pusara Kembang Kuning Surabaya

1 November 2024
Cerita ‘Anjelo’ di Jaksel: Dapat 4 Juta Semalam Hasil Antar-Jemput PSK, Tapi Dituduh jadi Simpanan Tante-tante oleh Tetangga.MOJOK.CO
Ragam

Desa Dukuhseti di Pati Pernah Jadi Kampung Pelacuran dan Simpanan Pejabat, Dulu Perempuan Diibaratkan Sepetak Sawah

13 Juni 2024
musala sarkem Jogja.MOJOK.CO
Catatan

Musala di Tengah Sarkem Jogja, Takmirnya Rela Jadi Makmum “Anak Kecil” dan Saksi Pekerja Prostitusi Mengaji

13 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.