Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jangan Protes Edy Rahmayadi Nyalahin Wartawan Kalau Kita Masih Suka Nyalahin Meja Tiap Kepentok

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
26 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kebiasaan salah-menyalahkan agaknya sudah mendarah daging di kalangan kita, termasuk apa yang dilontarkan Edy Rahmayadi terkait kegagalan timnas Indonesia.

Kegagalan timnas Indonesia di laga Piala AFF 2018 menyisakan kesan cukup besar. Pasalnya, ketidakberhasilan ini diikuti oleh pernyataan kontroversial dari Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi, yaitu:

“Wartawannya yang harus baik. Kalau wartawannya baik, nanti timnasnya baik.”

Sontak saja, jawaban Edy mendapat banyak reaksi. Beberapa wartawan menuliskan artikel permintaan maaf yang tentu saja berbau satire karena—please, deh—apa coba hubungannya wartawan yang menulis berita dengan performa serta keberhasilan timnas? Apakah maksud Pak Edy ini wartawan harus menulis segala kabar baik—bahkan mengubah fakta yang buruk menjadi berita yang baik? Atau, jangan-jangan, maksud Pak Edy Rahmayadi ini, para wartawan harus menuliskan bagian tambahan di bawah berita yang dilaporkannya, yaitu mengenai ‘amanat yang bisa diambil’, persis seperti pelajaran bahasa Indonesia semasa SD dulu?

Entah apa maksud dari Pak Edy sebenarnya. Tapi yang jelas, semua olok-olok dan kritik yang ditujukan kepada pejabat yang juga merangkap sebagai Gubernur Sumatera Utara ini menggambarkan sebuah fakta menyedihkan yang—sayangnya—telah lama kita anut sejak kecil, sadar atau tidak sadar. Apakah itu?

Mari kita sebut hal ini sebagai…

…‘kebiasaan menyalahkan’.

*JENG JENG JENG*

Waktu kecil, saya suka sekali memanjat pohon. Sekalinya jatuh gara-gara kurang fokus mencari pegangan, orang tua saya membantu saya berdiri sambil menepuk batang pohonnya dengan kesal dan berkata, “Pohonnya nakal, ya, bikin Adek jatuh!”

Dulu, adik saya yang paling kecil hobinya lari-lari dari kenyataan dengan kecepatan tak terkira sewaktu ia baru bisa berjalan. Namanya juga anak-anak; arah geraknya kerap tak terprediksi dan terkontrol. Alhasil, suatu hari, ada benjutan merah di jidat si adik, lengkap dengan suara tangis yang membahana. Dia baru saja kepentok meja.

Sebagai kakak yang niatnya sok heroik, saya men-cep-cep-kan adik sembari memukul-mukul meja dan berkata, “Ini mejanya nakal, sih, ya! Nakal!”

Bertahun-tahun kemudian, di sebuah teknologi bernama Instagram, saya menemukan konten berisi Do’s dan Don’ts terkait hal-hal seputar pengasuhan anak. Usut punya usut, kebiasaan menyalahkan yang sudah saya alami sejak kecil itu masuk ke kolom Don’ts, Saudara-saudara. Ya, selama bertahun-tahun, saya ternyata berada di bawah sistem parenting yang tidak dianjurkan dan justru menurunkan hal tersebut ke adik saya sendiri!

Bayangkan, betapa hancurnya hati saya saat itu saat mengetahui bahwa luka-luka di kaki saya ini semua adalah karena keteledoran saya, bukan karena pohon, motor, meja, atau bahkan tembok dan pagar rumah. Semua salah saya!!!!!11!!1!!

Baiklah, sebelum semakin lebay, mari kita fokus lagi ke pembahasan kita. Ehm.

Iklan

Kebiasaan menyalahkan ini bukan hanya ditemukan dalam parenting. Kalau mau cermat, banyak sekali permainan blaming yang tak kalah kocaknya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Edy Rahmayadi.

Dalam kasus perselingkuhan, misalnya, hal ini nyatanya sering terjadi. Jika salah satu dari pasangan selingkuh, kritik pedas tak jarang malah muncul menyerang pihak yang diselingkuhi, dikata-katai sebagai orang yang terlalu sibuk dan asyik sendiri, atau tak bisa diajak ketemu setiap hari. Padahal, hadeeeeeh, dasarnya aja itu pacarnya tukang ngerayu paling nyebahi sedunia!

Kasus bercanda yang dilontarkan Prabowo juga bisa menjadi contoh. Dalam suatu kesempatan, ia menyebutkan orang-orang dengan ‘tampang Boyolali’ tak bisa masuk ke hotel-hotel karena tidak memiliki tampang orang kaya.

“Saya yakin, kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? Mungkin kalian diusir karena tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang kalian, ya, tampang orang Boyolali ini.”

Meski kita pahami betul bahwa Prabowo hanya bercanda (yang diikuti tawa bahagia dari audiensnya), ada sebuah implikasi kebiasaan menyalahkan di sana: seseorang dilarang masuk hotel karena tampangnya.

Padahal, apa sih hubungannya masuk hotel dengan tampang??? Memangnya, petugas hotel di Boyolali itu Pengamat Tampang Internasional dan hanya mau bersalaman dengan orang-orang yang ber-cosplay jadi pejabat DPR yang jelas-jelas kaya, gitu???

Pertanyaan yang sama juga bisa kita lontarkan ke pernyataan-pernyataan aneh lainnya. Apa coba salahnya meja yang cuma diam seharian di sana dan tanpa sengaja ditabrak anak kecil??? Kenapa malah mereka yang disalahkan, padahal tugas mereka memang cuma untuk dipajang dan diam, serta jadi tempat menaruh barang-barang—termasuk barang-barang si anak kecil itu??? Kenapa malah dipukul???

Coba bayangkan kalau meja-meja (atau pohon, lantai, polisi tidur, motor, tembok, dan lain sebagainya) itu punya nyawa. Apa mereka nggak bakal depresi disalah-salahin terus? Hmmm?

Jadi, Saudara-saudara, selain mengolok-olok dan menyerang, kasus pernyataan Edy Rahmayadi yang out of the box itu rasa-rasanya patut juga kita pertimbangkan sebagai produk dari budaya kita sendiri. Menyalah-nyalahkan sesuatu, seperti yang dilakukan Lord Edy, jelas tidak baik, apalagi kalau nggak nyambung dan nggak makes sense.

Lagian, kalau memang nggak nyambung, mbok wis to, disimpen sendiri aja. Kalau nggak nyambung tapi dipaksa nyambung, apa nggak malah menyakiti hati sendiri?

Eh.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2018 oleh

Tags: edy rahmayadikebiasaan menyalahkanketua pssiparentingtampang boyolali
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO
Ragam

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO
Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

5 Januari 2026
Indonesia krisis fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Apresiasi untuk Ayah yang Antar Anak ke Sekolah Hanyalah Perayaan Simbolis, Pemerintah Belum Selesaikan Masalah Utama

15 Juli 2025
Hasto Wardoyo batasi penjualan miras di Yogyakarta karena kasus penusukan santri krapyak. MOJOK.CO
Kilas

Gerombolan Pemuda Mabuk Tusuk Santri Krapyak, Hasto Minta Penjualan Miras Dibatasi

26 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.