Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama

Siti Rohilah oleh Siti Rohilah
5 Januari 2026
A A
Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama MOJOK.CO

Ilustrasi Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kepada orang tua dan siapa pun yang sedang menghadapi titik terendah di awal tahun ini, mari kita saling menguatkan. Tahun 2026 bukan sekadar angka di kalender, melainkan sebuah lembaran baru untuk kita menuliskan doa-doa yang lebih kuat. 

Menjadi orang tua adalah tentang belajar melepaskan kendali. Setidaknya itu yang saya pelajari sejak 2014, saat saya memutuskan menikah dengan lelaki pilihan saya. 

Iklan

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara asli Betawi, saya terbiasa dengan keramaian. Namun, sunyinya ruang tunggu operasi di rumah sakit perlahan mengubah cara saya memandang dunia.

Penantian saya akan buah hati tidaklah instan. Saya sempat keguguran, lalu tiga bulan kemudian hamil lagi di luar dugaan. Demi menjaga janin ini, saya tinggalkan pekerjaan saya di industri makanan. Saya rela bed rest total sampai tujuh bulan. Semua saya lakukan demi satu nama: Alesha Khansa Azzahwa.

Alesha lahir sempurna sebelum diagnosis membuat dunia runtuh seketika

Alesha lahir dengan sempurna di mata saya pada 10 Januari 2016. Namun, memasuki bulan kedua, ada sesuatu yang mengusik nurani saya sebagai seorang ibu. 

Saya sering memperhatikan bayi-bayi lain; di usia sekecil itu, mata mereka biasanya sudah mulai “berbicara” mengikuti gerak benda atau setidaknya terpaku pada wajah ibunya saat disusui.

Tapi Alesha tidak. Matanya seolah menatap ke kejauhan yang tidak bisa saya jangkau. Rasa cemas mulai menghantui, tapi orang-orang di sekitar meyakinkan bahwa itu hanya perasaan saya saja. 

Namun, insting ibu tidak bisa dibohongi. Suatu malam, dengan tangan gemetar, saya mengambil sebuah senter kecil. Saya arahkan cahayanya pelan-pelan ke mata Alesha. 

Saat itulah, dunia saya seolah runtuh seketika. Di balik bening matanya, ada selaput putih serupa cairan susu yang menggenang di kedua lensa matanya. Bukan hanya sebelah, tapi keduanya. Detik itu juga, saya tahu bahwa hidup kami takkan lagi sama.

Perjalanan medis kami dimulai dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Puncaknya terjadi di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta ketika Alesha dikelilingi oleh sepuluh dokter. Vonis itu jatuh seperti palu hakim: aniridia (tidak memiliki iris mata) dan katarak bawaan akibat virus rubella.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Dunia saya runtuh. Dokter bilang, iris mata bisa dibeli di luar negeri dengan harga fantastis. Kami keluarga sederhana, dari mana uang sebanyak itu? 

Tahun 2024 dan 2025 adalah tahun yang mencekam

Saya pingsan setelah menangis sejadi-jadinya di kamar. Tapi hidup harus berlanjut. Saya mulai berdagang kecil-kecilan, sambil meneteskan air kembang teleng setiap malam Jumat sebagai ikhtiar batin.

Bertahun-tahun kami bertahan dengan kacamata, sampai akhirnya pandemi Covid 19 berlalu dan kondisi mata Alesha memburuk. Tekanan bola matanya tinggi. Dia terkena glaukoma.

Tahun 2024 dan 2025 menjadi tahun yang paling mencekam dalam hidup kami. Bayangkan, anak sekecil itu harus melewati rentetan operasi:

Iklan
  • Agustus 2024: Operasi katarak mata kiri.
  • Januari 2025: Operasi katarak mata kanan yang penuh drama karena jahitan sulit terserap.
  • Agustus 2025: Operasi glaukoma pertama untuk membuat saluran mata.
  • Oktober 2025: Operasi keempat yang membuat saya merasa gagal jadi ibu.

Saya ingat momen di operasi keempat itu. Alesha histeris. Dia harus dipasang lensa medis dalam kondisi sadar, sementara tubuh mungilnya dipegangi beberapa dokter. Suara teriakannya menggema di ruangan, menghujam tepat di ulu hati saya. 

Banyak orang tua menyimpan lelah yang sama tapi punya binar juang yang menyala

Di sepanjang jalan pulang, saya hanya bisa menciumi tangannya dan meminta maaf, seolah semua rasa sakit itu adalah kesalahan saya. Saya merasa hancur, merasa menjadi ibu yang gagal karena tak mampu menggantikan rasa sakitnya. “Seandainya mataku bisa ku pindahkan padamu, Nak,” bisik saya setiap malam.

Ujian seolah tak berhenti. Tepat sebelum operasi ketiga Alesha, ibunda tercinta saya meninggal dunia. Ibu yang selama ini jadi pendukung utama pergi di saat saya paling butuh kekuatan. 

Kini, setiap kali ke rumah sakit, tidak ada lagi doa dari ibu yang menanti di depan pintu. Dunia terasa hampa, tapi melihat Alesha yang tetap bertahan, saya dipaksa untuk kembali tegak sendirian.

Di lorong-lorong rumah sakit yang dingin, saya menyadari bahwa saya tidak sendirian. Saya melihat banyak orang tua lain yang wajahnya menyimpan lelah yang sama, tetapi matanya memancarkan binar juang yang tak pernah padam. 

Ada ayah yang rela tidur di bangku kayu demi biaya operasi anaknya, dan ibu yang tetap tersenyum meski hatinya sedang remuk. Pemandangan itu menyadarkan saya, bahwa ujian ini adalah cara Tuhan menaikkan kelas kesabaran hamba-Nya.

Doa yang tak lagi ambisius di tahun 2026

Desember 2025 ini, saat orang lain bersiap merayakan tahun baru, kami kembali berhadapan dengan jarum suntik. Operasi kelima sudah di depan mata.

Dulu, doa saya ambisius: “Ya Allah, sembuhkanlah total mata anakku.”

Sekarang, doa saya lebih pasrah: “Ya Allah, berikan kesabaran dan keikhlasan di hatiku dan hati anakku, lebih dari biasanya.”

Memasuki tahun 2026 ini, kita semua mungkin membawa beban yang berbeda-beda. Krisis ekonomi, masalah keluarga, atau kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik seringkali membuat kita ingin menyerah. 

Namun, persoalan berat bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Anak-anak spesial seperti Alesha mengajarkan kita bahwa harapan itu harus dijemput, bukan sekadar ditunggu. Mereka tidak mengeluh dengan keterbatasannya, maka kenapa kita yang dewasa harus terus menggerutu?

Kita mungkin lelah, tapi kita tidak boleh kalah. Genggam lah tangan orang-orang tersayang mu, bisikkan doa di setiap langkah, karena kekuatan cinta seringkali bekerja melampaui logika medis maupun hitungan manusia.

Alesha adalah guru kehidupan untuk orang tua

Ekonomi kami kembang kempis, mental kami diuji sampai batas terakhir. Tapi Alesha adalah guru kehidupan bagi saya. Dari dia, saya belajar bahwa berdiri di kaki sendiri saat tak ada penopang adalah sebuah kekuatan.

Januari 2026 nanti, kami akan mengulang kisah yang sama di ruang operasi. Entah apa yang Tuhan siapkan di ujung sana. Saya hanya percaya satu hal: Tuhan tidak memberikan beban di luar batas kemampuan hamba-Nya. 

Walaupun keluhan saya sering kali lebih banyak daripada rasa syukur, saya tetap bertahan. Karena bagi saya dan Alesha, setiap pagi yang datang dengan sedikit cahaya di matanya adalah sebuah keajaiban yang harus diperjuangkan.

Penulis: Siti Rohilah
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: anakesaimataorang tuaparentingpilihan redaksi
Siti Rohilah

Siti Rohilah

Siti Rohilah, seorang Ibu rumah tangga yang kini mendedikasikan seluruh waktunya untuk mendampingi perjuangan medis putri tercintanya. Memiliki ketertarikan pada isu pengasuhan anak berkebutuhan khusus dan gemar menulis catatan harian sebagai cara untuk memeluk harapan.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.