Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Iya, Iya, Naik Eskalator Emang Harusnya Diem Aja

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
10 Juli 2019
A A
eskalator
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ribut-ribut perkara naik eskalator MRT tahu-tahu berujung dengan perbandingan kampanye di Jepang. Hadeh, PR kita aja belum selesai, Kak.

Entah dari serial Detective Conan atau apa, saya pernah mendengar bahwa aturan naik eskalator sebenarnya sudah ada, setidaknya di Jepang. Pengguna yang lebih suka naik eskalator dengan damai, tenang, aman, dan nyaman, diminta untuk berdiri di sisi kiri, sedangkan pengguna yang grasa-grusu dan butuh berjalan cepat dipersilakan menggunakan sisi sebelah kanan.

Aturan ini berlaku di seluruh Jepang, kecuali di Kansai, Osaka, yang memberlakukan sebaliknya; sisi kanan digunakan oleh pengguna eskalator yang ingin berdiri diam.

Munculnya MRT  di Jakarta juga menyoroti penggunaan eskalatornya. Setidaknya, bahkan sejak sebelum ada MRT, stasiun-stasiun bereskalator di Jakarta juga telah menerapkan peraturan yang sama seperti di Jepang: Pengguna yang ingin diam bisa berdiri di sisi kiri, sementara pengguna yang ingin berjalan/mendahului bisa menggunakan sisi kanan.

Meski sebelumnya peraturan ini tak pernah jadi peraturan tertulis, aturan naik eskalator sesungguhnya telah digalakkan. Pada tahun 2017, misalnya, petugas Stasiun Tanah Abang bahkan rela berjaga di dekat eskalator dengan pengeras suara, menegur pengguna yang “ melanggar” aturan.

Naik Eskalator dan Diem Aja: Memangnya Melanggar Peraturan?

Protes netizen perkara naik eskalator tidak muncul sekali-dua kali. Sejak MRT diluncurkan, tulisan-tulisan soal pengguna eskalator yang “menyalahi” aturan muncul di banyak tempat. Terakhir, di Twitter, sebuah kritik dilontarkan dengan cukup pedas level 15 oleh akun @cehpr.

JESUS apa hubungannya??? Gue kan permasalahin orang2 yang GAK BACA RAMBU TERTULIS DI MRT YANG DIBUAT OLEH MRT ITU SENDIRI? WHO TF CARES ABT WHAT HAPPENED IN JAPAN???? THE RULES WERE STATED FUCKIN CLEARLY THERE!!! YOU TELL ME, WHOOOOO????

— ❤️ (@puruputss_) July 9, 2019

Saat di-scroll ke bawah—wow, seperti layaknya cuitan kontroversial di negara +62 ini, tentu ada pihak yang membalas, kemudian dibalas lagi, untuk dibalas lagi, lalu dibalas lagi; atau dengan kata lain: sebuah “peperangan” dimulai.

Selagi pengguna Twitter ini mengeluhkan kelakuan orang-orang yang naik eskalator tanpa memedulikan peraturan, ada saja orang yang menyebutkan bahwa “seharusnya” memang begitulah naik eskalator: Berhenti, diam, dan tidak terburu-buru.

Atau, dengan kata lain: Ya nggak apa-apa kali nggak sesuai peraturan yang penting (kayaknya) lebih aman dan menguntungkan!!!1!!!1!!!!!

*JENG JENG JENG*

Dari banyak sumber, termasuk sumber berita yang dicantumkan si pihak kontra terhadap cuitan pertama, disebutkan bahwa naik eskalator dan diem aja justru menimbulkan keuntungan yang lebih besar.

Mula-mula, penelitian memang menunjukkan bahwa berjalan di eskalator bakal menghabiskan waktu sekitar 26 detik, jauh lebih cepat daripada berdiam diri selama 40 detik. Namun, waktu antre yang dibutuhkan ternyata jauh lebih cepat jika kedua sisi digunakan untuk berdiri—tanpa berjalan cepat.

Saat 40 persen orang berjalan di atas eskalator, waktu rata-rata pengguna eskalator adalah 138 detik (untuk pengguna di sisi kiri) dan 46 detik (pengguna di sisi kanan). Namun, saat kedua sisi digunakan untuk berdiri saja, waktu rata-rata keseluruhan orang menjadi 59 detik—meski lebih lambat 13 detik bagi para pejalan, jelas angka ini meningkat sebanyak 79 detik.

Iklan

Selain itu, panjang antrean pun cenderung lebih cepat berkurang, yaitu mencapai 24 orang dari angka 73 orang.

Tapi, tapi, tapi—masalahnya: orang-orang yang ngotot bilang “Nggak apa-apa kali kedua sisi dipakai buat berdiri doang!” ini memangnya nggak tahu rasanya lagi keburu-buru dan malah ketemu orang yang seenaknya berdiri di tengah-tengah eskalator, ya???

Bawa-Bawa Kampanye Naik Eskalator di Jepang

Gara-gara protes soal aturan naik eskalator MRT ini muncul, banyak pihak yang mengaitkan dengan peraturan yang (((sempat))) diberlakukan di Jepang. Sebuah video dan artikel yang mengabarkan kampanye di Jepang soal penggunaan eskalator di mana para penggunanya berdiri di kedua sisi pun disebarkan.

Konon, demi menghindari pengguna eskalator yang suka berjalan terlampau cepat sampai-sampai membahayakan pengguna lainnya, Jepang berusaha mengajak warganya mengubah kebiasaan naik eskalator. Seluruh pengguna diminta berdiri diam di atas eskalator, sementara mereka yang terburu-buru disarankan naik tangga biasa.

Apakah peraturan ini permanen digunakan?

Nyatanya, kampanye ini dilakukan Desember 2018 lalu hingga Februari 2019. Kampanye serupa juga pernah dilakukan Jepang pada tahun 2016 dan 2017, meski aturan umumnya masih tetap berlaku sama.

Tapi lagi-lagi, permasalahannya cuma satu: itu kan di Jepang—apa hubungannya sama kita-kita yang di Indonesia???

Oh, iya, saya lupa. Mungkin, bagi sebagian orang, asal sudah diterapkan di luar negeri, maka itu adalah aturan yang paling baik dan benar, ya? Lagian, kalau memang yang paling baik adalah naik eskalator dengan berdiri diam di kedua sisi, Indonesia menang, dong.

Maksud saya, lah wong aturan yang “berdiri di sisi kiri, berjalan di sisi kanan” aja kita nggak lulus-lulus dari awal, kok.

Hadeh, nggak usah jauh-jauh “studi banding” pakai artikel dari Jepang, Kak, kalau gitu.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2019 oleh

Tags: aturanJalan KakiJepangMRTnaik eskalator
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL
Catatan

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Hidup anak perempuan pertama dibebankan ekspektasi orang tua

Anak Perempuan Pertama di Keluarga Korbankan Kebebasan Masa Muda demi Penuhi Tuntutan Jadi Orang Tua untuk Adik, padahal “Sengsara” Sendirian

3 Mei 2026
1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa MOJOK.CO

1.000 Kamera Dipasang untuk Intai Macan Tutul Jawa

2 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.