Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
12 Januari 2026
A A
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Yang menjadi subjek tulisan ini adalah istri saya tercinta. Dia lulusan S2 salah satu kampus swasta di Jogja. Enggan menjadi dosen, setelah menolak tawaran lanjut S3, dia memutuskan untuk bekerja di Surabaya. Yah, sudah sejak lama dia memang pengin kerja di Kota Pahlawan.

Kamu tanya apa alasannya? Ya karena duit. Mau alasan apa lagi? Selain itu, memang, ada beberapa alasan yang terlalu minor untuk menjadi bahasan di sini. Ya seperti dia lebih cocok dengan kuliner Surabaya yang gurih-asin ketimbang Jogja manis. Ya, kan, terlalu minor untuk jadi bahasan di sini.

Gaji dosen yang menyedihkan

Jujur saja, saya dulu pengin banget jadi dosen. Setelah lulus S1, saya sudah ancang-ancang mau ambil S2. Bahkan saya sudah membayar lalu mengambil formulir. Tinggal mengisi dan mengumpulkannya kembali. Namun, satu dan lain hal, saya tidak jadi ambil S2 dan mengubur niat awal.

Saat itu, saya nggak memikirkan soal besaran gaji. Namanya rasa ingin, kadang bisa membutakan mata. Ini jelas bahaya karena menunjukkan kalau saya nggak punya perencanaan finansial yang matang. Nah, beberapa tahun kemudian, setelah mengobrol dengan istri, saya bersyukur kala itu batal memburu status dosen.

Mari kita bicara angka. Yah, supaya lebih konkret saja.

Salah satu teman kuliah istri saya, memutuskan untuk menjadi dosen. Saat itu 2015, kalau saya tidak salah ingat. Dia menerima gaji pokok sekitar, anggap saja Rp3 juta rupiah. Untuk ukuran kerja di Jogja, di 2015, terlihat sangat lumayan. Lantas, bagaimana sekarang?

Kita bicara 2025 saja karena 2026 baru banget jalan dan belum bisa menjadi pembanding. Nah, di 2025, teman istri saya ini mendapat gaji pokok, sekitar, Rp4 juta. Benar. Sejak 2015, hingga 2025, artinya ada 10 tahun jarak di sana, gaji dosen teman istri saya hanya naik Rp1 juta.

Saya nggak tahu soal tunjangan dan teman-temannya. Mungkin, tunjangan dosen itu besar sehingga gaji pokok Rp4 juta, di Jogja, sudah terasa cukup. Tolong infonya kalau pembaca tahu.

Baca juga: Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

Mending ke Surabaya

Setelah tahu temannya hanya mendapat Rp3 juta di 2015 sebagai dosen, istri saya mantab untuk hijrah ke Surabaya. Di sana, dia akan mengajar anak SD, di sebuah yayasan internasional. Istri saya akan menerima gaji sekitar Rp5 juta di 2015. Hanya untuk mengajar anak SD, bukan mahasiswa seperti dosen.

Iya, saya tahu, agak sedikit naif kalau kita membandingkan gaji Jogja dan Surabaya. Namun, yang menjadi pressing point saya adalah gaji dosen yang begitu menyedihkan. Apalagi saya mendengar pekerjaan dosen tidak hanya mengajar, tapi membuat penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di kepala saya, gaji dosen itu, minimal Rp10 juta. Yang membayar siapa? Ya pemerintah. Mengingat beratnya pekerjaan yang mereka jinjing, nominal tersebut baru masuk akal. Nanti, di belakangnya, ada guru dengan gaji minimal Rp6 juta, guru honorer minimal dapat gaji Rp4 juta. Nah, kalau gini kan, masa depan pendidikan agak terang.

Baca halaman selanjutnya: Suramnya dunia pendidikan Indonesia.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2026 oleh

Tags: Dosengaji dosengaji guru sdJogjas2S3sekolah sdSurabaya
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO
Sekolahan

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO
Esai

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO
Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Deni mahasiswa berprestasi dari UGM berkat puisi. MOJOK.CO

Balas Budi ke Ibu yang Jual Cincin Berharga lewat Ratusan Puisi hingga Diterima di UGM Berkat Segudang Prestasi

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.