Saya tergelitik setelah membaca tulisan dari Mas Marselinus Eligius Kurniawan Dua di Terminal Mojok. Katanya Marsel, Honda Scoopy itu motor bobrok. Penjualan motor ini terbilang tinggi semata karena Honda punya seni menjual yang mumpuni. Sebagai pengguna Scoopy, saya jadi bimbang.
Jadi, sudah agak lama saya menggunakan Honda Scoopy berganti-gantian dengan Honda Vario 160. Kalau sekarang, istri saya yang lebih sering menggunakan Scoopy. Saya sendiri menggunakan motor yang memang rada aneh ini di jalanan Jogja dan Surabaya. Selama itu pula, sebetulnya saya merasakan kegelisahan Mas Marsel.
Honda Scoopy itu lincah, tapi tenaga loyo
Saya tidak punya kriteria khusus kalau soal memilih motor. Sejak dulu, intinya irit dan perawatannya mudah. Semua itu semata supaya bisa hemat saja. Nah, saya sendiri merasa Honda Scoopy sudah memenuhi dua kriteria tersebut.
Namun, setelah berganti ke Vario 160, saya mengamini kegelisahan Mas Marsel. Scoopy menggunakan mesin 110 cc eSP. Mesin eSP memang membuat motor retro ini jadi irit bensin. Sudah begitu, mempertimbangkan bodinya yang kecil-ramping, ia jadi enak untuk manuver.
Sayangnya, mesin 110 eSp membuat Honda Scoopy jadi loyo. Akselerasinya lamban dan tarikan bawah terasa berat. Bahkan, respons gas sering membuat saya harus sangat sabar. Ini belum kalau menghadapi tanjakan. Maklum, di daerah Nanggulan, Kulon Progo, tanjakan sudah menjadi pemandangan biasa.
Kalau mau menjelajahi Nanggulan, saya harus ganti pakai Vario 160. Karena kalau memaksa pakai Scoopy, mesinnya pasti meraung dan menderita. Padahal, jalan santai pakai motor retro ini enak. Sayang, ia sangat loyo.
Baca halaman selanjutnya: Bikin kecewa konsumen setia.














