Honda menjadikan konsumen sebagai objek
Saya meminjam sub-judul di atas dari tulisan Mas Marsel. Dia menulis begini:
“Masalah terbesar Honda Scoopy bukan pada satu-dua kekurangan teknis. Melainkan pada filosofi produknya. Honda seolah menganggap konsumen Indonesia tidak butuh motor yang benar-benar mumpuni. Honda hanya menganggap bahwa cukup motor yang terlihat bagus dan “Honda”.”
Lalu, dia menulis lagi begini:
“Scoopy adalah bukti bahwa Honda terlalu percaya diri dengan nama besar mereka. Mereka tahu motor ini akan tetap laku meski spesifikasinya medioker. Akibatnya, inovasi berhenti, kualitas stagnan, dan konsumen dipaksa puas dengan standar rendah.”
Saya agak setuju dengan opini Mas Marsel. Tapi saya berkaca dari peristiwa yang menimpa Vario 160 generasi awal. Tak lain dan tak bukan, adalah soal rangka enhanced Smart Architecture Frame (eSAF). Banyak kasus terjadi, rangka Honda patah dan berkarat. Jujur saja, sebagai konsumen setia Honda, saya kecewa.
Keluarga saya adalah keluarga Honda. Kami setia sejak Honda C-70 atau Honda Pitung, Honda CB, Astrea, Astrea Grand, Supra X, Supra X 125, Vario 110, Vario 125, Honda Scoopy, dan terakhir Vario 160. Argumen Mas Marcel jadi benar karena konsumen jadi semata objek.
Kami akan tetap membeli karena label “Honda”. Dan jujur saja, kenyataan itu menyedihkan.
Honda Scoopy sebagai kemenangan sebuah branding
Honda Scoopy yang sekarang mewarnai jalanan Indonesia tampil dengan warna yang menyenangkan. Kalem di mata dengan desain unik. Namun, ternyata itu semua tidak dibarengi dengan kemampuan mesin yang seharusnya menjadi nyawa sebuah kendaraan.
Hal itu terjadi karena kemenangan sebuah branding. Sejak zaman dulu, orang kalau bicara roda dua, merujuk ke “Honda”, padahal beli motor Yamaha. Sama seperti kalau ngomong pasta gigi, menyebutnya “Pepsodent”.
Sekarang, seperti kata Mas Marsel, pabrikan asal Jepang itu mau melempar motor yang “kayak apa terserah mereka” pasti tetap laku. Asal, memasang tampilan yang memukau dengan iklan-iklan menarik. Orang Indonesia, pada kenyataannya, memang banyak yang masih mementingkan tampilan.
Oleh sebab itu, Honda Scoopy akan terus bertahan. Beda perkara dengan Suzuki, misalnya. Ia tidak mementingkan tampilan, tapi mesin. Makanya, banyak bengkel resmi Suzuki yang tutup karena nggak laku. Motor mereka saja jarang rusak. Meski memang, banyak yang meledek Suzuki yang gagal bikin kendaraan tampan sesuai selera pasar.
Pada akhirnya, Honda Scoopy dan generasi selanjutnya akan terus laku. Masih banyak yang gemar memasang foto di media sosial sekadar untuk pamer. Kepemilikan roda dua tidak untuk manfaatnya sebagai alat transportasi. Ya nggak papa, sih. Cuma, sebagai konsumen setia Honda, kok rasanya sedih, ya.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menyiksa Honda Scoopy di Jalanan Jogja dan Surabaya dan pengalaman menyiksa lainnya di rubrik POJOKAN.














